Home Blog

Relikui Jarak: Menggauli Rindu dan Merindukan Cinta

26

Puisi-puisi dalam buku Relikui Jarak menyuarakan isi hati setiap manusia dengan apik, sekaligus memperkaya kosa kata dan pengetahuan pembacanya dengan cara yang menyenangkan.

Judul:Relikui Jarak
Penulis:Arco Transept
Penerbit:Basa Basi
Cetakan:Cetakan Pertama, April 2019
Tebal:116 halaman; 14x20cm
ISBN:978-602-5783-97-5

 

Cover Buku Kumpulan Puisi Relikui Jarak
Rum, kenangan adalah negeri yang larut di kubang air.
Menulis adalah terapi.
Sepertinya kalimat itu sudah tak asing lagi di benak kita semua. Banyak dari penulis, sebut saja Bamby Cahyadi, Kang Maman, dan Ayu Utami, menganggap menulis adalah bagian dari terapi bagi diri mereka sendiri. Sebuah karya pun lahir dari tangan andal mereka seperti Restoran Cepat Saji, Re:, dan Trilogi Parasit Lajang yang meninggalkan jejak pemikiran para penulisnya di benak pembaca.

Lalu, bagaimana menuliskan isi hati secara estetis? Alih-alih karya yang membekas di benak pembaca, karya malah menjadi racauan belaka. Saya jadi treingat komentar salah satu penyair pada sebuah ajang menulis daring, Katahati. “Tolong bedakan antara puisi dan racauan Instagram.” Penyair tersebut bernama Arco Transept. Karya terbarunya, Relikui Jarak, yang terbit dua tahun lalu baru saja saya lahap habis dalam kurun waktu dua hari.

Apakah kumpulan puisi dalam buku ini berhasil live up to Arco’s words? Baca terus artikel  ini, ya.

Relikui Jarak: No Distance between Old and New
Puisi Akhir Pekan yang menjadi salah satu favorit saya dalan buku Relikui Jarak.

Dalam buku yang berisi lebih dari 100 puisi ini, Arco tak sungkan untuk berkolaborasi dengan bahasa lama dan kekinian.

Dalam puisi Akhir Pekan, Arco berhasil menyandingkan kata “tongsis” dan Instagram menjadi sebuah puisi yang kritis nan estetis, sementara LDR menyuarakan rindu yang tak berujung saat harus terpisah oleh rentang jarak dan waktu.

“kita tahu rindu itu bernama hujan

Menyerang saat musim LDR tiba.” – Musim LDR (2017)

Knowledge Warehouse is the Key

Gudang pengetahuan adalah kunci ketika menganggit karya apapun, termasuk puisi. Senja dan keindahan alam tak melulu menjadi sumber inspirasi bagi penyair ketika meracik puisi-puisinnya.

Perkara konflik rumah tangga seperti tangis bayi pun ia rengkuh menjadi sebuah puisi yang menyentuh. Bahkan, ia menggugat status stagnan dalam sebuah karya puisi.

“Apakah kita tak bisa menulis kesepian dengan bahasa baru;

Dari erangan istri yang datang bulan,

Dari tangis bayi yang minta susu,

Dari keresahan upah yang tertunda.” – Sajak Bujang (2017)

Baca juga: Seni Membangun Cerita

Logan, tokoh fiksional dalam cerita pahlawan super Marvel, pun tak luput dari sumber inspirasi untuk menyuarakan kehampaan.

“Dia tak bisa menyentuh ingatan tentang perempuan yang pernah menjadi cahaya dalam sunyian…

Hanya ada aroma adamantium yang tak lagi mencium darah,..” – Logan (2017)

Puisi Bukan Sekadar Permainan Bunyi

Setelah membaca beberapa puisi dalam Relikui Jarak, saya tersadar: Puisi lebih dari sekadar permainan kata dan rima. Puisi adalah salah satu kanal untuk menambah wawasan dengan cara yang lebih menyenangkan.

Saya teringat mengenyit saat membaca kata Po-lin-fong pada puisi Kita, Luka Duka Kota. Po-lin-fong adalah sebutan untuk kota Palembang pada abad-abad lampau. Ini kali pertama saya mengetahui tentang Po-lin-Fong. Salah satu cukilan sejarah kampung halaman Arco menjadi media untuk menyuarakan kegelisahan akan sejarah negeri yang mulai tergerus arus modernisasi. Warga yang tinggal pun rentan kehilangan jati diri.

“Aku kian asing di kota ini

Seperti Po-lin-fong tersamar…

Sejarah adalah luka

yang mengobati dirinya sendiri

dan kita adalah mata pisau

yang membuat luka duka baru.” – Kita, Luka Duka Kota (2017)

Bahkan, bagi teman-teman yang belum sepenuhnya sadar ketika Tragedi 1998 terjadi, Aroma Hio (2017) dan Kamar Kosong (2018) bisa menjadi perkenalan singkat akan kerusuhan berbasis ras yang tak pernah tuntas dibahas.

Baca Juga: Tafsir

Waktu berlalu. Zaman berubah. Sejarah berulang. Manusia lupa. Penyair menulis.
Selalu Waktu Lalu
Sebab ingatan takpernah berlangsung lama.

Relikui Jarak adalah kumpulan puisi Arco kedua yang saya baca. Di Dera Deru Kedai Kuala adalah buku pertama Arco yang terbit dua tahun lalu, berisi tentang kegelisahan yang sama. Kegelisahan Arco akan kampung halaman dan negeri yang mulai kehilangan ke-orisinalannya. Untungnya, Arco tak pernah hilang asa dalam mempekerjakan daya kreatifnya untuk terus mengingatkan kita akan sejarah yang begitu beragam, bahkan kelam. Kedua buku tesebut juga menyuarakan kerinduan Arco untuk menemukan tempat pulang setelah sekian lama melanglang buana di Ibukota dan Daerah Istimewa. Dua kota yang tak luput dari arus perubahan zaman.

Namun kepiawaian Arco dalam meramu kata, gudang pengetahuan Arco yang luas, dan keterbukaan diri penyair akan kebaruan dalam menganggit puisi berhasilkan melahirkan beratus-ratus karya yang segar. Sebagai pembaca saya tak pernah disergap rasa bosan membaca kata demi kata yang mengalir dengan lincah pada setiap lembar karya Arco.

Saya selalu menanti karya-karya Arco, penyair yang kerap merasa terasing dan gemar memeluk sepi di kota-kota yang ia singgahi.

Tentang Penyair
Foto Penyair Arco Transept
Foto Penyair Arco Transept

Arco Transept, lahir 15 September 1984. Berdarah Jawa dan Sunda. Freelancer sebagai Editor. Puisinya pernah terbit di surat kabar dan online. Setelah itu puisinya pernah dicetak di beberapa buku antologi puisi bersama seperti “Akulah Damai” (BNPT, 2017), Antologi Puisi Indonesia 2017 (Badan Bahasa, 2017), dll. Buku puisinya Protokol Hujan (Indiebook Corner, 2016), dan Didera Deru Kedai Kuala (Tareshi Publisher, 2017). Aktif sebagai salah satu redaksi di jurnal sastra online lokometoeks.com.

Sumber: Relikui Jarak, 2019.

Gie: Trilogi Narasi

Pemandangan Taman Prasasti tempat Soe Hok Gie dimakamkan

Minggu Pagi Gie

Minggu pagi ini aku bangun di dalam bungkusan kain. Aroma tanah basah menabrak indra penciuman dan gelap gulita menyergap penglihatan. Kupejamkan mata. Mencoba mengingat serangkaian peristiwa yang membawaku ke tempat ini.

Pemandangan dari pemakaman Gie

Aku hanya ingin merayakan ulang tahun yang ke 27 di Semeru. “Titip janda-janda gue di Jakarta ya,” ujarku kepada Rudy sebelum pergi. Tawanya pecah. Karibku ini tahu aku selalu sial dengan gadis-gadis. Ayah mereka tak pernah mengizinkan mereka berhubungan denganku. Para bapak takut anak perempuannya akan lekas menjadi janda jika bersuamikan orang yang berani menentang pemerintah sepertiku.

12 Desember 1969, aku berangkat dari Gambir.

Melewati Istana Presiden yang putih bersih. Akan tetapi, jangan terlena dengan warna suci itu. Kebenaran cuma ada di langit dan dunia hanyalah palsu, palsu. Janji kemanusiaan yang luhur, yang menjangkau kepada demokrasi dan keadilan sosial, hanya berujung pada tragedi. Yang Mulia hanya gemar berpesta pora dengan istri-istrinya, sementara jutaan rakyat melarat. Aku jadi teringat pada pemakan kulit mangga yang kujumpai dua kilometer dari istana. Ah, alangkah bangga hati telah memberikan Rp. 2,50 padanya. Padahal aku cuma punya Rp. 2,65 saja.

Baca juga: Secuil Kisah Di Mahameru

Cukup lama aku merenung. Saat tersadar, langit telah hitam lesu. Aku dan rombongan pun sudah tiba di Malang. Kami segera bersiap. Mengurus administrasi dan mulai mendaki. Aku tak terlalu ingat dengan rinci perjalanan. Hanya hujan yang terus-menerus dan kabut kelabu.

Bahkan hingga sehari menjelang ulang tahunku, 16 Desember, cuaca masih buruk. Namun, pendakian berlanjut. Saat kami tengah melakukan perjalanan ke puncak, aku mendengar suara petir bergemuruh disusul dengan reruntuhan batu pasir. Angin yang berderu deru membawa aroma busuk yang menyusahkanku bernapas.

Untuk beberapa saat aku bertahan sebelum akhirnya aku kehilangan pandangan. Semuannya gelap. Saat kesadaranku kembali, aku sudah berada di sini, di balik balutan kain ini. Apa yang telah terjadi? Tahun berapakah ini? Karena sayup-sayup kudengar suara perempuan cekikikan berkata, “Aku rela berdansa sembari memeluk tiang listrik. Asalkan diiringi musik dangdut.”

***

Sebuah Reuni

Statu malaikat yang terdapat pada tempat pemakaman GiePada sore yang mendung, aku bersujud di atas batu nisanku. Padahal, yang kuinginkan hanyalah menapakkan kaki di Mahameru. Aku segera bersimpuh sambil menunggu kedatangan teman-temanku.

“Itu si pembunuh,” terdengar suara seorang yang sepertinya stranger itu.

Herman oh Herman. Kau datang menjengukku rupa-rupanya.

Herman, karibku. Yang sudah risking your life dan memberikan pernapasan buatan pada detik-detik terakhirku. Enak sekali mereka menuduhmu.

Baca juga: Mencari Hukum

Sepertinya benar yang pernah dibilang filsuf Yunani itu yah, Man. Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tetapi mati muda, dan tersial adalah umur tua. Lihatlah dirimu yang sudah penuh dengan uban. Tergopoh dengan tongkat menuju makam. Bahkan hingga kaki-kakimu patah dan stroke menghantam, mereka masih mempersalahkan dirimu yang gagal menyelamatkanku dan Idhan. Edan memang, tapi nggak usah diambil pusing, Man.

Oh iya, hadiah Lebaran-Natal buat orang-orang DPR-GR kemarin gimana? Segala lipstick, cermin, jarum dan benang sudah sampai ke dia orang? Mewah ya, hidup mereka. Aku penasaran seandainya saat itu aku memutuskan untuk menerima lamaran mereka, untuk menjadi anggota Dewan, bagaimana nasibku sekarang, ya? Apakah aku akan berhenti gelisah dan urung pergi mendaki Semeru? Apakah jasadku akan terbaring di bawah situ?

Man, kok sendirian? Pada kemana Katoppo, Rudy, dan Abdurachman? Kok mereka nggak datang? Kalian semua masih pada akur, kan? Yuk kita ngobrol di sekitaran makam. Aku kangen.

***

Iman dan Pengharapan Seorang Pahlawan

Statu malaikat yang terdapat pada tempat pemakaman GieIman, pengharapan dan kasih. Menurut Paulus, iman adalah yang utama karena mengarahkan kita kepada Tuhan. Sementara dua yang terakhir hanya membawa manusia pada kesempurnaan diri.

Namun, Prof. Beerling pernah mengatakan seseorang hanya dapat hidup selama masih punya harapan-harapan.

Apakah ini penyebab kematianku?

Aku pergi di tengah kegelisahan karena rekan-rekan yang dulu berjuang bersamaku akhirnya terbuai oleh kemewahan. Dapat cicilan ringan dan aneka tunjangan, sementara banyak tanah rakyat dirampas di daerah-daerah.

Baca juga: Lembaran Rindu dalam Secangkir Kenangan

Lagi-lagi, aku kembali terperosok pada lingkaran kekecewaan yang sama. Dan harus berjuang seorang diri.

Yah, aku pernah dengar sayup-sayup, di antara kegelapan dan ketidaksadaran, abangku Arif berkata, “kamu tidak sendirian (memperjuangkan semua ini).”

Tapi sampai kapan tragedi ini harus berulang? Karena setelah hampir 50 tahun aku berpulang, keadaan masih tetap sama. Kebebasan bersuara dibungkam, UU ITE diberlakukan, dan ah… perempuan masih sangat memusingkan baju dan kecantikan.

Mungkin aku bukan pahlawan seperti yang selalu kalian kenang-kenangkan. Aku masih butuh harapan dan mendamba kesempurnaan. Kesempurnaan demokrasi.

Saat aku merasa pesimis dan tanpa harapan, semangat perjuanganku padam. Jasadku kini terbaring di bawah batu nisan, sementara jiwaku tertunduk meredam kegelisahan.

 

Jakarta, Januari 2018 – Juli 2019

***

Bukan Perawan Maria

35

Nama saya Maria, laksana nama seorang perawan yang melahirkan anak Allah ke dunia. Namun, saya bukan perawan. Saya pernah tidur dengan beberapa pria.

Saya memang melakukannya di luar ikatan suci. Tanpa restu Sang Ilahi. Sejujurnya, saya tidak meromantisisme keperawanan dan cinta. Pengalaman pertama saya tidak melibatkan seseorang yang saya cinta.

Ibu Pertiwi yang tak pernah lelah menghidupi anak-anaknya

Bagi saya persetubuhan adalah bentuk pemberdayaan diri. Persetubuhan menghidupkan kembali kenangan akan pegunungan yang menghasilkan air kehidupan. Persetubuhan membangkitkan ingatan akan kehangatan kawah tempat anak manusia pernah ditempa hingga siap menghadapi dunia. Persetubuhan melahirkan pemahaman bahwa ada yang adi pada tubuh perempuan.

Sayang! Sepertinya Ayah tak paham tentang hal ini saat ia meninggalkan Ibu. Ia pergi begitu saja demi wanita yang lebih muda tanpa barut kelahiran. Janji suci penuh cinta kasih yang pernah Ayah ucapkan kepada Ibu telah menjelma  sumpah serapah Ayah dan tetes air mata Ibu.

Itulah pemahaman yang telah terpatri dalam benak saya tentang hubungan asmara dan pernikahan. Sungguh, saya tak ingin terlibat di dalamnya. Saya sibukkan diri dengan setumpuk ambisi. Menjadi juara kelas semasa sekolah dan meraih gelar summa cum laude semasa kuliah. Kini, saya tengah asyik mendaki gunung-gunung nan tinggi dan puncak tertinggi tangga korporasi.

Sebagai pendaki saya paham, pada posisi yang lebih tinggi persediaan udara cenderung menipis. Hembusan angin pun begitu gesit. Setumpuk pekerjaan kantor telah menyita hampir seluruh waktu saya. Tak banyak waktu tersisa untuk beristirahat apalagi sekedar berkencan. Kalaupun ada, pria yang sedang saya kencani akan perlahan menghilang, untuk digantikan oleh pria lain yang akhirnya pergi juga tak lama kemudian.

Gunjingan rekan sekantor pun mulai berhembus. Sebagian dari mereka mengira kalau saya hanya belum menemukan pasangan yang cocok. Bahkan, ada juga yang justru merasa iba. “Dia hanya korban perceraian orang tua,” gumam salah seorang rekan saat saya melintas di belakang meja kerjanya.

Akan tetapi, saya malah lebih serinng berganti pria daripada tas wanita. Jadi, tak jarang juga yang mengecap saya sebagai wanita sundal yang gemar tidur dengan pria yang tak hendak saya nikahi.

Saya abaikan semua itu. Tujuan saya hanya satu: mampu hidup tanpa bergantung secara finansial kepada siapa pun, apalagi kepada suami. Saya tak ingin mengulang masa lalu Ibu. Melepaskan kemapanan demi mengurus suami. Saat Ayah berpaling, Ibu harus bekerja hingga larut hanya untuk menyambung hidup. Bagi saya, hidup masih berlanjut tanpa bersuami, akan tetapi tidak demikian jika tak berduit.

Untuk sekian lama saya berhasil berpegang teguh pada prinsip itu. Namun saat sosok itu datang, sesuatu menyergap saya. Dan saya hanya bisa gelagapan.

***

Namanya Ruben. Tempat duduk kami yang saling berhadapan satu sama lain, memaksa kami untuk saling berbincang. Awalnya, pembicaraan kami hanya seputar isu yang memenuhi headline berita.

Ketika kampanye pemilihan presiden sedang berlangsung, kami sangat getol membahas isu terkait peristiwa itu. Meragukan janji-janji salah satu kandidat yang sempat melakuan pelanggaran HAM pada beberapa orde silam. Saat hasil perhitungan suara diumumkan, cara kandidat tersebut menunjukkan kekecewaannya dinilai tak lapang dada. Hal itu pun menjadi topik yang hangat untuk diperbincangkan.

“Sekarang, orang berlomba untuk terlihat penting. Bukan cuma pejabat, tetapi juga anak kantor,” ucap saya yang memang sedang lelah dengan gosip yang beredar.

“Padahal menjadi orang baik lebih penting,” balasnya.

“Ebet Kadarusman?”

“Tau Salam Canda juga? Memang udah lahir?” Ia bertanya sembari sedikit mengejek. Saya hanya tertawa.

“Jadi kangen acara itu. Menyoroti kehidupan orang-orang yang memang berjasa menolong warga sekitarnya. Secara tak langsung menginspirasi penonton untuk berbuat hal serupa. Tak seperti acara belakangan ini yang hanya seputar gosip kehidupan pribadi artis yang tak jauh dari pamer barang branded dan mobil keren. Seolah hal itu adalah penting,” ujarnya.

Saya tak pernah menyangka bahwa sosok yang terkenal pendiam ini sedang berbicara panjang lebar. Saya pun hanya membalas ucapannya dengan singkat, “Jaman sudah edan.”

“Seedan gagasan Bapak’e yang sempat berniat rujuk (dengan mantan istrinya) supaya dianngap layak menjabat Presiden. Nggak habis pikir aku, Mar. Demi menjadi Presiden, istri atau mantan istri pun dijadikan alat. Dia mungkin nggak memiliki anak perempuan. Jadi, tak perlu takut kualat kalau kejadian serupa menimpa anak perempuannya, tapi setidaknya dia punya anak dan ibu. Apakah itu pandangannya terhadap perempuan yang telah melahirkan dia atau anaknya?”

Saya menatap Ruben lekat. Tak mampu berkata-kata. Perlahan, saya mulai mengagumi jalan pemikirannya.

Sejak itu kami menjadi lebih sering bercakap-cakap. Bahkan, pembicaraan kami berlanjut hingga sesi makan malam yang terus berulang. Kami pun mulai berbagi pengalaman. Ternyata kami memiliki zodiak yang sama, Virgo.

Baca juga: The Vi(r)gorous Duo

Kebanyakan Virgo memang cenderung pendiam di awal perkenalan. Seperti Ruben. Namun, seorang Virgo akan membuka diri saat sudah merasa nyaman dengan lawan bicaranya. Seperti saat itu, ketika ia mulai bercerita tentang rasa kagum dan hormat kepada ibunya yang telah membesarkan Ruben seorang diri setelah kepergian mendiang suami.

“Apakah itu pandangannya terhadap perempuan yang telah melahirkan dia atau anaknya?” Ucapan Ruben kembali terngiang di antara telinga.

“Makan,” suaranya membuyarkan lamunan. Ia tengah menyendok makanan ke piring saya. Seketika, ada sesuatu yang berdesir dalam diri saya. Sesuatu yang menyuguhkan rasa teduh, tetapi juga menghadirkan ngilu. Saya hanya bisa membisu hampir di sepanjang sisa malam, sementara ia masih mengisi keheningan dengan menyanjung ibunya.

“Ini mamaku,” ujarnya sembari menunjukkan foto ibunya yang menurut hemat saya mengingatkan saya akan Carrie Fisher versi Indonesia.

“Mamamu anggun seperti pemeran Princess Leia. Pantes kamu sayang banget. Andaikan mamamu tak secantik itu, rasa sayangmu akan tetap sama?” Ia tersedak mendengar ucapan saya.

“Jangan samakan aku dengan papamu, Mar.”

“Aku serius penasaran, Ben. Kalau misalnya setelah melahirkan nanti istrimu nggak selangsing dulu. Kamu masih akan setia?”

Saya bisa merasakan sorot matanya yang tajam tengah menghujam saya.

“Aku bukan papamu, Mar. Justru kamu yang mulai menjadi seperti papamu!” Saya tak begitu paham maksud ucapannya. Saya bahkan tak ingat pernah menceritakan tentang Ayah kepadanya. Yang saya tahu dengan pasti, kalimat yang diucapkan dengan nada tinggi itu mengakhiri pertemuan dan kedekatan kami.

***

Saya memang sengaja mencibir ucapannya. Keakraban ini sejujurnya mulai meresahkan. Saya tak ingin terperosok ke dalam jurang yang sama jika suatu saat Ruben memutuskan untuk pergi. Maka saya berusaha lari dari perasaan yang ganjil ini. Mencibir ucapan Ruben adalah langkah awal saya sebelum akhirnya saya pindah ke kantor baru.

Strategi semacam itu memang berhasil menjauhkan Ruben dari saya, tetapi dirinya tak pernah benar-benar hilang dari daftar pemikiran. Saya tak mampu menghapusnya, sekalipun benak saya telah penuh oleh ingatan akan masa lalu dan pekerjaan di kantor baru.

Jangan terbawa emosi. Jangan sampai mengulang masa lalu Ibu, saya membatin.

Kedua pernyataan itu tengah asyik berseteru ketika sebuah pesan Whatsapp saya terima. Tak disangka nasib mujur masih sedikit memihak saya. Seorang kawan mengajak saya untuk mengunjungi Gunung Papandayan pada akhir pekan. Tanpa berpikir panjang, saya menerima ajakannya.

Saya memang ingin melarikan diri sesaat. Jauh dari sosok yang belakangan ini meresahkan hati dan pikiran. Jauh dari hiruk pikuk kehidupan urban yang sarat kenangan kelam dan gunjingan orang sekitar.

***

Sungguh kontras dengan suasana di Papandayan. Selama pendakian, kehangatan sinar matahari senantiasa menyertai kami. Guratan sinarnya yang tengah menerpa dinding kawah, memijarkan kilau keemasan yang memesona mata. Angin lembah yang sejuk dengan sabar membasuh peluh. Sesekali, suara letupan terdengar. Memaparkan rindu akan Ruben yang masih tersimpan.

Gas Sulfatara yang terbentuk di Kawah Papandayan

Saya mendekati tempat letupan itu berasal. Sebuah kawah terbentang laksana rahim tempat jabang bayi pernah menetap. Beberapa ceruk mengeluarkan gas sulfatara yang bermanfaat untuk kesehatan diri dan keperluan industri. Kepulan gas itu serupa tali pusar yang menjaga kelangsungan hidup janin. Betapa adi dan wigati sesungguhnya tubuh perempuan ini.

Namun, Ayah tak pernah menyadarinya. Pemahamannya akan tubuh perempuan terhalang kabut egoisme yang hanya mementingkan kepuasannya sendiri.

Seperti suasana pendakian ini. Kawanan kabut perlahan menutupi pemandangan kawah. Lembaran kelabu itu menyuguhkan cuplikan saat Ayah berjalan meninggalkan kami sembari memeluk mesra wanita itu. Sementara lembaran lain menghadirkan tatapan Ruben yang tengah menghujam saya.

Ruben benar. Saya menjelma seperti Ayah dan kandidat presiden yang telah menyia-nyiakan dan memperalat pasangannya.

Kebiasaan saya berganti pasangan adalah wujud dari egoisme pribadi saya. Masa lalu dan penderitaan Ibu saya jadikan dalih untuk memusatkan hidup pada kenyamanan materi dan kepuasan syahwat semata, tanpa mengacuhkan perasaan mereka yang tengah dekat dengan saya. Bahkan saat Ruben memasuki kehidupan saya, ia juga harus mencicipi pahitnya masa silam itu. Simpati berubah menjadi celaan, seperti yang telah saya lakukan kepadanya pada pertemuan terakhir kami.

Kasih yang saya rasakan terhadap Ruben akhirnya tertutup oleh sikap saya yang sangat egois. Saya tak mau menanggung susah dan sedih kalau cinta ternyata tak terbalaskan atau Ruben beranjak pergi. Ironisnya, ia sungguh telah beranjak pergi. Saya yang mengusirnya. Dan keakraban yang telah terjalin pun kini menjelma nisan. Seperti hamparan batang cantigi yang memenuhi kawasan Hutan Mati di hadapan saya ini.

Baca juga: Meniti Jejak Alexa di Anjani

Saya pernah membaca tentang Hutan Mati dari artikel yang tersebar online. Sejarah terbentuknya sungguh suram. Letusan Gunung Papandayan telah membakar habis sejumlah desa dan menewaskan ribuan jiwa. Menyisakan ratusan batang pohon cantigi yang nampak gersang, namun tetap kokoh menjulang. Alat penopang bagi para pendaki saat lelah menghadang.

Batang cantigi yang kokoh di kompleks Hutan Mati

Saya tengah bersandar pada salah satu batang cantigi ketika perasaan kerdil menghampiri. Sungguh, saya ini adalah makhluk yang sangat lemah. Tak seperti batang cantigi yang kuat ataupun Ibu yang begitu tegar dalam menghadapi bala asmara dan kehidupan. Jangankan untuk berterus terang kepada sosok yang saya cinta, menghubunginya saja kini saya segan. Kasih itu telah terkubur pada liang terdalam kenangan. Meninggalkan hinaan pada seseorang yang paling saya kasihi.

***

Tak terasa matahari akan segera beranjak. Saya bergegas menuju ke perkemahan. Merebahkan tubuh agar kepala sejajar dengan hati. Merasakan hembusan angin gunung yang mendengungkan isi hati yang masih mengasihi Ruben, sosok yang telah menyembuhkan kelumpuhan hati nurani dan membuka cakrawala pikiran. Bukan dengan kemanjaan berahi, tetapi dengan kemapanan pandangan dan chivalry.

Semoga saya belum terlambat untuk belajar mengasihi. Saya ingin segera kembali. Mengutarakan isi hati.

Jakarta, November 2016 – Oktober 2018

***

Save

Save

Save

Save

Puisi Jalanan

53

Pekerja Jalanan

Puisi ini lahir di atas jembatan penyeberangan,
pada penghujung Jalan Sudirman,
di antara gedung hotel berbintang,
dengan lampunya yang gemerlapan.

Para pekerja yang handal dan nampak kusam,
tengah terbungkus peluh dan debu jalanan.
Sebab keluh kesah kita siap menghantam,
tatkala mereka terlambat menghantar penerangan.

Para pekerja menanggalkan rasa takut,
meninggalkan jubah ragu pada jalan beraspal.
Merapal doa dengan sahut menyahut,
agar pengendara dan pejalan tak datang bersama pasukan pencabut nyawa.

Para pekerja yang aneh, tak tampak sedikit pun raut cemberut.
Jemari dan jiwanya yang terpaut pada tiang besi tanpa penyanggah,
memancarkan senyum yang sumarah ketika tatapan lensa menyapa.
Mereka seperti lupa pada maut yang siap menjemput.

Aku tengah asyik menatap potret ketangguhan, ketika terbersit tanya pada seroman wajah: “Kok malah kami yang dipoto, Mbak?”
Karena kalian adalah cahaya yang telah mencerahkan pandanganku.
Menyingkap tabir dosa yang kerap mengabaikan jasa dan keberadaanmu.

Semoga puisi ini bisa menjadi secercah rasa terima kasihku,
dan juga permohonan maafku.
Kepada mereka yang tak pernah ragu menantang maut,
agar kami semua dapat senantiasa menjalani hidup.

***

Baca juga: Pho(ne)tography – Fotografi dengan Menggunakan Ponsel Pintar

Panggung Jalanan

Sejak kecil aku gandrungi jembatan,
Bukan karena aku penggemar ketinggian,
tetapi karena di sana dendang hati berkumandang,
dan tarian hidup dipentaskan.

Rambut semraut dan raut lusuh tak pernah membuatku takut.
Apalagi sekadar kulit legam yang terpanggang harapan.
Walau nada sumbang kerap terlontarkan,
lantaran hidup tak semudah khotbah Pak Teguh.

Suatu malam, kudengar alunan alat musik calung
mengiringi seseorang yang tengah larut dalam gerakan tayub.
“Ada acara apa di bawah situ?”
Seorang Pakli tengah menyambang hidup.

Ah, manusia-manusia tangguh,
yang tak malu bermandi peluh.
Bertayub dan bersenandung di atas panggung penuh debu.
Semoga hasil ngamen ini sepenuhnya untukmu
(tanpa ada setoran yang harus kau tanggung).

***

Becak Mau ‘Jalan’

Teknologi berkembang cepat
Peradaban manusia lekas beranjak.
Sekarang siapa lagi yang sudi naik becak?

Sebentar! Masih ada becak di sini?
Masih dan becak telah berevolusi.
Pemiliknya juga melek teknologi.

Becak kayuh menjelma becak mesin,
tapi sepertinya kamu tengsin.
Ketemu pacar dengan aroma anyir ikan asin.

Akhirnya, kamu nge-Grab aja.
Paklik pemilik becak hanya beroleh tepisan belaka.
Lagian harganya juga ndak jauh beda, kau berkata.

Tapi kan Paklik itu butuh nafkah.
Kenapa ndak nge-Grab aja, kau berkilah.
Tak semua orang diberkahi gawai pintar, sepertinya kau lengah.

Mereka hanya cukup cakap untuk memperbarui becaknya.
Dan sumarah kepada kersaning zaman setelahnya.
Sementara kau gagal paham, saat mereka tengah berusaha dalam ketinggalannya.

Teknologi memang berkembang, kerap.
Kemanusiaan pun perlahan lesap.
Manusia yang ditinggalkan mulai mengayuh resah.
Untuk kemudian hilang dan menjelma laman sejarah.

Masih sudi naik becak?

***

Jakarta – Yogyakarta, Januari – Agustus 2018

***

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Lembaran Rindu dalam Secangkir Kenangan

85

Kenangan yang membawaku kembali ke tempat ini, sebuah kafetaria yang masih menyimpan kontradiksi yang sama setelah tiga tahun berselang.

Pijar lampunya yang kekuningan, sangat ampuh  meredam gejolak amarah jiwa-jiwa yang terbakar cuaca. Namun, denting gelas dan piring yang tengah ditata seakan berdengking kepada siapa pun untuk bergegas. Belum terdengar obrolan pengunjung sama sekali. Ini belum genap pukul tujuh pagi.

“Sudah lama nggak kemari, Mbak. Bapaknya juga,” ujar pelayan itu sembari meletakkan cangkir berisi cairan hitam pekat pesananku.

“Sibuk, Mbak’e,” jawabku yang tengah sibuk membenahi laptop.

“Bapaknya nanti nyusul?” Aku hanya mengangguk pelan. Menggigit bibirku.

Bapak… Tentunya bukan ayahku yang ia tanyakan. Namun, tentang sosok laki-laki dengan siapa aku kerap berbagi pagi di tempat ini. Ditemani secangkir kopi hitam dan bacaan pilihan. Sosok yang selama tiga tahun terakhir telah lenyap dari keseharianku, akan tetapi tetap melekat dalam benak. Sosok laki-laki kedua setelah ayah yang mampu menumbuhkan rindu hingga menuntunku kembali ke sini. Mengenang dirinya dan menuliskan kisah tentangnya.

Sebastian namanya. Sesungguhnya, tak ada yang istimewa dari penampilan laki-laki ini. Tubuhnya gempal setelah dua puluh tahun melahap pengalaman hidup di Amerika. Wajahnya gembil lantaran gemar menyerap informasi yang disuguhkan media. Cetak maupun digital. Namun, ragam pengalaman dan luasnya wawasan tak menjamin perjalanan yang mulus dalam beradaptasi di kantor baru, tempatku bekerja hingga tiga tahun lalu.

Dahulu, tubuh gempal dan wajah gembilnya kerap kutemui di kafetaria ini. Bersembunyi di balik secangkir kopi dan koran pagi. Sepasang matanya tampak asyik menelusuri rangkaian berita yang tersaji, sembari sesekali menyeruput cairan hitam hangat di hadapannya. Berharap larutan itu mampu menggerus endapan amarah dan keresahan karena ia tak kunjung mendapatkan laporan yang dibutuhkan nanti untuk rapat tengah tahun, termasuk sales report dari timku.

Pada suatu pagi, aku pernah bertaruh dengan diriku sendiri. Endapan itu akan bertambah tebal lagi hari itu. Sebuah pesan WhatsApp kuterima.

“Sebel banget sama Sebastian! Tanpa basa-basi minta dibikinin sales report dengan detil ini itu. Sudah stres sama macet dan daily report yang telat, tambah lagi e-mail dari dia. Dia pikir dia siapa?! Bos pun bukan!”

Aku tak membalas WhatsApp dari Marie, rekanku. Aku segera mengemasi barang-barangku, meninggalkan kafetaria ini dan menuju meja kerjaku.

Aku belum sempat mendaratkan tubuhku di kursi ketika kudengar ocehan Marie. Kali ini, kekesalan telah membuat ucapannya tak tentu arah.

“Orang ini ngeselin banget. Suka seenaknya main suruh. Kemarin di rapat bulanan juga malah bengong pas diajak bicara sama Ibu Boss. Aneh!”

“Memang dia minta data tambahan apa? Sales report itu kan sudah menjadi laporan bulanan kita.” tanyaku.

“Dia minta per cabang!”

“Kan tinggal ditambahin filter cabang, lalu jalanin ulang macro-nya.”

“Ya, tapi kan bisa ngomong baik-baik.”

Aku masih bisa melihat raut wajah Marie yang manyun. Sepertinya dia kesal lantaran aku lebih membela warga baru itu daripada mengindahkan keluhannya. Syukurlah tak sampai lima belas menit kemudian, surel dari Marie yang berisi laporan itu akhirnya datang juga dan nama Sebastian ada sebagai penerima.

Sepertinya aku baru saja kalah dalam taruhanku sendiri.

Aku tidak membelanya karena aku keburu jatuh hati kepada Sebastian. Tidak saat itu. Tak mudah bagiku—dan sepertinya bagi siapa pun—untuk jatuh pada sosok tambun berwajah manyun seperti dirinya. Sebenarnya, aku juga merasa kurang nyaman dengan kecenderungan basa-basi di kantor ini. Lebih terasa basinya daripada ramahnya. Pertanyaan yang dilontarkan biasanya tak jauh dari urusan pribadi seperti “Udah nikah?”, “Umur berapa?”, “Kok udah umur segitu belum nikah?”. Informasi yang didapat akan menjadi bahan bergunjing. Konon, atasanku melontarkan salah satu pertanyaan itu kepada Sebastian saat rapat yang disinggung Marie kemarin.

Ketidaknyamanan inilah yang membuatku lebih memilih untuk tenggelam dalam hiruk-pikuk kafetaria ini. Mencari ketenangan di tengah riuh barang pecah belah yang tengah ditata. Mungkin hal serupa juga yang telah menyebabkan Sebastian menikmati ritual pagi di tempat ini.

***

Kali pertama kami berbicara sebenarnya terjadi sehari setelah ocehan Marie di pagi itu.

Thanks for the report,” ucapnya. Aku terperangah mendapati ia tengah berdiri di hadapanku.

Don’t thank me, thank my team. Batinku menjawab. Namun, aku tak memiliki nyali untuk mengoreksi ucapannya. Tubuh gempal dengan wajah gembil itu masih penuh dengan endapan amarah dan keresahan. Dugaanku, ia masih belum menerima laporan lainnya dari berbagai departemen.

“Sama-sama. Nanti bilang saja yah kalau ada yang masih perlu diklarifikasi,” ujarku berbasa-basi.

Ia akhirnya tersenyum. Sedikit dipaksakan kurasa. Tak mudah memang mengukir senyum di tengah tekanan dan ekspektasi atasan saat seseorang tengah menjadi warga baru di sebuah perusahaan. Apalagi, ketika rekan kerja enggan untuk membantu. Resah, ingin marah, dan lelah bercampur membentuk endapan yang bisa tumpah sewaktu-waktu. Dan timku sempat menjadi salah satu unsur endapan itu.

Aku masih mendapati Sebastian berdiri di hadapanku. Tak ada tanda-tanda bahwa ia akan beranjak ataupun berkata-kata. Aku menatapnya dengan canggung. Sementara di dalam kepalaku, aku sibuk memutar otak untuk mencari kata-kata selanjutnya. Kembali kepada bacaanku bukanlah pilihan. Tak sopan.

“Duduk saja,” tiba-tiba dua kata itu meluncur dari mulutku. Kini aku mati kutu. Terlepas dari banyaknya pengetahuan yang telah ia serap, wajah gembil ini sepertinya sangat hemat dalam berkata-kata. Lima menit berselang setelah ia duduk di hadapanku, hanya dua patah kata terucap: ‘terima’ dan ‘kasih’ saat pelayan kafetaria ini mengantarkan pesanannya.

Aku masih berusaha memeras otak yang telah lama kering terpanggang terik matahari pagi tadi. Berusaha mencari topik pembicaraan. Sama sepertinya, aku pernah lama menetap di Amerika. “Sudah kawin?”, dan “Umur berapa?” sudah pasti bukan pilihan. Namun, membicarakan isu Pilpres yang mulai marak saat ini juga bukan keputusan yang bijak.

“Laporan dari tim lain sudah dapat?” Aku rasa pertanyaan itu cukup aman.

Aku mendengar desahan napas Sebastian. Dugaanku benar. Ia menjelaskan bahwa dirinya mengalami kesulitan untuk mendapatkan laporan yang diperlukan. Surel yang ia kirimkan tak kunjung mendapat jawaban. Sibuk dan masih banyak pekerjaan rutin adalah alasan yang sering dilontarkan ketika ia menghampiri pihak terkait.

Hang in there, Bas. Semua memang sedang sibuk. Hampir semua tim bekerja lembur beberapa minggu terakhir,” jelasku seperlunya.

Akan tetapi pada hari-hari berikutnya, aku malah mendapati Sebastian semakin antusias bertanya tentang status permintaannya, bertanya lebih detil tentang laporan yang telah ia terima, dan kembali melakukan analisa.

Aku sendiri juga terkena imbas. Ia menjadi sering menghampiriku di kafetaria ini dan bertanya tentang sales report yang Marie kirimkan serta manajemen informasi kantor kami.

Kesal lantaran ritual pagiku terganggu, aku sengaja bertanya tentang pengalamannya di Amerika. Ternyata kami pernah tinggal di kota yang sama dan kerap mengunjungi toko buku yang sama.

“Koleksi buku lamanya lengkap,” ujarnya.

“Pernah ketemu buku apa di sana?”

The Grapes of Wrath.”

Wajah gembil itu juga gemar menyerap sejarah dunia rupanya, batinku.

“John Steinbeck?” tanyaku singkat.

Seuntai senyum kembali terlukis di wajahnya. Kali ini, tanpa kesan dipaksakan. Sepertinya kopi hitam pagi itu berhasil menggerus sedikit endapan resah dan amarah dari dirinya. Timku adalah salah satu unsur yang berhasil tergerus dari endapan itu.

Sayangnya keceriaan ini tak bertahan lama. Selang beberapa hari, raut wajah itu kembali muram. Rapat tengah tahun tinggal dalam hitungan hari, tetapi hasil analisanya belum selesai lantaran banyak departemen lain yang menunggak laporan yang ia minta. Lagi-lagi karena alasan yang sama.

Aku sebenarnya sudah mengetahui hal ini. Banyak dari rekanku yang mengeluhkan kekakuan Sebastian dalam berinteraksi. Marie bahkan sempat mengatakan bahwa ia merasa dianggap robot yang bisa disuruh dan ditanya ini itu olehnya.

“Saya sudah nggak tahu lagi harus bagaimana,” ujar Sebastian lemah.

Lagi-lagi, aku dibuat grogi. Separuh diriku mulai jatuh kasihan kepada sosok tak berdaya yang tengah duduk di hadapanku ini. Namun, otakku sudah tak mampu lagi meneteskan gagasan apa pun untuk menyegarkan suasana. Menjelang rapat tengah tahun, seluruh jajaran perusahaan memang tengah bekerja lebih keras dan lebih lama. Aku dan Marie bahkan sempat pulang lewat tengah malam.

“Sabar ya. Sebelum memberondong dengan permintaan, ajak ngobrol dulu saja sebentar. Biar nggak pada stres memikirkan kerjaan terus. Di U.S. juga sama kan. Setidaknya, ‘How was the train ride today?’ atau ‘Have you read the news today?’”

“Itu dia. Di sana basa-basinya nggak menyinggung sesuatu yang personal. Paling seputar berita di koran atau perjalanan. Di sini obrolannya cuma seputar orang lain dan kemacetan tiap pagi.”

“Ini menyindir timku yah?”

Ia terperanjat. Menatapku tajam. Aku harus siap menerima luapan endapan itu kapan saja.

“Dan saya sempet bingung harus bagaimana waktu bosmu bertanya saya sudah nikah belum. Apa hubungannya dengan kerjaan coba?”

Aku biasanya enggan untuk mendengarkan keluh kesah rekan sekantor seperti ini. Apalagi jika terkait atasanku sendiri. Tak etis. Lagipula, menurut observasiku, empati di kantor hanya meninggalkanku dengan setumpuk pekerjaan dan sedikit waktu. Menit-menit yang terbuang untuk mendengarkan keluh kesah mereka tak mungkin bisa kupungut kembali.

Namun, di balik wajah gembilnya, aku menemukan sepasang mata yang menyiratkan keputus asaan. Bola matanya nampak tegang membendung luapan endapan yang tak mampu lagi ia tampung.

“Jangan samakan negara kita dengan Amerika, Bas. Mereka sudah merdeka hampir dua setengah abad dan kebebasan bersuara sangat diutamakan. Jadi, wajar jika rakyatnya menjadi peduli dan kritis terhadap pemerintahan dan sekitarnya. Topik pembicaraan pun jadi beragam. Indonesia beda.”

“Rezim Orba sudah lama lengser, Laras.”

Allow ourselves sometimes, Bas. Belum seabad negara kita merdeka dan hampir sebagian besar dari masa kemerdekaannya, kebebasan bersuara dibungkam. Bahkan dari era Bung Karno sekalipun.”

“Serius?”

“Aku pernah baca di Catatan Seorang Demonstran, Bas. Catatan pribadi Soe Hok Gie. Di sana Gie pernah menyinggung tentang pidato Bung Karno pada saat pembukaan jurusan publisistik UI. Isi pidatonya ‘nih bahwa tugas pers adalah menggambarkan cita-cita yang muluk kepada rakyat supaya nafsu yang baik dari rakyat berkobar kembali. Seolah hendak dikatakan Presiden, tugas pers ialah meninabobokkan rakyat. Media yang bertentangan dengan pemerintahan akan dicabut izin usahanya. Rezim boleh berganti, tetapi keadaan tak kunjung membaik,”

Aku berharap menyinggung sejarah Indonesia mampu membuat penggemar sejarah dunia ini maklum tentang keadaan Tanah Air.

You’re right, Ras. Pemberedelan, pencekalan dan penculikan sering terjadi kepada pihak yang kritis terhadap pemerintahan semasa Orde Baru.”

Baca juga: CBSA – Celoteh Bunda untuk Sang Anak

“Jadi, wajar jika sebagian besar warga mengambil jalan aman, Bas. Memilih topik seputar aktivitas sehari-hari atau ranah pribadi sepertinya menjadi jalan alternatif agar mereka dan segenap kerabat nggak ada yang diculik. Betapa selama ini, sadar atau tidak, nalar kritis bangsa terpaksa dibiarkan mati suri. Saat warga sudah diberi kebebasan, euforia berlebihan. Opininya lebih cenderung subyektif dan negatif. Hoax bertebaran untuk menjatuhkan oposisi. Terasa banget setiap kali ada pemilu. Seperti saat Pilkada lalu, dan menjelang Pilpres saat ini. Kebebasan sudah kebablasan, Bas. Akhirnya warga saling bermusuhan.”

“Dan untuk mencegah permusuhan, mereka kembali membahas masalah pribadi. Lagi.” Sebastian menyelesaikan ucapanku dengan nada skeptis.

It ain’t no sin and it ain’t no virtue. It’s just stuff people do to stay safe[1].” Aku sengaja mengutip Steinbeck.

Allow yourself sometimes, Bas. Dirimu sudah lama jauh dari sini. Menjelma orang asing di negeri sendiri,” ucapku sok puitis.

“Mau ngutip siapa lagi nih? A.A. Navis atau Goenawan Mohamad?” Ia bertanya dengan nada bercanda. Sepertinya mengutip sejarah adalah strategi yang jitu.

Aku ingin sekali memulai topik baru tentang sastra Indonesia yang selalu lekat dalam diriku. Namun, arlojiku menunjukkan hampir pukul delapan pagi. Obrolan ini harus segera kami akhiri. Rapat tengah tahun telah menanti.

***

Semenjak itu, berbincang dengannya sembari menikmati secangkir kopi hitam dan bacaan pilihan menjadi rutinitas yang kami lakukan hampir di setiap pagi. Apalagi setelah rapat tengah tahun itu berakhir. Endapan yang sepertinya telah sirna, membuat Sebastian semakin cerkas dalam mengaitkan berita terkini dan peristiwa masa lampau. Menyuguhkan obrolan gurih yang memberikan energi tersendiri. Energi yang telah lama pergi seiring wafatnya Ayah beberapa tahun silam.

Ayah, cinta pertamaku. Sosok pertama yang telah membuatku jatuh cinta pada karya sastra Indonesia yang rajin menyelipkan episode kelam negeri ini. Sosok pertama yang mengajarkanku untuk peduli pada apa pun ihwal bangsa ini, terutama sejarahnya. “Supaya kamu nggak merasa asing di negeri sendiri. Dan yang paling penting agar sejarah kelam ndak harus berulang,” begitu nasihat ayah.

“Berat, Yah!” protesku saat itu.

Witing trisno jalaran seko kulino, Nak. Mengko kowe yo kulino moco wacan koyo bapakmu iki.” Ayah berusaha meyakinkanku.

Witing trisno jalaran seko kulino. Cinta ada karena terbiasa. Pepatah lama itu kembali menyergapku dalam rupa yang sedikit berbeda. Rasa kagumku kepada Sebastian berkembang menjadi sesuatu yang lain. Rasa yang kerap aku hindari karena aku tak ingin kecewa jika sosok serupa Ayah ini beranjak pergi. Aku masih ingat bagaimana kuliahku terancam putus selepas kepergian Ayah. Konsentrasiku terganggu.

Perlahan aku mulai menjauhkan diri darinya. Saat kesempatan untuk menjadi Finance Department Head di kantor baru mengetuk, aku segera menyambutnya. Keputusanku itu memang berhasil melenyapkan Sebastian dari segenap panca indra. Namun, serupa bangsa yang tengah dilanda euforia akan kebebasan bersuara, rasa itu tak mudah untuk kusuruh kembali diam. Apalagi saat basa-basi di kantor baru hanya seputar urusan pribadi. Keadaan seperti ini justru semakin membuatku merindukannya dan obrolan gurih kami.

Saat kerinduan ini tak mampu kubendung lagi, aku sadar aku harus menumpahkannya. Menuliskan sebuah fiksi adalah caraku untuk bisa jujur terhadap perasaanku sendiri. Yah, menulis fiksi untuk bersikap jujur. Ironis memang. Seironis diriku yang menemukan ketenangan di antara riuh kafetaria yang kontrakdiktif ini. Seironis diriku yang telah jatuh hati pada sosok tambun berwajah manyun itu.

Aku bermaksud untuk memulai paragraf pertamaku ketika seseorang menepuk sisi atas layar laptopku. Aku terperangah. Tak percaya saat melihat siapa yang sedang duduk di hadapanku. Dia yang selama ini hanya bisa kurindukan dan kurasakan kehadirannya dalam setiap mimpi. Dia yang telah memenuhi relung pikiranku bertahun-tahun terakhir. Lelaki dan kenangan tentangnya yang sedang aku coba luapkan ke dalam cerita yang tengah kucoba tuliskan. Ia kini berada tepat di hadapanku.

“Apa kabar?” Ia bertanya. Aku bisa merasakan rahangku yang mendadak kaku. Berusaha membendung luapan rindu. Tak mampu menjawab pertanyaan ramah-tamah, yang lumrah diucapkan seseorang pada lawan bicara yang telah lama terpisah oleh rentang jarak dan waktu.

I miss you,” kalimat itu terlontar dari mulutku tanpa basa-basi. Segera kukembalikan perhatianku pada laptop di hadapanku.

Dari sudut mata, aku bisa melihat setumpuk undangan membayang pada permukaan kopi pesananku. Nama Sebastian dan seorang wanita tercantum di sudut kiri atas undangan tersebut. Kelopak mataku tiba-tiba menegang menahan genangan air yang perlahan-lahan mulai jatuh membasahi laptopku. Aku ingin segera meninggalkan kafetaria ini.

Jakarta, Juli 2017 – Juli 2018

***

[1] Dari novel John Steinbeck, The Grapes of Wrath: There ain’t no sin and there ain’t no virtue. There’s just stuff people do.

Save

Save

Review The Architecture of Love: Hierarchy of Human Needs

18

Setiap bangunan memiliki cerita. Setiap wajah memalut kisah. Setiap detail yang dipaparkan Ika Natassa dalam The Architecture of Love (TAOL) mengajak pembaca untuk lebih dari sekadar berkeliling kota New York. Petualangan River dan Raia menyusuri The Big Apple adalah kisah pergumulan umat manusia yang jujur, terlepas dari status ekonomi dan sosial jiwa-jiwa yang tengah bergelut dengannya.

Judul:The Architecture of Love
Penulis:Ika Natassa
Penerbit:Gramedia Pustaka Utama
Cetakan:Cetakan Kesepuluh, 2021
Tebal:304 halaman
ISBN:978-602-03-2926-0

 

The Architecture of Love, Ika Natassa (2016)
The Architecture of Love, Ika Natassa (2016)

Dalam The Architecture of Love, seorang penulis bernama Raia Risjad harus berhadapan dengan writer’s block setelah ditinggal pergi oleh muse kepenulisannya. Di tengah kegelisahan lantaran editor yang terus menagih naskah dan saldo tabungan yang semakin terkuras, Raia pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke New York dan tinggal bersama Erin. Raia berharap tinggal bersama sahabatnya dapat membantu Raia menemukan wangsit untuk buku terbaru sekaligus menyembuhkan patah hati setelah bercerai dari Alam, high-school sweet heart Raia.

The funny thing is nobody ever really knows how much anybody is hurting. We could be standing next to somebody who is completely broken and we wouldn’t even know it. (hlm.76)

Laiknya pepatah lama, manusia hanya bisa merencanakan sementara takdir (atau Tuhan, ya?) yang akhirnya menentukan. Niat Raia mencari ide menulis justru mempertemukan dirinya dengan River, laki-laki yang lebih suka bercengkrama dengan buku sketsa ketimbang berada di tengah keramaian.

Laki-laki dengan beanie abu-abu gelap, kaus kaki berwarna hijau, dan sneakers cokelat sebagai signature style ini tengah asyik memandang kota New York dari kegelapan ruang ketika Raia tengah mencoba mencari tempat untuk menarik diri dari keramaian pesta malam tahun baru.

Entah  ketertarikan Raia dan River pada kesunyian atau karya seni yang akhirnya kembali mempertemukan mereka di Wallman Skating Rink sehari setelah pesta. Yang pasti petualangan mereka sebagai New Yorkers bermula dari pertemuan ini. Janji-janji temu yang lebih banyak dipenuhi dengan keheningan di antara River dan Raia serta kesibukan mereka masing-masing: Raia yang masih terus berusaha menulis dan River yang dengan lincah menuangkan arsitektur bangunan di hadapan ke buku sketsa yang selalu dalam genggaman.

Sketsa Lukisan karya River Jusuf, The Architecture of Love
Sketsa Lukisan karya River Jusuf, The Architecture of Love (2016)
Pertemuan yang tak disangka ini pada akhirnya berujung menjadi perjalanan dua muda mudi untuk berdamai dengan masa lalu.

Perjalanan selama tiga bulan yang tak hanya menyingkap sejarah arsitektur kota New York, tetapi juga membuka luka lama yang belum kering yang akan menentukan apakah mereka akan mampu melampaui masa lalu dan kembali berbahagia.

You know what is wrong about always searching for answers about something that happened in your past? It keeps you from looking forward. It distracts you from what’s in front of you, Ya. Your Future (hlm. 237)

Reading The Architecture of Love: A Traveling Experience to the City that Never Sleeps and the Heart at its Unease

Saat membaca The Architecture of Love, saya mendapati diri bernostalgia dengan kehidupan di San Francisco saat Ika menceritakan pertemuan pertama River dan Andara. Aroma khas Golden Boy Pizza, pemandangan sepanjang teluk San Francisco dari Golden Gate hingga Fisherman’s Wharf, sampai adegan bagaimana River pada akhirnya ‘nyerah’ ketika harus menemani berbelanja di Union Square. Semua itu digambarkan secara ringkas, namun cukup untuk membuat pembaca tengah berada di setiap adegan yang diceritakan.

Adegan River dan Raia menyusuri Central Park sampai ke West 59th Street untuk menikmati quick lunch di local café, berdiri di persimpangan Broadway and Fifth Avenue untuk menikmati kemegahan Falatiron Building, hingga memanjakan lidah di Shake Shack digarap sedemikian rupa hingga saya tergerak untuk meng-Google lokasi yang mereka singgahi. Dipadu dengan karakter River yang gemar berbagi tentang sejarah gedung-gedung yang mereka kunjungi, membaca The Architecture of Love serupa virtual tour yang mampu mengobati sedikit kerinduan saya untuk traveling di masa pandemi seperti saat ini.

Cover Buku The Architecture of Love
The Architecture of Love, Ika Natassa (2016)
Kecerkasan Ika Natassa dalam mendeskripsikan rasa juga mampu menyeret saya ke dalam pusaran emosi River dan Raia.

Berikut ini adalah beberapa quote favorit saya.

    • “When voices in your head are keeping you awake and you can’t silence them, you just have to find noises that help you fall asleep (hlm. 59-60).”
    • Every person has at least one secret that will break your heart. (hlm. 68)
    • “People say that you will never know the value of a moment until it becomes a memory (hlm. 66).”

Raia dan River tentang janji temu mereka (hlm. 96)

    • Why do you let me come with you? I mean, we were strangers. Why did you let me follow you around?
    • Because you’re as lost as I am, Raia. And in a city this big, it hurts less when you’re not lost alone.

Suara hati Raia di hari terakhir kebersamaan mereka di New York ditemani Chocolate Peanut Butter S’mores dan segelas Riesling

    • “There’s nothing good will come out of doing it, right, Raia? Nothing. You’ll end up even more foolishly in love with a man who doesn’t even blink on the thought of leaving you. This was never meant to last longer. This is temporary (hlm. 182).”

Seperti digodam ketika kepala tengah pening dan hati terasa perih, ada bagian dari diri saya yang seolah terasa ngilu ketika membaca quote-quote tersebut.

Ika Natassa pun sangat piawai dalam membangun karakter para tokohnya dan patut diberi ancungan jempol.

Salah satu signature style River ternyata memiliki makna yang mendalam bagi River. Profesi penulis yang Raia pilih ternyata memiliki tujuan sendiri dalam buku ini.

Quote dari The Architecture of Love, Ika Natassa (2016)
“Mungkin beginilah nasib seorang Raia Risjad, selalu hanya jadi persinggahan, tidak pernah menjadi tujuan.” – The Architecture of Love, Ika Natassa (2016)

Narasi Raia dalam TAOL adalah eye-opener bagi pembaca bagaimana tuntutat sosial dilihat dari pandangan seorang perempuan kelas menengah ke atas. Pandangan yang kerap kita redam ketika dihadapkan dengan pergumulan pribadi lantaran takut dianggap tidak bersyukur atau tak bertanggung jawab. Padahal, setiap perasaan, siapapun pemangkunya, bahagia maupun rentan adalah sahih.

Baca juga: Lembaran Rindu dalam Secangkir Kenangan

Sekilas novel ini terlihat seperti novel pupuler/love fiction/young adults pada umumnya, namun semakin pembaca mengikuti perjalanan dan mendengarkan suara hati Raia, pembaca diajak untuk menyelami lautan emosi Raia ketika dihadapkan oleh stereotype tentang penulis, persepsi Raia akan dirinya sendiri yang hanya menjadi persinggahan dan tidak pernah menjadi tujuan (hlm.196), ataupun cibiran kerabat akan keputusan Raia: seorang Sarjana Ekonomi yang memutuskan untuk menelantarkan gelarnya untuk menjadi penulis fiksi dan kini tengah menjanda.

“Semua keputusan yang Yaya ambil… belakangan ini atau kemarin-kemarin … Mamaw dan Papaw sudah mahal-mahal membiayai kuliah finance Yaya tapi kemudian sia-sa karena Yaya ternyata memutuskan untuk nggak kerja kantoran dan cuma menulis. Lalu keputusan Yaya untuk bercerai… iya memang Alam yang menuntut cerai, tapi Yaya juga menerima dan sekarang anak Mamaw satu-satunya ini jadi janda. Semua itu, Mamaw pernah kecewa sama Yaya?” Raia meluapkan semuanya (hlm. 253).

Ika Natassa: Gaya Hidup Hedon dan Kebutuhan Hidup

Sebelum saya menggarap ulasan ini, saya sempat dipertemukan dengan tanggapan teman-teman pembaca lainnya. Sering kali, para pembaca menyayangkan pemaparan gaya hidup tokoh-tokoh dalam novel Ika Natassa yang dianggap mengamini gaya hidup berlebih (hedonisme).

Mengutip KBBI, hedonisme adalah pandangan yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi sebagai tujuan utama dalam hidup. Hedonisme disebabkan oleh sifat dasar manusia yang ingin mencari kesenangan. Bagi kaum menengah ke atas, yang kerap menjadi tokoh utama dalam novel Ika, kesenangan umumnya didapat dari berbelanja barang-barang mewah dan menikmati hidangan dengan fasilitas bintang lima. Hal ini tentu tak luput dari adanya faktor eksternal seperti arus globalisasi. Kebiasaan ataupun paham dari mancanegara terkait cara bersenang-senang pun dengan mudah diadaptasi menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.

The Architecture of Love: Hierarchy of Human Needs

Namun yang kerap luput dari pengamatan adalah hierarki kebutuhan yang hendak dicapai oleh kaum menengah ke atas yang menjadi tokoh utama dalam novel Ika. Menurut Abraham Maslow dalam teori hierarki kebutuhan, ada lima golongan kebutuhan manusia, yakni:

  1. Kebutuhan fisiologis atau dasar
  2. Kebutuhan akan rasa aman
  3. Kebutuhan untuk dicintai dan disayangi
  4. Kebutuhan untuk dihargai
  5. Kebutuhan untuk aktualisasi diri

Kebutuhan fisilogis atau dasaar serta kebutuhan akan rasa aman pada umumnya telah terpenuhi bagi Raia dan River serta kebanyakan tokoh-tokoh dalam novel Ika. Kebanyakan dari mereka adalah eksekutif muda dan telah mapan secara finansial. Raia adalah penulis fiksi yang karyanya selalu menjadi best-seller dan kuota Pre-Order yang selalu penuh dalam hitungan jam, sementara River adalah seorang seorang arsitek sekaligus pelaku usaha yang kinerjanya telah diakui oleh kancah nasional dan mancanegara.

Menurut hierarki Maslow, saat dua kebutuhan awal sudah terpenuhi, hajat untuk disayangi pun timbul. Kalau boleh mengutip Paul, sahabat River dalam TAOL, dicintai itu menyenangkan. Tak heran jika Ika sering mengangkat petualangan cinta dan isu self-esteem menjadi konflik dalam novel-novelnya. Dua topik yang tak pernah lelah mengisi perbincangan dan curahan hidup warga eksekutif kantoran, warga yang suara dan keluh kesahnya hendak disuarakan oleh Ika. Gaya hidup, berbicara, dan bersosialisai yang lavish menjadi perlu untuk membuat tokoh-tokoh ini realistis sdan hidup.

Quote dari The Architecture of Love, Ika Natassa (2016)
“Cinta memang terlalu penting untuk diserahkan pada takdir, tapi segigih apa pun kita memperjuangkan, tidak ada yang bisa melawan takdir.” – The Architecture of Love, Ika Natassa (2016)

Baca juga: Seni Membangun Cerita

Kegelisahan Tak Hanya Suka Mengunjungi Kaum Papa. Ia Kerap Berkelindan di Tengah Gaya Hidup Hedon Orang Berada.

Sepanjang buku ini pembaca akan dihadapkan dengan kegelisahan seorang penulis (yang tak kunjung menemukan wangsit) menyusuri kemegahan arsitektur New York, kegagalan seseorang untuk memaafkan diri sendiri yang terlontar dalam percakapan bilingual (bahasa Indonesia bercampur bahasa Inggris), dan segelas Riesling untuk membasuh insecurity tatkala pasangan hidup selingkuh.

Layaknya berpartisipasi dalam virtual tour, pengalaman ini harus menemui titik akhir. Saat tengah membaca kalimat terakhir dalam cerita ini, saya tersenyum kecil sembari mengangguk-angguk. Ika memang gemar membiarkan imajinasi pembaca terbang bebas menginterpretasikan akhir dari kisah tokoh-tokohnya. Saya harap rencana The Architecture of Love diangkat ke layar lebar segera terealisasi dan para pemmbaca bisa menyaksikan secara langsung kisah Ibu Hari Raia dan Bapak Sungai.

Jakarta, Agustus 2021

***

Tentang Ika Natassa:

Ika Natassa adalah seorang banker dengan hobi menulis dan fotografi. Diterbitkan pertama kali pada tahun 2016, The Architecture of Love adalah novel kedelapan Ika. Novel Ika lainnya yang telah beredar antara lain:

  1. A Very Yuppy Wedding (2007)
  2. Divortiare (2008)
  3. Underground (2010)
  4. Antologi Rasa (2011)
  5. Twivortiare (2012)
  6. Twivortiare 2 (2014)
  7. Critical Eleven (2015)

Sumber: Goodreads.com dan Wikipedia.org

Mencari Hukum

Aku tak pernah tahu siapa hukum yang mereka maksud. Otakku yang masih berusia tujuh tahun hanya tahu hukum sebagai sebuah akibat jika aku melanggar peraturan. Para guru di sekolah dan orang tua biasanya akan menyebut kata hukum, dihukum, ataupun hukuman dengan suara yang lantang. Penuh kuasa.

Akan tetapi, hukum yang sering dibicarakan Bapak dan Biyung[1] beberapa bulan terakhir terkesan berbeda. Pertama kali Biyung menyebutkan namanya, suara Biyung begitu lemah, sementara Bapak selalu mengucapkannya dengan nada gusar. Namun, tanpa daya.

“Apalah arti kita di hadapan hukum yang saklek itu, Mas?” dari balik bilik dapur, suara Biyung terdengar semakin sayup. Terdesak kesiur angin kering dan gemuruh daun pepohonan yang bergoyang.

Bapak tak langsung menjawab. Ia malah mengisap kereteknya dalam-dalam, lalu mengembuskan gumpalan asap putih yang segera terbang menuju langit senja. Akan tetapi, kegeraman Bapak sepertinya masih tinggal.

“Tanah ini warisan keluarga, Sum. Hanya ini yang tersisa dari Mbah.”

Nyawanya hilang demi mempertahankan sawah-sawah keluarga kita di tempat lain. Sudah lupa kau dengan peristiwa itu? Bapakku pun harus terus dikejar aparat hukum demi mempertahankan sawah terakhir ini.”

“Eling, Mas,” nada bicara Biyung mulai meninggi, “Mas mau berakhir seperti Bapak dan Mbah? Ilham masih kecil, Mas. Dia butuh bapaknya. Apa Mas tega membiarkan dia merasakan getirnya hidup sebagai anak nara–?” tiba-tiba Biyung menghentikan ucapannya. Sepertinya, ada yang datang.

Aku bergegas membawakan dua gelas teh hangat untuk Bapak dan Biyung. Dugaanku benar. Dua orang laki-laki dewasa berjalan mendekati rumah kami. Salah satunya berbadan tegap dengan potongan rambut cepak. Sepatunya hitam mengilap. Apakah dia yang bernama hukum? Atau malah temannya yang gembul, berkepala botak, dan tengah memilin kumis itu yang bernama hukum?

“Bawakan dua lagi untuk tamu yang baru datang,” ujar Bapak. Aku menurut dan segera kembali ke dapur.

Biyung segera menyusulku. Wajahnya masih memendam kemarahan. Sinar matahari yang menyusup dari celah dinding anyaman menyoroti raut sayu dan mata kuyu Biyung.

“Biar Yung saja. Ini obrolan orang dewasa!”
Suara Biyung membuyarkan lamunanku. Sepasang tangannya yang sigap segera meraih dua gelas dari genggamanku dan meletakkan gelas-gelas berisi teh hangat itu di atas baki.

Aku terkesiap. Saat itu, aku jadi semakin ingin tahu seperti apa hukum itu. Mengapa hanya karena hukum, Biyung yang sabar bisa meninggikan suara? Mengapa hanya karena hukum, bapakku yang tegar kini terlihat gentar?

Perlahan-lahan, kulangkahkan kaki. Aku tak ingin gerak-gerikku menimbulkan bunyi apa pun. Kubuka telinga lebar-lebar agar seluruh percakapan mereka bisa kudengar.

“Semua ini demi kebaikan bersama, Pak Warsito. Nanti kalau pabriknya sudah jadi, Pak Warsito juga yang merasakan manfaatnya, toh?” kudengar si gembul berbicara kepada Bapak.

“Enak kepriye, Pak? Sekarang kalau saya dan keluarga mau makan, ya, tinggal metik dari tanah sendiri. Mau mandi dan minum, tinggal menimba dari sumur belakang rumah. Airnya masih bening. Bersih. Lha, seandainya lahan itu dijadikan pabrik, gimana saya mau makan? Butuh air bersih, harus jalan lima kilo dulu untuk mbeli. Air dekat sini pasti kotor karena buangan pabrik.”

Pemandangan hutan dalam perjalanan menuju sebuah danau di daerah Jawa
Udara segar dan tanah yang subur, mengapa kami dipaksa untuk mengorbankan semua itu demi kehidupan yang lebih baik?

“Ini sudah jadi ketentuan, Pak Warsito. Kalau Sampeyan masih memaksa untuk mempertahankan sawah, itu sama saja melawan hukum,” melalui lubang yang tersebar pada dinding gedek, aku bisa melihat raut wajah bapak yang memerah.

“Apa hati kalian masih berfungsi?”

Bapak bertanya sembari menunjukkan jari ke dada si gembul.

Biyung segera memegang lengan Bapak. Apalagi, kulihat Bapak sudah bangkit berdiri dan hendak bergerak mendekati si gembul. Seketika, aku menjauhi tempatku mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Pak Warsito…” si cepak mulai berbicara. Suaranya rendah, tetapi penuh tekanan, “Saya dan Pak Jarwo hanya menjalankan tugas,” si cepak melanjutkan kalimatnya. Ah, pasti si cepak ini adalah hukum! Nada bicaranya penuh kuasa seperti para guru dan orang tua yang tengah menghukum anak-anak yang nakal.

“Kami juga ingin mengingatkan tentang status Saudara ini. Kami tahu siapa Saudara. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan!” kali ini nada suara si cepak seperti sedang mengancam Bapak.

Ucapan si cepak itu tak mendapatkan balasan sepatah kata pun dari Bapak. Hanya suara azan yang menyuruh mereka segera pergi.

“Coba Pak Warsito sembahyang terlebih dahulu. Bertawakal, Pak. Saya dan Pak Bimo mohon pamit,” ujar si gembul sebelum kedua orang itu akhirnya meninggalkan rumah kami.

Ternyata, tak satu pun dari mereka adalah hukum.
Namun sejak saat itu, nama hukum selalu disebut-sebut hampir di setiap waktu. Saat pagi sebelum Bapak dan Biyung pergi bertani, ketika mereka sedang beristirahat di dipan, bahkan saat tengah malam dalam igauan Bapak.

Nama hukum pernah beberapa kali Bapak sebut-sebut di dalam tidur, “Aku akan pergi mencari hukum. Ini tidak adil! Mereka tak bisa seenaknya mengambil sawah kami. Ini pencurian!” Bapak mengigau lagi pada suatu malam. Seperti yang sudah-sudah, aku biarkan saja Bapak dengan ceracaunya. Toh, Biyung juga akan menyuruhku kembali tidur jika aku mendekati mereka. Namun entah kenapa, malam itu aku tak bisa kembali tertidur. Kata-kata Bapak tentang sawah keluarga dan hukum yang katanya tidak adil, terus terngiang di kepala hingga azan Subuh berkumandang. Untuk pertama kalinya, aku bergadang.

Dan malam pertama aku bergadang itu adalah malam terakhirku bersama Bapak.

Pagi harinya, Bapak pamit meninggalkan aku dan Biyung. Bapak bilang, Bapak ingin mencari hukum. Aku hanya mengangguk meskipun aku masih tidak mengerti. Sawah yang dicuri, kok hukum yang dicari-cari.

Sejak kepergian Bapak, Biyung pergi menggarap sawah seorang diri. Pergi pada Senin pagi dan baru kembali setelah beberapa hari. Katanya, Biyung ingin sekalian melihat keadaan pabrik di desa seberang dan mencoba beberapa pekerjaan. Jaga-jaga kalau sawah kami diambil dan keluarga ini tak bisa menggantungkan hidup dari hasil sawah lagi.

Aku dibiarkan sendirian di rumah. Aku sungguh rindu Bapak dan Biyung. Walaupun aku sebenarnya sudah terbiasa sendiri, aku sulit tidur tanpa mendengarkan Biyung menembang atau Bapak bercerita. Sayang, aku tak pernah mampu berbagi rindu dengan siapa pun di kampung ini.

Orang-orang kampungku pernah mengatakan bahwa keluargaku adalah keluarga penjahat. Anak-anak dilarang orang tua mereka untuk bermain bersamaku. Katanya, aku ini musuh hukum. Bermain denganku berarti bermusuhan dengan hukum.

Yang berani berbicara kepada kami hanyalah Pak Yono, si Kepala Kampung. Ia pernah beberapa kali menyambangi orang tuaku di halaman. Suatu hari, Pak Yono datang mencari Biyung yang tak akan pulang sore itu. Kusampaikan tentang sepi dan rinduku kepada Pak Yono. Kudengar dari omongan orang-orang dewasa, salah satu pekerjaan kepala kampung adalah mendengarkan keluh kesah warga, termasuk anak-anak pastinya.

Sial! Dugaanku salah. Pak Yono malah memarahiku yang telah lancang menambah beban pekerjaannya, “Kamu sama saja dengan bapak dan kakekmu. Suka cari masalah dan tak tahu diuntung. Sudah bagus masih diizinkan bekerja menjadi kuli dalam pembangunan itu dan menjadi buruh pabrik, malah sok jagoan mau melawan hukum!” Pak Yono pun akhirnya pergi.

Aku semakin bingung.

Yang dilakukan Mbah dan Bapak hanyalah mempertahankan sawah keluarga. Apa yang salah dengan mempertahankan sawah? Di sekolah, aku pernah dengar kalau negara ini negara pertanian, tetapi kok mau menjadi petani saja sulit begini? Mbah malah mati ditembak karena ingin terus hidup sebagai petani di sawahnya sendiri. Sekarang, Bapak diancam karena menolak menyerahkan sawahnya untuk pembangunan pabrik, padahal lahan sawah sudah semakin sempit. Tetangga yang tadinya petani pun mulai bekerja menjadi kuli atau menjadi buruh pabrik. Benar juga kata Bapak, tanpa sawah, mau makan apa kita nanti?

Baca Juga: Secuil Kisah Di Mahameru

Aku juga semakin penasaran siapa sebenarnya hukum ini. Mengapa ia begitu menakutkan dan sepertinya sulit sekali bagi orang-orang desa seperti kami untuk berhubungan dengannya? Bapak pun harus pergi meninggalkanku dan Biyung agar dapat bertemu dengan hukum.

Aku juga sedih melihat Biyung yang harus berjuang sendiri menghidupi dirinya dan aku. Kadang di sela-sela kesibukannya, ia berpesan agar aku terus belajar dengan rajin supaya aku mampu melawan hukum.

Selama ini, aku hanya mengiakan semua perkataannya. Aku tak sanggup menambah garis kerut dan bercak hitam pada wajah Biyung yang tampak letih. Terlebih setelah Bapak pergi. Walaupun aku sendiri sebenarnya tak yakin apakah aku mampu menghadapi hukum. Bapakku yang begitu kuat melawan sengatan sinar matahari sepanjang tahun saja tak mampu melawan hukum. Apalagi aku yang hanya mampu bertahan beberapa jam terjerang panas matahari sebelum akhirnya aku tak sadarkan diri.

Aku bilang Bapak tak mampu melawan hukum karena pagi ini Bapak akhirnya tiba di rumah dengan sebuah keranda.

Di antara tangis Biyung dan riuh suara tetangga, kudengar bisik-bisik bahwa Bapak terkena peluru petugas hukum saat ia tengah memaksa untuk bertemu dengan hukum. Sementara sepasang mataku menangkap sosok Pak Yono, si cepak, dan si gembul tengah mengamati halaman rumah kami sambil tersenyum.

Jakarta, Juni 2018 – Juli 2019

***

Catatan Narablog: Cerita ini saya anggit dalam rangka penerapan ilmu yang saya dapatkan dari pelatihan menulis Kelas Cerpen Kompas yang diadakan oleh Harian Kompas.

[1] Biyung (bahasa Jawa) = ibu

Librisida dan Pisau Bermata Dua

26

Pemberangusan BukuSetelah hampir 74 tahun merdeka, Indonesia selalu diliputi masalah. Salah satunya adalah pemberangusan buku atau librisida. Buku yang merupakan jendela dunia terpaksa harus dihilangkan. Dan menariknya, dari sekian banyak buku yang terpaksa ditarik dari peredaran, sebagian besar bersinggungan dengan ajaran komunisme atau yang kerap disebut beraliran kiri.

Librisida di Indonesia

Menanggapi peristiwa berdarah G30S/PKI[1], Ketetapan Majelis TAP MPRS No: 25/MPRS/1966 tentang Pelarangan Paham Komunis di Indonesia pun dipublikasikan. Dampaknya adalah pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) dan penghilangan atribut yang berhubungan dengan PKI, termasuk buku. Bahkan, selama pemerintahan Orde Baru (1966-1998), setiap buku yang akan diterbitkan harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan terbit oleh Mahkamah Konstitusi. Dalam pelaksanaannya, jika buku tersebut dianggap memihak ajaran komunisme (beraliran kiri), buku itu tidak bisa dipublikasikan. Sementara untuk buku-buku beraliran kiri yang sudah beredar di masyarakat, penyitaan dan pemberangusan buku dilakukan di seluruh penjuru Tanah Air. Seperti yang kembali marak terjadi beberapa tahun terakhir.

Ada dua hal yang mengusik batin kami terkait represi yang berdampak pada pemberangusan buku. Pertama, mengapa tindakan tersebut kembali terjadi di negeri ini? Kedua, mengapa PKI dan ajaran komunisme begitu ditakuti hingga saat ini? Sampai-sampai ada pihak yang merasa perlu menghilangkan jejak keberadaan PKI di Tanah Air.

Pembrangusan Buku versus Undang-Undang Dasar 1945

Hukum dasar konstitusi pemerintahan Republik Indonesia, Undang-Undang Dasar 1945, Pasal 28 menyatakan bahwa setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat secara lisan maupun tulisan. Ketetapan MPRS tentang Pelarangan Paham Komunis di Indonesia jelas bertentangan dengan konstitusi dasar negara. Librisida pun tak seharusnya terjadi lagi di masa kini.

Hantu Komunisme dalam Kehidupan Masa Kini

Dikarenakan ketetapan majelis yang melarang keberadaan PKI dan maraknya pembrangusan buku yang mengusung tema PKI, saya dan banyak dari rekan saya menjadi penasaran. Apa yang sebenarnya telah dilakukan para anggota serta simpatisan partai yang sebenarnya turut berjuang merebut kemerdekaan Indonesia ini? Bahkan, pada masa pemerintahan presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, PKI sempat mendapatkan dukungan dari masyarakat, termasuk Bapak Presiden itu sendiri. Jumlah anggota partai pun bertambah hingga lima kali lipat dalam kurun waktu kurang dari sepuluh tahun.

Demi mengobati rasa penasaran kami, saya dan rekan-rekan berniat untuk membeli buku seri investigasi dan tokoh majalah Tempo. Namun, niat sederhana ini berujung pelik. Beberapa tahun lalu, buku-buku tersebut resmi ditarik dari peredaran. Lagi-lagi, lantaran buku-buku tersebut beraliran kiri.

Kami pun segera berselancar menelusuri arus informasi di dalam jaringan. Celakanya, tak ada situs resmi yang mampu memberikan informasi yang sahih. Paling-paling hanya seputar peristiwa G30S dan informasi singkat terkait Musso dan DN Aidit, dua tokoh utama partai tersebut.

PKI dan ajaran komunisme serupa hantu yang sangat diyakini keberadaannya, tetapi tidak dapat ditemukan.

Paranoia: Pisau Bermata Dua

Librisida dan Pisau Bermata DuaKebuntuan ini membuat kami sadar akan satu hal. Sifat antipati terhadap sepenggal peristiwa sejarah hanya akan menjadi pisau bermata dua yang siap menikam siapa saja kapan pun dan di mana pun. Akibatnya bisa lebih mengerikan daripada bangkitnya PKI dan ruh komunisme pada kehidupan saat ini. Mengapa?

Pemusnahan bagian sejarah justru tanda bahwa bagian tersebut sangatlah krusial dan menimbulkan gairah masyarakat untuk terus mencarinya. Apa yang saya dan beberapa rekan lakukan adalah tanda. Tindakan represi yang berujung pada librisida hanya membuat masyarakat semakin penasaran dengan isu komunisme dan sepak terjang PKI.

Warga pun semakin gesit dan getol mencari informasi terkait hal-hal tersebut. Apalagi, di era Revolusi Industri 4.0 informasi bisa datang dari mana saja. Kami bahkan sempat membaca artikel tentang PKI dari blog pribadi milik seseorang yang kami tak tahu latar belakangnya. Informasi yang sempat kami utarakan pada paragraf-paragraf sebelumnya pun kami lansir dari Wikipedia. Konon, informasi yang tertera pada situs Wikipedia didapat dari proses akumulasi atas kontribusi para pengguna. Lagi-lagi, yang belum tentu sesuai kualifikasinya.

Celakalah bangsa ini jika tidak segera dibekali pengetahuan dan pemahaman yang memadai tentang isu-isu sarat kontroversi semacam PKI dan ajaran komunisme ini. Tak heran, jika fenomena paranoida dan ujaran kebencian bertebaran di mana-mana. Baik di dalam maupun luar jaringan. Rakyat Indonesia pun terpecah belah. Seperti ketika Peristiwa 65 terjadi.

Contohnya adalah, ujaran kebencian dari warganet terhadap Annindya Kusuma Putri. Penyandang gelar Putri Indonesia 2015 ini sempat mengunggah foto dirinya yang tengah menggunakan kaus merah berlambang palu arit ke akun Instagram pribadinya. Kaum penghujat sang putri pun bermusuhan dengan kaum pendukung sang putri. Sementara di luar jaringan, pembubaran Belok Kiri Festival[2] dan penggerebekan Simposium 1965 [3]adalah bukti nyata dari bahaya paranoia akan PKI terhadap kehidupan berbangsa di negeri ini.

Revolusi Mental Jangan Lagi Sekadar Slogan

Oleh karena itu, kami yakin pemberangusan buku dan tidakan represif lainnya bukanlah solusi agar sejarah kelam tak terulang kembali. Segenap anggota masyarakat harus berubah. Isu-isu sarat kontroversi tak lagi perlu ditakuti, tetapi harus dipahami. Dialog terbuka dan sistem pengajaran yang mendukung pemahaman (bukan sekadar penghafalan) materi adalah kunci agar masyarakat memiliki empati terhadap sesamanya. Bahkan, dengan mereka yang berbeda pandangan sekalipun. Dengan demikian, bangsa ini tidak mudah terpecah belah. Bhinneka Tunggal Ika pun sungguh akan menjadi semboyan hidup.

***

Jakarta, Februari 2019

Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit bersama Ikha dan Agusta Permana dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

Sumber Referensi:
  1. https://nasional.kompas.com/read/2016/05/10/20442411/TAP.MPRS.Nomor.25.Tahun.1966.Belum.Dicabut.Pemerintah.Larang.Semua.Hal.Berbau.Komunis.
  2. https://metro.tempo.co/read/748759/festival-belok-kiri-dilarang-ini-kronologinya
  3. https://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160419_indonesia_hasil_simposium1965

[1] Peristiwa besar yang terjadi saat suatu usaha kudeta yang menewaskan tujuh perwira tinggi militer Indonesia berserta beberapa orang lainya. Kejadian itu terjadi pada tanggal 30 September 1965 malam sampai dengan 1 Oktober 1965.

[2] Pagelaran seni yang rencananya akan berlangsung pada tanggal 27 Januari 2016 di Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Festival ini tidak jadi diselenggarakan karena gagal memperoleh izin dari pihak yang berwenang.

[3] Sebuah pertemuan yang diselenggarakan untuk menganalisa peristiwa berdarah 1965. Pertemuan ini berlangsung di Jakarta pada tanggal 18-19 April 2016.

Asus ZenBook, Sahabat Perjalanan Baru

61

“Lo beneran nulis, ya?” Pertanyaan Luci membuyarkan konsentrasi Widya. Seketika, tatapan Widya menuju ke arah sahabatnya.

Namun, Luci sepertinya tidak menyadari keterkejutan Widya. Ia terus menceracau, “Gue kira, lo langsung mengetik artikel-artikel lo di laptop saat lo bilang mau nulis dulu. Siapa sangka kalau lo tuh beneran nulis di atas kertas begini,” ujar Luci sembari menunjuk ke arah kertas yang berserakan di lantai.

“Lo tahu laptop gue itu gede dan berat banget, kan? Ribet kalau dibawa traveling. Belum lagi baterainya cepat habis,” ujar Widya dengan tatapan kembali tertuju pada tulisannya.

“Tapi lo yakin mau ngetik semua ini saat lo sudah di Jakarta? Segala hawa sejuk pegunungan, hijau pepohonan, dan tawa riang anak-anak setempat yang sudah lama hilang dari peradaban Jakarta?”

“Mau bagaimana lagi, Ci?”

“Kenapa enggak beli laptop yang lebih kecil, Wid?”

“Boros! Laptop gue sebenarnya masih bisa dipakai.”

“Wid, pemborosan terjadi ketika lo kerja dua kali untuk menghasilkan sebuah artikel. Bahkan, lo sendiri yang suka ngeluh kalau elo gagal ikut lomba blog tentang perjalanan gara-gara kehilangan mood atau materinya yang enggak cukup. This is the reason why, Wid. Seandainya ada laptop, lo bisa nulis sambil riset, kan?”

“Ya, tapi masak jalan ke pelosok bawa laptop, Ci. Berat dan boros tempat. Lo mau bawain?”

“Ya ampun, Wid. Ke mana aja sih, Lo? Sekarang zaman sudah berubah.”

Laptop Canggih Tidak Harus Gigantik.

Gambar Asus Zenbook Seri terbaru warna BiruLuci melanjutkan, “Lo tahu enggak? Asus baru ngluarin seri ZenBook terbaru. Penampilannya sleek. Paling ringkas di kelas ultralight dan ultracompact notebook. Ketebalannya cuma 12,9 milimeter dan beratnya nggak sampai 1 kilogram. Ukurannya ada yang 13 inci (ZenBook 13 UX333), 14 inci (ZenBook 14 UX433), atau 15 inci (ZenBook 15 UX533). Dengan penampilan seringkas itu, prosesornya sudah menggunakan Intel Core generasi ke-8, Core i5 ataupun Core i7. Jadi enggak perlu waktu lama untuk nyalain laptop atau rendering bahan konten lo. Ide lo enggak keburu kabur,” Luci melanjutkan penjelasannya. Ia pun lantas memunguti kertas buram Widya yang berserakan di lantai rumah Mbaru Niang itu.

***

Dua sahabat ini memang sudah lama merencanakan untuk bermalam di rumah adat berbentuk kerucut tersebut. Mereka ingin berkenalan dengan salah satu simbol kebudayaan Indonesia bagian Timur. Desa Wae Rebo adalah satu-satunya desa yang masih melestarikan rumah adat khas Flores itu. Tak ayal, desa tersebut pun dinobatkan sebagai salah satu situs warisan budaya oleh organisasi kebudayaan dunia, UNESCO.

Widya kembali pada tulisannya. Dengan nada bergumam, Luci membaca tulisan Widya pada kertas-kertas tersebut

Satu lembaran kertas berisi deskripsi mengenai rumah adat Mbaru Niang.

“Berbentuk kerucut, terbuat dari kayu, dan beratapkan anyaman ilalang. Warna kayu yang mulai kehitaman menandakan usia Mbaru Niang yang sudah tua. Namun, terlepas dari usianya, bangunan ini masih terlihat kokoh. Ada yang menarik dengan kualitas kayu bangunan di sini. Yang patut di riset lebih lanjut.”

Sementara selembar yang lain memuat suasana perjalanan dua sahabat ini menuju desa Wae Rebo.

“Kami menghabiskan waktu sekitar tiga jam hanya untuk menempuh jarak tujuh kilometer. Jalan setapak beralaskan batu kali ini memang menyuguhkan tantangan tersendiri. Elevasi jalur memang tak terlalu besar, tetapi permukaan batu kali yang licin dan dipenuhi lumut ini membuat kami harus ekstra hati-hati.”

***

“Gue enggak percaya lo bakal ngetik ulang semua ini di Jakarta. Enggak heran lo sering batal nulis gara-gara enggak mood.”

Merasa tidak tahan dengan ocehan sahabatnya, Widya akhinya angkat bicara.

“Ya, tetapi lo pikir dahulu, Ci. Kita seringnya jalan-jalan ke alam bebas bukan staycation di hotel mewah. Kalau baterai laptop habis, nasib gue sama saja seperti sekarang. Nulis pakai pen dan kertas. Iya, kan?”

“Eit, jangan salah! Baterai dari produk terbaru ZenBook ini bisa bertahan sampai 16 jam untuk yang ukuran 15 inci. Sementara untuk ukuran 13 inci dan 14 inci baterainya bisa bertahan sampai 14 jam. Tapi, emang lo yakin mau nulis terus-terusan saat liburan? Terus yang ditulis apa?” ujar Luci sambil menyenggol lengan Widya.

“Hafal ya, lo? Wartawan merangkap sales Asus?” ujar Widya yang terkejut dengan pengetahuan Luci seputar lini terbaru ZenBook ini.

“Nih,” Luci pun menyodorkan brosur ZenBook. Widya terkejut.

“Seriusan lo, Ci? Sampe bawa brosur ke sini,” ujar Widya penuh rasa heran.

“Lo mah enggak perhatian. Kan, gue sudah bilang kalau gue harus datang ke acara konferensi pers Asus sebelum ke bandara. Alhasil, brosur ini masih anteng di ransel gue.”

“Brosur doang? Laptop barunya mana? Buat gue, ya?” Widya gantian mengejek temannya.

“Gila ya, Lo. Blogger receh kok dipalak. Ada juga gue yang minta ditraktir lo, si karyawan bank yang gajinya selangit tapi beli laptop buat diri sendiri aja pelit amit-amit.”

Spesifikasi ZenBook
Spesifikasi ZenBook Terbaru

Spontan, Widya menjitak Luci. Mereka berdua pun akhirnya tertawa dengan guyonan yang saling mereka lontarkan. Widya pun kemudian membaca brosur yang diberikan Luci secara saksama.

Penjelasan Luci benar.

Lini Terbaru dari Asus ZenBook Memang Hadir Dengan Konsep yang Ringkas dan Ringan.

Namun, soal performa, ia tak kenal kompromi. Sertifikasi Military Grade MIL-STD-810G pun dikantongi. Laptop yang tipis dan ringan ini ternyata berdurabilitas tinggi. Ia mampu bertahan pada situasi ekstrem. Fitur ini sangat dinantikan Widya, seorang pegawai bank sekaligus pejalan yang kerap menelusuri daerah pegunungan dan pelosok Indonesia.

Selain itu, penggunaan NanoEdge Display memungkinkan Asus ZenBook terbaru ini untuk memiliki screen-to-body-ratio hingga 92%. Layar pun menjadi lebih lebar tanpa membengkakkan ukuran laptop secara keseluruhan. Resolusi Full HD (1920 x 1080 pixel) pun menjadi optimal. Foto-foto dan video akan tampak lebih jernih. Cocok sekali dengan kebiasaan Widya yang gemar beselancar di dalam jaringan untuk mencari tempat-tempat tujuan wisata. Ia juga bisa lebih percaya diri dalam mengunggah foto-foto perjalanan ke situs pribadinya.

Gambar Asus Zenbook produk terbaru dengan kualitas terpercayaDan yang paling menarik perhatian Widya adalah fitur ErgoLift Design. Fitur ini memungkinkan badan laptop terangkat memebentuk sudut hingga tiga derajat ketika layar dibuka. Posisi laptop seperti ini sungguh memberikan kenyamanan ketika bekerja. Dan tentunya, rasa aman dari bahaya mesin laptop yang terlalu panas lantaran terus-menerus digunakan.

Widya menganggut-anggut.

***

“Gimana? Naksir lo sama Asus ZenBook terbaru ini?” Luci akhirnya membuka suara setelah beberapa menit tak diacuhkan Widya.

“Begitu kita sampai di Jakarta, temenin gue beli ZenBook baru ini, ya? Ini sudah sudah dijual untuk umum, kan?”

Asus Outlet di Indonesia
Outlet Asus di Indonesia

“Ya sudah dong, Wid. Malah kalau lo beruntung, lo bisa dapetin tas laptop eksklusif rancangan Sebastian Gunawan. Favorit lo juga, tuh.”

Fix! 2019 Pakai ZenBook lha, Gue.”

Widya pun segera merampungkan catatan perjalanannya. Kedua sahabat ini kemudian menikmati sisa hari di Flores bersama-sama.

Lini terbaru dari Asus ZenBook, yang berpenampilan sleek dan menyandang military-grade akan segera menjadi sahabat baru yang akan menemani setiap langkah Widya dan Luci menjelajahi penjuru negeri.

***

Jakarta, Februari 2019

Catatan Narablog: Artikel ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Asus dengan tema The World’s Smallest 13, 14, 15 Inch Laptop” yakni ZenBook UX333, UX433 dan UX533. #ZenBookID #2019PakaiZenBook #unleashyourcreativevision

Sumber Referensi:

  1. http://www.bloggerien.com/2019/01/inilah-seri-asus-zenbook-terbaru-laptop-paling-ringkas-di-dunia.html
  2. https://drive.google.com/drive/folders/1q8Sy9jx45Dsu-hFhHmV2aH4eIHr1DX8x

Aquaman: Propaganda Daur Ulang yang Menolak untuk Mengulang Kekelaman

0

Saat menerima kabar bahwa James Wan (Insidious, The Conjuring) akan menjadi sutradara Aquaman, film teranyar dari DCEU (The DC Extended Universe), ada sedikit rasa cemas yang menyergap saya. Mau bikin film segelap apalagi (jika bukan kelam)? -umpat saya dalam hati.

Seharusnya DCEU belajar dari Marvel Studio yang lebih memercayakan film-film pahlawan super garapannya kepada penggemar komik. Cukup sudah pengalaman kelam Zack Snyder yang menuai aneka kritik yang keji atas lima film DCEU yang ia garap. Tapi siapalah saya? Hanya sekadar penggemar film-film pahlawan super garapan Marvel Studio (MCU – Marvel Cinematic Universe) yang masih awam tentang dunia perfilman. Perkenalan saya dengan MCU pun baru dimulai tahun 2015 dalam rangka mempererat tali persaudaraan dengan adik laki-laki semata wayang.

Yah, ikatan persaudaraan memang bisa berdampak apa pun terhadap manusia, tak terkecuali pahlawan super macam Aquaman (Jason Momoa), setengah manusia setengah dugong Atlantian. Ia ragu untuk bertarung melawan adiknya sendiri. Padahal, pertarungan ini diperlukan untuk menyelamatkan daratan dari kehancuran.

Wow, kita tak sendirian di bumi ini ternyata, Saudara-Saudara.

Di bawah laut sana ada tujuh kerajaan yang tengah menderita karena sampah dan limbah yang kita buang ke perairan. Kini, mereka hendak melancarkan serangan balas dendam.

Berterima kasihlah kita kepada si cantik berambut merah, Mera (Amber Heard), warga laut yang masih waras. Putri dari salah satu kerajaan laut itu masih berniat membantu agar penduduk bumi ini bisa hidup jaya. Darat dan laut setidaknya. Ia pun pergi mencari Arthur Curry/Aquaman, kakak satu ibu berbeda ayah dari Raja Atlantis saat ini, Orm (Patrick Wilson), untuk menaklukkan raja yang penuh angkara.

Di kerajaan laut, seorang ratu bisa nikah dua kali? Enggak tahu juga sih, ya. Akan tetapi, pernikahan pertama ibu mereka bukan dengan keturunan ningrat dari kerajaan laut. Atlanna (Nicole Kidman) menikah dengan Thomas Curry (Temuera Morrison) penjaga mercusuar. Dari pernikahan tersebut, terlahirlah Arthur Curry. Entah Arthur sang raja atau Arthur si angin puting beliung. Yang jelas dada saya bergemuruh tak tentu sepanjang film melihat si gondrong penuh bewok nan seksi, Jason Momoa, beraksi sembari megibaskan rambut gondrong kriwilnya.

Untuk melindungi keluarga kecilnya dari bahaya yang akan mengancam, Atlanna pun kembali ke laut dan memercayakan Arthur kepada Nuidis Vulko (Willem Dafoe). Atlanna pun akhirnya menikah dengan Raja Laut hingga lahirlah Orm.

Perlu teman-teman semua ketahui bahwa adik tiri Aquaman ini sungguh mengutuk polusi lautan yang semakin memperburuk dan sudah memasuki tahap membunuh peradabannya. Rencana balas dendam pun ia susun. Serangan pertamanya adalah banjir badang yang melemparkan kembali sampah-sampah manusia ke pesisir pantai.

Seram, gila. Maka dari itu, mulai sekarang marilah kita bersikap ramah terhadap lingkungan sekitar terutama lautan. Jangan gegabah membuang barang yang sudah dirasa tak diperlukan.

Daur ulang adalah pesan moral sekaligus iman dari film ini.

Sampai-sampai pemainnya pun didaur ulang. Sebelum memerankan Raja Orm, Patrick Wilson adalah pemeran Nite Owl II dalam Watchmen (2009). Sementara, Ratu Atlanna (Ibu Aquaman dan Raja Orm) diperankan oleh Nicole Kidman yang pernah menjadi Dr. Chase Meridian dalam Batman Forever (1995).

Untungnya, film ini tidak mendaur ulang kekelaman (karena penggunaan kata kegagalan sepertinya terlalu kejam) yang sama dengan film-film DCEU sebelumnya. Franchise film ini sepertinya sudah belajar dari grup sebelah, MCU, untuk membuat karakter-karakternya lebih manusiawi. Selain digambarkan sebagai sosok yang koplak, Aquaman juga tak segan-segan untuk menunjukkan kerentanannya, antara lain rasa gundah lantaran ia merasa bahwa keberadaanya tidak diterima oleh peradaban laut maupun darat dan rasa tidak siap untuk memikul tanggung jawab yang besar sebagai seorang raja.

Satu kritik yang rasanya perlu saya ungkapkan. Sebagai film yang berdakwah tentang ramah lingkungan dengan konsep daur ulang, ada baiknya Aquaman tidak menyia-nyiakan detil yang sudah ada. Pada bagian awal, film ini sempat menjelaskan asal usul kerajaan Atlantis dan bagaimana Atlantians bisa bernapas dengan baik di perairan maupun daratan. Namun, pada akhirnya hanya keturunan ningratlah yang masih memiliki kemampuan tersebut. Sayangnya, tidak ada penjelasan bagaimana proses penentuan siapa yang berhak dan tidak berhak memiliki kemampuan tersebut. Proses penceritaan elemen ini akan terasa utuh jika saja lubang plot itu mampu ditutup.

Secara keseluruhan, saya menikmati film ini. Saya pun tak merasa rugi telah membayar lebih dan mengambil cuti sehari agar bisa menyaksikannya di layar IMAX pada pertunjukan pertama. Apalagi, saat menyaksikan Aquaman basah-basah keluar dari air terjun dengan kostum kerajaan (atasan emas ketat serta celana-yang juga ketat-berbahan jins?) dan trisula keramatnya yang berkilauan.

Yeah, True King Wears Wet Jeans (in the deep blue sea)!

Aquaman - Real King Wears Tight Jeans
Aquaman – Real King Wears Tight Jeans
Sumber Gambar: IMDB

***

Jakarta, Februari 2019

Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

Senja dan Cahaya Fajarku

56

Kau bertanya mengapa senja kerap dipandang istimewa. Seorang penulis bahkan pernah membukukan enam belas kisah tentang senja. Tidak tanggung-tanggung, sang penulis pun becerita tentang seorang pemuda yang rela menantang maut demi mencukil sepotong senja untuk pacarnya.[1]

Aku hanya mampu termangu menanggapi pertanyaanmu.

Di atas, langit senja menjelma kelabu.  Gemuruh hatinya mengusik jantungku. Tetes air matanya membasahi sekujur tubuh kita. Ia mungkin tersentak dengan pertanyaanmu barusan. Atau jangan-jangan, ia kecewa mendapati aku yang hanya bungkam.

Sumber Gambar: Akun Instagram @_katahatikita

Aku bukan penikmat senja, Nur. Lembaran lembayung yang memesona mata itu selalu mengantarku pada kegelapan malam. Ibuku bahkan merasa perlu merias wajahnya dengan warna-warna cerah dan memalut tubuhnya dengan warna senada. Pupur kekuningan, gincu merah menyala, dan perona mata aneka warna selalu menghiasi wajah ibu pada saat malam menjelang. Rambut sepinggang ibu disanggul rapi. Seketika, aroma bunga melati, mawar, dan kenanga terkuak dari tubuh ibu yang baru selesai mandi. Ibu pun kemudian membalurkan minyak beraroma cendana ke lehernya yang jenjang. Tak ketinggalan, tusuk rambut berwarna tembaga menghiasi kepalanya.

Sebelum meninggalkan rumah kami, ibu mengenakan jaketku. Tubuh berbalut kemban jingga dan sehelai kain jarik itu, ibu tutupi dengan baju luar berbahan jeans yang sudah mulai kekuningan.

Ibu siap untuk pergi.

“Ibu berangkat kerja dulu, yah. Sebentar lagi Pakde akan datang menjagamu,” ujar ibu sambil mengusap kepalaku.

“Baik-baik sama Pakde, Nduk. Kalau bukan karena Pakde yang sudah mengizinkan kita tinggal di tempat ini, kita pasti sudah jadi gelandangan,” pesan ibu sebelum ibu akhirnya menghilang di antara gumpalan awan hitam.

Yang ibu maksud dengan Pakde adalah Darsam. Ia pemilik bangunan yang ibu dan aku tempati.

Awalnya, Darsam memang terkesan baik. Ia kerap membawakan kue dan permen untukku. Katanya, kudapan itu untuk menemaniku belajar agar aku tak lekas mengantuk. Ia juga sering menimangku di pangkuannya.

Seiring bertambahnya usiaku, aku tersadar. Darsam bukanlah figur seorang pakde seperti yang selama ini kukira.

Apalagi, ia makin suka seenaknya menyuruhku ini dan itu. Hampir setiap malam, ia memasuki kamarku. Menyuruhku menanggalkan seluruh pakaian.

“Dingin, Pakde!” Aku pernah menolaknya. Ia malah tersenyum dan mendekatiku.

“Aku akan membuatmu merasa hangat, Nduk,” ujarnya sembari tertawa dan melepaskan pakaianku secara paksa.

Selanjutnya, yang kurasakan adalah perih dan pengap. Tubuh besarnya, yang mengingatkanku pada Dushasana[2], menindih tubuhku dan membuatku sulit bernapas. Belum lagi, desahannya yang beraroma getir minuman keras. Desahannya makin tergesa berbareng dengan bertambahnya rasa nyeri pada selangkanganku.

Itulah ingatanku tentang senja dan apa yang menghampiri setelah langit lembayung itu beranjak. Aku tak pernah menyukainya, Nur.

Cahaya Fajar yang Sabar dan Lembut menyinari MerbaruAku lebih memilih fajar. Fajar sabar dan lembut seperti ibu. Kilau jingga kekuningan yang terpancar dari ufuk timur itu membelai lembut jiwa dan raga yang tengah lena didekap mimpi. Membiarkan mereka menggeliat dengan irama sendiri untuk memulai hari. Hari yang mengandung harapan baru.

Ah, ibu selalu menjanjikan hidup yang baru bagiku. Perempuan tangguh itu terus berjuang membelah kepekatan malam agar aku bisa sekolah sampai menjadi sarjana. Agar kelak aku tidakk perlu bekerja hingga larut hanya untuk menyambung hidup, kata ibu suatu waktu.

Aku sungguh tak ingin menambah beban pikiran ibu. Aku hanya mampu membisu tentang Darsam di hadapannya. Kubiarkan segala remai, marah, dan kecewa bersembunyi dibalik tumpukan buku pelajaran. Aku ingin meraih nilai tertinggi agar bisa diterima di sekolah khusus putri. Aku tak ingin bersekolah bersama murid laki-laki. Keberadaan mereka hanya mengingatkanku kepada Darsam dan kezalimannya.

Disiplin belajarku tak sia-sia rupanya, Nur. Aku berhasil bersekolah di sini. Sekolah menengah pertama khusus putri. Aku pun akhirnya bertemu denganmu. Engkau yang selalu sabar mendengar rintihanku tentang Darsam dan membiarkanku berembuk dengan traumaku. Saat arus kesedihan mulai mengguncang diriku, engkau dengan sigap meraih tubuhku agar aku tidak hanyut. Engkau tak pernah terburu-buru untuk menghujaniku dengan kata-kata motivasi yang klise itu.

Sungguh, engkau adalah cahaya fajar keduaku setelah ibu, Nur.

Sayangnya, aku tak mampu membalas kebaikanmu selama ini. Sore ini, engkau datang kepadaku tersedu-sedu. Lelaki pujaan hatimu lebih memilih seorang gadis bernama Senja daripada dirimu. Namun, aku hanya mampu bergeming. Aku tengah berusaha membendung luapan perasaan yang mulai membuncah di dadaku, Nur.

Engkau adalah sosok yang paling aku kasihi. Perlahan, engkau telah menyembuhkan lukaku. Aku berharap bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Namun, engkau telah memilih tambatan hati. Dan aku, bukanlah orang yang engkau pilih itu.

Maka aku hanya mampu meraih tubuhmu, Nur. Menyediakan bahu dan dada untuk mencurahkan kesedihanmu. Membiarkan genangan kekecewaan di pelupuk mata kita mengalir deras. Bersatu dengan hujan yang jatuh dari langit senja yang tak pernah kita istimewakan.

Aku akan selalu menyangimu, Nur Hasanah.

Alina
Jakarta, Februari 2019

***

Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

[1] Terinspirasi dari kumpulan cerita Seno Gumira Ajidarma, Sepotong Senja untuk Pacarku

[2] Pemimpin para Korawa, tokoh antagonis dalam Mahabharata, Wikipedia.org

Akhir Pekan di Kuala Sajak

56

Tawaran itu datang pada Jumat petang. Saat butir hujan sedang berjatuhan. Ketika ide tak kunjung singgah dalam benak.

“Berakhir pekanlah di Kuala Sajak,” ungkapnya.

Saya terima ajakan itu. Tanpa perlu berpikir panjang. Arco Transept, pemilik kuala, terkenal ramah, walaupun ia sering tampak gelisah.

Ini bukan kali pertama saya berjumpa dengan sang empunya kuala. Pertemuan pertama kami terjadi beberapa tahun silam. Saat itu, Arco tengah mengelola sebuah kedai di Palembang, kota kelahirannya.

Hampir seluruh ruang kedai dipenuhi dengan kegelisahan dan kegusaran. Pun, menu yang ditawarkan. Pempek yang tak pernah dipedulikan asal-usulnya, kopi-kopi kesepian, dan apel segar dari pohon yang terasingkan.

Arco tengah marah kepada arus modernisasi yang mengguyur Palembang. Kemarahannya bisa dirasakan melalui sajak-sajak yang ia torehkan pada dinding kedai.

Aku tenggelam di hitam manis takdir
Persis menahan getir bibir
Menahan pedas juga deras
Peradaban yang digerus arus.

Dari lengan-lengan sungai dan jembatan
Jala menjaring keringat dari kening
Turis datang melahap lenggang
Sudah kenyang, mereka pulang

Pempek – Arco Transept, 2016

Namun, di antara bongkah rasa marah, masih terselip secercah sikap ramah. Puisi Sungai menyiratkan kerinduan Arco pada peradaban yang lalu. Saat warga masih gemar berkumpul dan berbincang tentang hidup.

Di tubuhku, bulan, jembatan,
Dan kota menghiasi diri,
Sembunyi dari muram.

Padaku,
Mereka berkaca
Sebuah arus hidup dan gelombang.

Sungai – Arco Transept, 2016

Tahun-tahun berlalu, kami tak pernah lagi bertemu. Hingga akhirnya saya menjejakkan kaki di beranda Kuala Sajak. Kegelisahan Arco yang sama menyambut saya dengan ramah. Hanya personanya yang berbeda.

Penyair Telah Lebih Dewasa Bersama Puisinya

Sajak Akhir Pekan yang terpampang pada dinding beranda adalah bukti. Puisi ini masih menggambarkan kegelisahan Arco dalam menghadapi kehidupan modern. Namun, dalam puisi ini tak ada lagi kesan marah.

Mari kita simak bait kedua dari sajak ini.

Aku ingin mendaki tubuhmu yang mahameru. Walaupun selalu ada aroma mantan kekasihmu di puncak itu, di sana aku akan swafoto dengan tongsis agar kita eksis, menjadi petualang untuk konten instagram kekinian.

Akhir Pekan – Arco Transept, 2018

Gambar Mahameru yang ditulisi quote dari puuisi Arco - Berakhir Pekan bersama ArcoPenggunaan kata swafoto, tongsis, eksis, dan instagram adalah tanda. Arco telah berdamai dengan masa sekarang dan yang akan datang. Ia tidak lagi menolak keberadaan elemen-elemen tersebut. Justru, Arco merangkul dan menjadikan mereka bagian dari sebuah puisi sederhana yang menusuk tepat pada jantung kehidupan zaman sekarang. Pemujaan kepada penerimaan sosial yang berlebihan.

Akhir kata, saya tidak menyesali keputusan saya untuk menghabiskan akhir pekan di Kuala Sajak. Membaca puisi-puisi yang disuguhkan laksana menggauli kemasaman dan kegetiran hidup dengan lebih estetis dan dewasa.

Mungkin itulah yang membedakan puisi atau sajak dengan racauan belaka. Estetika menjadi dewasa!

***

Jakarta, Februari 2019

Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

Phi dalam Lingkaran Waktu

42
Judul:Phi
Penulis:Pringadi Abdi Surya
Penerbit:Shira Media
Cetakan:Cetakan Pertama, September 2018
Tebal:368 halaman; 13x19cm
ISBN:978-602-6657-88-6

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.” – Soe Hok Gie

Saya tak pernah tahu apakah Phi merasa beruntung ada di dunia ini.

Ketika bayi, ia dibuang oleh orang tua biologisnya. Kemudian, sepasang suami istri yang baru saja kehilangan anak kandung menemukan bayi Phi dan lantas mengangkatnya sebagai anak. Mereka kemudian menganggap pertemuan itu adalah takdir. Maka dari itu, sang suami menberinya nama Phi. Phi berarti rasio emas. Berdasarkan rasio tersebut, semua hal di dunia ini sudah ada aturannya, rasio bakunya. “Kita bertemu itu sudah diatur Tuhan. Takdirmu adalah menjadi anak kami. Tuhan mengirimkanmu untuk menghapus kesedihan kami. …Tapi jangan kautanya aku, golden ratio itu bagaimana menghitungnya. Aku tah paham (hlm. 37),” ujar sang suami, ayah angkat Phi.

Halaman pertama dari Bab 3 buku Phi karya PringadiYang juga tidak dipahami sang ayah adalah dampak dari ucapannya tersebut. Kebenaran yang ia sampaikan itu membentuk lapisan baru dalam benak Phi. Kesadaran bahwa kehadiran Phi tak pernah diinginkan. Jika selama ini orang tua angkat tersebut selalu merawat dan mencukupi kebutuhan Phi, semua itu hanyalah pengalihan dari cinta pasturi tersebut kepada Nani, bayi mereka yang meninggal sesaat setelah dilahirkan.

Bagi Phi, cinta orang tua angkatnya adalah cinta yang substitutif.

Kesadaran baru itu memang bisa Phi kesampingkan dengan memikirkan banyak hal, tetapi tak akan pernah hilang. Sepanjang perjalanan menuju kedewasaan, Phi selalu dikelilingi perasaan resah. Apakah cinta sungguh-sungguh akan ada untuknya?

Bahkan, ketika Phi SMA, ia merasa bahwa cinta kekasihnya adalah cinta yang pragmatis. Apalagi, saat sang pacar mengancam untuk memutuskan hubungan mereka lantaran Phi menolak untuk memberikan sontekan.

Namun, saat Zane memasuki kehidupan Phi, sesuatu berubah.

Halaman pertama dari Bab 8 buku Phi karya PringadiZane adalah seorang mahasiswi fisika. Namanya mengingatkan Phi pada lambang unsur seng, Zn. Seng merupakan zat mineral yang esensial bagi tubuh manusia. Dampak dari kekurangan zat seng pada manusia sama seperti akibat ketidakhadiran Zane dalam keseharian Phi.

Tanpa Zane, Phi tak mampu berfungsi. Jangan tanya mengapa. Bagi Phi, cinta tak pernah butuh rasio. Belum ada rumus fisika yang menjelaskan kenapa seseorang dapat jatuh cinta, merasakan kedekatan yang luar biasa sejak kali pertama berjumpa. Tidak perlu menunggu delapan koma dua detik untuk membuat semuanya terjadi – atau lebih lama dari itu (hlm. 185).

Zane tak perlu penjelasan apa pun untuk menyadarkan Phi bahwa cinta itu ada.  Bahkan, cinta pantas diperjuangkan melampaui batas ruang dan waktu. Tanpa peduli seberapa jauh masa lalu, Phi tetap kembali untuk mencintainya lagi dan lagi.

Phi dan Pringadi

Kisah Phi memang tidak bisa begitu saja dilepaskan dari sosok penulisnya, Pringadi Abdi Surya (Mas Pring). Kehadiran Mas Pring begitu santer di setiap lembar cerita. Hal ini paling nyata terlihat dari tanggal lahir Phi yang sama persis dengan tanggal lahir Mas Pring, 18 Agustus 1988.

Novel ini memang terinspirasi dari pengalaman pribadi penulis. Jadi, tak heran jika (seperti dalam kumpulan cerita Mas Pring yang pernah saya sebelumnya, Hari Yang Sempurna untuk Tidak Berpikir), pembaca kerap disuguhkan teori-teori sains, matematika, sejarah, dan filsafat pada adegan-adegan cerita. Semua itu tak lain adalah referensi pengetahuan penulis sendiri.

Untungnya, Mas Pring begitu cerkas menempatkan muatan pengetahuan tersebut dalam gerbong cerita. Informasi tersebut tak menjadi sekadar tempelan. Pembukaan pada bab dua adalah salah satu contohnya. Mas Pring membuka bab ini dengan adegan proses mengajar di kelas. Teori Mendel disisipkan. Tujuan dari adegan ini adalah mengkritik sistem pengajaran saat itu yang hanya satu arah. Para guru hanya membaca langsung dari diktat dan murid-murid mencatat. Saat Phi, seorang murid, mengajukan pertanyaan atau mengoreksi pernyataan seorang guru, sang guru malah kesal dan menyuruhnya menghadap guru BK di mana ia mendapat wejangan berikut.

“Seorang murid harus selalu patuh kepada gurunya. Kau, sekali pun, tidak boleh menentang gurumu. Itu kurang ajar!” bentaknya.

“Termasuk jika cara mengajarnya membosankan dan tidak ada hal baru yang bisa saya ketahui darinya?” Aku tersenyum simpul.

“Besok panggil orang tuamu ke sini! (hlm. 32)”

Orang-orang memang sering menilai segala sesuatu dari usia dan pengalaman. Dan apalah aku jika dipandang dari kedua sisi itu (Hal 33)

Bagian ini membuat saya teringat desaparecidos dan beredel yang marak terjadi terhadap oknum yang dianggap kritis terhadap pemerintahan. Untuk mencegah merebaknya bibit-bibit yang kelak akan mengusik kekuasaan pemerintah, pembodohan massal sudah dilakukan semenjak bangku sekolah. Melawan pihak penguasa (dalam hal ini guru dan orang yang lebih tua), dianggap tabu.

Jembatan antara Sastra, Sejarah, dan Generasi Muda

Cover buku Phi, novel teranyar PringadiKetika membaca novel ini, saya juga jadi teringat akan pernyataan Budi Darma dalam acara Menjadi Manusia dengan Sastra.  Menurut Budi Darma, sastra mampu membuka cakrawala pikiran para pembaca dan membuat mereka menjadi dewasa dengan lebih cepat lantaran sastra banyak memasuki wilayah humanisme suatu kejadian.

Sayangnya generasi muda saat ini masih sangat berjarak dari sastra, ungkap Seno Gumira Ajidarma pada acara yang sama. Alasannya ada pada mitos tentang karya sastra itu sendiri. Salah satu mitos tersebut adalah bahasanya yang rumit dan mendayu-dayu. “Selama sastra masih belum bisa beranjak dari mitos tersebut, sastra akan sulit diperkenalkan kepada generasi muda,” papar Seno.

Baca juga: Dukung Saya Menjadi Narablog Era Digital, Bos

Phi bisa menjadi jembatan yang menghubungkan sastra dengan generasi muda. Diceritakan dari sudut pandang generasi milenial sekaligus alumni fakultas MIPA, kisah cinta Phi diceritakan dengan bahasa yang lugas. Tanpa diksi yang rumit ataupun penjelasan yang mendayu-dayu. Bahkan, ketika Mas Pring membangun adegan ketika Phi tengah cemburu melihat Zane bersama laki-laki lain. Mas Pring malah menghubungkan kecemburuan Phi dengan salah satu peristiwa paling berdarah dalam sejarah Indonesia.

“Komunis sering disalah artikan oleh oknum-oknum yang hendak memecah belah bangsa ini, Phi.”

“Maksudmu, Thom?”

“Iya, komunis selalu diidentikkan dengan ateis, tidak punya Tuhan, antiagama. Tapi bukan itu artinya. Komunis, secara etimologis adalah common, artinya umum, communal artinya bersama – mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan golongan. … Hanya tragedi 65 yang membuat kesalahpahaman itu. Ada banyak cerita anti-Tuhan yang disebarkan. Ini untuk mengadu domba kelompok agama dengan komunis (hlm. 157).

Saya tersentak. Bukankah siasat adu domba masih sering mewarnai negeri ini?

Saat ini, permusuhan daring di antara netizen kerap terjadi hanya kaena satu hal. Perbedaan kepercayaan terhadap suatu peristiwa. Pasalnya, banyak dari warganet membaca demi mencari kata kunci untuk menebar rasa benci ataupun mencari pembenaran atas pandangan mereka sendiri. Pembenaran. Bukan kebenaran. Permusuhan terhadap mereka yang tak sependapat pun pada akhirnya menjadi tak terhindarkan. Fenomena otoritas yang absolut seperti UU ITE dan perang saudara yang kerap berujung pada persekusi pun akhirnya merebak di mana-mana saat ini.

Baca juga: Celoteh Bunda untuk Sang Anak

Wahai warganet dan anak muda di seluruh penjuru Tanah Air, bacalah buku ini untuk mempelajari sejarah negeri dengan cara yang menyenangkan. Belajarlah dari paristiwa lampau itu agar sejarah kelam negeri ini tidak berulang. Mengapa? Karena di dalam dunia nyata kita tak bisa seperti Phi yang bisa pergi ke masa lalu dan mengubah sejarah hidup. Kita, sebagai sebuah bangsa, hanya bisa belajar dari masa lalu dan melakukan perubahan demi masa depan yang lebih baik. Menjadi dewasa dan membangun masa depan bersama-sama.

Jika tidak, kita akan seterusnya terperangkap dalam masa silam. Seperti Phi yang terus hidup dalam lingkaran masa lalu. Memperalat waktu demi cinta yang belum tentu ditakdirkan untuk bersatu.

Sampai kapankah kau akan terus bermain-main dengan waktu untuk mengubah peruntunganmu, Phi? Apakah kau sudah merasa lebih beruntung dari pada kami?

***

Jakarta, November 2018 – Februari 2019

Tentang Pringadi Abdi Surya:

Buku-buku karya PringadiLahir di Palembang pada 18 Agustus 1988, ia adalah Duta Bahasa Sumatera Selatan 2009. Pringadi juga menjadi salah satu emerging writer di Makassar International Writers Festival 2014 dan salah satu penulis terpilih dalam ASEAN-Japan Residency Program di ASEAN Literary Festival 2016. Sekarang, Pringadi bertugas di kantor pusat Ditjen Perbendaharaan, Kementrian Keuangan. Hobinya jalan-jalan. Foto jalan-jalanya ada di akun Instagram @pringadisurya. Sedangkan catatan pribadinya, bisa dilihat di http://catatanpringadi.com/

Sumber: Tentang Penulis, Phi