Kau bertanya mengapa senja kerap dipandang istimewa. Seorang penulis bahkan pernah membukukan enam belas kisah tentang senja. Tidak tanggung-tanggung, sang penulis pun becerita tentang seorang pemuda yang rela menantang maut demi mencukil sepotong senja untuk pacarnya.[1]
Aku hanya mampu termangu menanggapi pertanyaanmu.
Di atas, langit senja menjelma kelabu. Gemuruh hatinya mengusik jantungku. Tetes air matanya membasahi sekujur tubuh kita. Ia mungkin tersentak dengan pertanyaanmu barusan. Atau jangan-jangan, ia kecewa mendapati aku yang hanya bungkam.

Aku bukan penikmat senja, Nur. Lembaran lembayung yang memesona mata itu selalu mengantarku pada kegelapan malam. Ibuku bahkan merasa perlu merias wajahnya dengan warna-warna cerah dan memalut tubuhnya dengan warna senada. Pupur kekuningan, gincu merah menyala, dan perona mata aneka warna selalu menghiasi wajah ibu pada saat malam menjelang. Rambut sepinggang ibu disanggul rapi. Seketika, aroma bunga melati, mawar, dan kenanga terkuak dari tubuh ibu yang baru selesai mandi. Ibu pun kemudian membalurkan minyak beraroma cendana ke lehernya yang jenjang. Tak ketinggalan, tusuk rambut berwarna tembaga menghiasi kepalanya.
Sebelum meninggalkan rumah kami, ibu mengenakan jaketku. Tubuh berbalut kemban jingga dan sehelai kain jarik itu, ibu tutupi dengan baju luar berbahan jeans yang sudah mulai kekuningan.
Ibu siap untuk pergi.
“Ibu berangkat kerja dulu, yah. Sebentar lagi Pakde akan datang menjagamu,” ujar ibu sambil mengusap kepalaku.
“Baik-baik sama Pakde, Nduk. Kalau bukan karena Pakde yang sudah mengizinkan kita tinggal di tempat ini, kita pasti sudah jadi gelandangan,” pesan ibu sebelum ibu akhirnya menghilang di antara gumpalan awan hitam.
Yang ibu maksud dengan Pakde adalah Darsam. Ia pemilik bangunan yang ibu dan aku tempati.
Awalnya, Darsam memang terkesan baik. Ia kerap membawakan kue dan permen untukku. Katanya, kudapan itu untuk menemaniku belajar agar aku tak lekas mengantuk. Ia juga sering menimangku di pangkuannya.
Seiring bertambahnya usiaku, aku tersadar. Darsam bukanlah figur seorang pakde seperti yang selama ini kukira.
Apalagi, ia makin suka seenaknya menyuruhku ini dan itu. Hampir setiap malam, ia memasuki kamarku. Menyuruhku menanggalkan seluruh pakaian.
“Dingin, Pakde!” Aku pernah menolaknya. Ia malah tersenyum dan mendekatiku.
“Aku akan membuatmu merasa hangat, Nduk,” ujarnya sembari tertawa dan melepaskan pakaianku secara paksa.
Selanjutnya, yang kurasakan adalah perih dan pengap. Tubuh besarnya, yang mengingatkanku pada Dushasana[2], menindih tubuhku dan membuatku sulit bernapas. Belum lagi, desahannya yang beraroma getir minuman keras. Desahannya makin tergesa berbareng dengan bertambahnya rasa nyeri pada selangkanganku.
Itulah ingatanku tentang senja dan apa yang menghampiri setelah langit lembayung itu beranjak. Aku tak pernah menyukainya, Nur.
Aku lebih memilih fajar. Fajar sabar dan lembut seperti ibu. Kilau jingga kekuningan yang terpancar dari ufuk timur itu membelai lembut jiwa dan raga yang tengah lena didekap mimpi. Membiarkan mereka menggeliat dengan irama sendiri untuk memulai hari. Hari yang mengandung harapan baru.
Ah, ibu selalu menjanjikan hidup yang baru bagiku. Perempuan tangguh itu terus berjuang membelah kepekatan malam agar aku bisa sekolah sampai menjadi sarjana. Agar kelak aku tidakk perlu bekerja hingga larut hanya untuk menyambung hidup, kata ibu suatu waktu.
Aku sungguh tak ingin menambah beban pikiran ibu. Aku hanya mampu membisu tentang Darsam di hadapannya. Kubiarkan segala remai, marah, dan kecewa bersembunyi dibalik tumpukan buku pelajaran. Aku ingin meraih nilai tertinggi agar bisa diterima di sekolah khusus putri. Aku tak ingin bersekolah bersama murid laki-laki. Keberadaan mereka hanya mengingatkanku kepada Darsam dan kezalimannya.
Disiplin belajarku tak sia-sia rupanya, Nur. Aku berhasil bersekolah di sini. Sekolah menengah pertama khusus putri. Aku pun akhirnya bertemu denganmu. Engkau yang selalu sabar mendengar rintihanku tentang Darsam dan membiarkanku berembuk dengan traumaku. Saat arus kesedihan mulai mengguncang diriku, engkau dengan sigap meraih tubuhku agar aku tidak hanyut. Engkau tak pernah terburu-buru untuk menghujaniku dengan kata-kata motivasi yang klise itu.
Sungguh, engkau adalah cahaya fajar keduaku setelah ibu, Nur.
Sayangnya, aku tak mampu membalas kebaikanmu selama ini. Sore ini, engkau datang kepadaku tersedu-sedu. Lelaki pujaan hatimu lebih memilih seorang gadis bernama Senja daripada dirimu. Namun, aku hanya mampu bergeming. Aku tengah berusaha membendung luapan perasaan yang mulai membuncah di dadaku, Nur.
Engkau adalah sosok yang paling aku kasihi. Perlahan, engkau telah menyembuhkan lukaku. Aku berharap bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Namun, engkau telah memilih tambatan hati. Dan aku, bukanlah orang yang engkau pilih itu.
Maka aku hanya mampu meraih tubuhmu, Nur. Menyediakan bahu dan dada untuk mencurahkan kesedihanmu. Membiarkan genangan kekecewaan di pelupuk mata kita mengalir deras. Bersatu dengan hujan yang jatuh dari langit senja yang tak pernah kita istimewakan.
Aku akan selalu menyangimu, Nur Hasanah.
Alina
Jakarta, Februari 2019
***
Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.
[1] Terinspirasi dari kumpulan cerita Seno Gumira Ajidarma, Sepotong Senja untuk Pacarku
[2] Pemimpin para Korawa, tokoh antagonis dalam Mahabharata, Wikipedia.org
Ceritanya bagus banget … senang punya kesempatan untuk membaca tulisan-tulisan Maria 💛💛💛
Terima kasih ya, Kak.
Jalan ceritanya sudah bisa tertebak di paruh pertama. Namun, cara Kak Maria menyajikan cerita ini yang sering bikin betah membacanya. Mengalir dan pemilihan diksinya juara banget. 😍
Terima kasih, Kak Muiz.
Benci sama Pakde 😬
gitchu dee
Membaca yang sepeti ini, hati saya selalh ikut pedih meski hanya fiksi. Duh.
By the way, sekian lama baru kembali membaca ada yang menggunakan istilah pupur selain bedak. 🙂
=) Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca kisah fiksi ini ya, Mbak.
Bagus banget mbk ceritanya. Rangkaian kalimatnya cakep. Sering mmg ada cerita yang seperti ini. Tp dikau berhasil ngemasnya menjadi menarik dan makin menarik buat dibaca. Cakep pokoknyah…
Terima kasih banyak, Mbak Inda.
Ya ampun Pak De kamu kejam amat sama ponakan sendiri. Ringkasan fiksinya keren mba, kita terhanyut di dalamnya, jadi pengen baca fiksi lagi mba hehe.
Mari kembali membaca fiksi, Kak Arda.
Hai, Mbak. Kali ini saya komen di netbook karena yang di ponsel galat kalau ada “capcay”, he he. Meski angka sederhana namun ponselnya tak mendukung.
Oke, bahas fiksi di atas.
Seperti biasa Mbak Maria selalu bahas perempuan sebagai korban sekaligus pemeran. Aku-tokoh diposisikan sebagai korban karena keadaan, dan yang jadi pelaku kebrtutalan peran adalah lelaki bejat sehingga menimbulkan trauma dan nyeri jiwani serupa mega dukkha. Bertemu dengan tokoh lain yang selalu siap menampung segala kesah dan jadi tempat sandaran, namun pada akhirnya jadi korban juga dari cinta pada lelaki yang bajingan.
Dua sisi tokoh yang dipaparkan secara monolog itu menawarkan konflik karena si aku-tokoh malah memiliki ketertarikan yang tidak sebagaimana mestinya.
Itu memang fiksi.
Dalam realitas terlalu banyak perempuan yang diposisikan sebagai korban secara terpaksa, ada yang pasrah, ada juga yang berontak. Opsi terbaik memang berontak karena keadaan yang membelit cuma menyengsarakan.
Serangan Capcay memang bikin CAPAI.
Terima kasih ya, Mbak sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah ini. Tokoh aku memang memutusdkan untuk memberontak atas apa yang dialaminya. Namun, di luar sana sayangnya masih banyak perempuan yang akhirnya tenggelam dalam trauma dan pasrah, lalu menyalahkan diri sendiri.
Semoga keadaan segera menjadi lebih baik untuk kita semua.
Harus dibikin versi panjang dan kirim ke media nasional, mbak. Ceritanya bagus, hanya butuh tambahan beberapa paragraf agar menjadi cerita yang utuh. Suka dengan pemakaian diksi, karakternya pun kuat, penokohan yang sentral pada gadis yang resah karena keadaan. Hayuk segera dieksekusi deh
Terima kasih atas masukan dan semangatnya, Mbak. =)
Ironi kehidupan, alina sungguh tegar sepertinya. Meski telah diselakangi namun upaya lepas dari itu semua menggema dalam semua tulisan. Terakhir hubungan antara nur dan alina seperti sebuah klise senja fajar dan keromantisan diantaranya.
Hidup memang getir, Kak. Kita yang menjalani yang kudu pinter2 menjalani.
Terima kasih sudah mampir, ya.
Dan kasus begini banyak terjadi di dunia nyata. Miris dan sedih. Btw, bagus cerita dan penyampaiannya. Salam kenal 😄
Perjuangan akan hak-hak perempuan memang proyek besar dan panjang, Kak.
Salam kenal kembali.
Aku baca tulisan ini jadi nambah diksi baru dehh. Keren Mba Maria 🙂
Terima kasih, Kak.
Ceritanya bagus 😊 jadi termotivasi lgi menulis karya fiksi. Btw aq udh follow log ignya yg ngadain challenge itu, kira2 nanti ada lg gak kak?
Insya Allah, ada lagi ya, Kak.
Saya suka ikut kesel dengan sosok seperti Darsam meskipun itu hanya di dalam cerita fiksi
Menyadarkan orang-orang semacam Darsam memang PR yang panjang di negeri ini, Kak.
Wah akhirnya saha baca cerpen lagi, walaupun memang masih kurang panjang kalau mau dikirimkan ke media. Kekerasan pada perempuan masih jadi masalah besar di negeri ini.
Perjuangan melawan kekerasan terhadap kaum perempuan merupakan proyek besar di permukaan bumi ini, Kak.
Pantas saja tidak menyukai senja soalnya ada trauma ya, kejam banget sih Pakdenya. Lagi-lagi kecewa karena senja.
Aku jadi ikutan kesal hehehe, berarti sukses ya ceritanya mbak, bikin tersentuh.
Terima kasih, Mbak Lidya.
Wah gaya tulisannya keren..meski dari awal sdh bs ditebak..kisah lama yg sering terjadi.. Tapi gaya tulisannya mmebuat betah membaca sampai selesai 🙂
Terima kasih, Mbak Ida.
Bagus banget ceritanya, Mba. Suka banget *jempol*. Walau endingnya bisa ketebak, tapi entah mengapa saya tak bisa melewakan satu katapun dari cerita ini 🙂
Terima kasih, Mbak Ira.
Sebenarnya, di luar sana ada banyak Alina-Alina yang lain. Semoga mereka bisa lebih tegar menjalani hidup dan melupakan masa lalunya yang kelam, amiiin
Amin, Mbak Ira.
Keren mba! Hm, jadi kangen nulis fiksi lagi..yg entah kenapa akhir2 ini begitu sulit bagiku.. Mungkin karena cerita hidupku terlalu riuh hingga terasa serupa fiksi? *hehe…
Yowes, tuliskanlah cerita hidupmu yang seru itu, Kak. =)
Ceritanya ini lebih ke cerpen ya mbak. Yang disajikan dalam bentuk surat untuk sahabatnya. Keren deh. Bahasanya ngalir sampai bikin saya ikut larut dalam tokoh si Aku ‘Alina’ dan geram banget dengan “pakde Darsam.
Eh tapi endingnya Alina ini jatuh cinta sama Nur ya?
=) Terima kasih sudah mampir ya, Mbak.
Kece kak, aku suka gaya nulis mu, rangkaian katanya bikin aku melting banget kak
Terima kasih, Kak.
Koq gak dilaporin aja sih perbuatan Pakde itu ke Ibu? Ihh jadi gemeesss deeehh. Untungnya gak kenapa2 ya.
Anyway ceritanya bagus Mbak. Keep going on 🙂
Terima kasih, Mbak Diah.
Saya menikmati sekali sama jalan ceritanya mba.. jadi rindu bisa nulis kayak gni lagi 🙂
Yuk, Kak Billa. Mulai nulis fiksi lagi.
Aduh aku jadi sedih kalau baca gini, meski fiksi. Paling sedih kalau pelakunya adalah keluarga sendiri, orang yang seharusnya bisa menjadi pelindung buat si gadis 🙁
Sedih memang, Kak. Namun, kita nggak bisa pungkir kalau kekerasan terhadap kaum perempuan justru terjadi karena ulah kerabat dekat.
Bacanya mengiris hati banget ya , kebayang perasaannya gimana disakiti gitu. Hmm jahat ya si Pak De sama ponakannya gitu banget.
Indeed, Kak.
Mbak.. cerita fiksinya berhasil mengoyak-ngoyakkan hatiku mba.. 🙁
Ihhh pakdheeee :@ hahaha
Terima kasih sudah menyempatkan membaca kisah Alina, Mbak.
Suka sama narasi dn Gaya tulisannya mba,, mesti bnyk belajar ini bikin kita mnjd pemeran nya,,, selamat y..
Terima kasih, Kak Utie.
Cerita dan gaya berceritanya bagus.. Aku pecinta dan penikmat senja. Untungnya aku ga punya pengalaman atau kisah yang bikin aku terpaksa tidak menyukai senja..
Terima kasih sudah mampir ya, Kak.