Senja dan Cahaya Fajarku

3
63

Kau bertanya mengapa senja kerap dipandang istimewa. Seorang penulis bahkan pernah membukukan enam belas kisah tentang senja. Tidak tanggung-tanggung, sang penulis pun becerita tentang seorang pemuda yang rela menantang maut demi mencukil sepotong senja untuk pacarnya.[1]

Aku hanya mampu termangu menanggapi pertanyaanmu.

Di atas, langit senja menjelma kelabu.  Gemuruh hatinya mengusik jantungku. Tetes air matanya membasahi sekujur tubuh kita. Ia mungkin tersentak dengan pertanyaanmu barusan. Atau jangan-jangan, ia kecewa mendapati aku yang hanya bungkam.

Sumber Gambar: Akun Instagram @_katahatikita

Aku bukan penikmat senja, Nur. Lembaran lembayung yang memesona mata itu selalu mengantarku pada kegelapan malam. Ibuku bahkan merasa perlu merias wajahnya dengan warna-warna cerah dan memalut tubuhnya dengan warna senada. Pupur kekuningan, gincu merah menyala, dan perona mata aneka warna selalu menghiasi wajah ibu pada saat malam menjelang. Rambut sepinggang ibu disanggul rapi. Seketika, aroma bunga melati, mawar, dan kenanga terkuak dari tubuh ibu yang baru selesai mandi. Ibu pun kemudian membalurkan minyak beraroma cendana ke lehernya yang jenjang. Tak ketinggalan, tusuk rambut berwarna tembaga menghiasi kepalanya.

Sebelum meninggalkan rumah kami, ibu mengenakan jaketku. Tubuh berbalut kemban jingga dan sehelai kain jarik itu, ibu tutupi dengan baju luar berbahan jeans yang sudah mulai kekuningan.

Ibu siap untuk pergi.

“Ibu berangkat kerja dulu, yah. Sebentar lagi Pakde akan datang menjagamu,” ujar ibu sambil mengusap kepalaku.

“Baik-baik sama Pakde, Nduk. Kalau bukan karena Pakde yang sudah mengizinkan kita tinggal di tempat ini, kita pasti sudah jadi gelandangan,” pesan ibu sebelum ibu akhirnya menghilang di antara gumpalan awan hitam.

Yang ibu maksud dengan Pakde adalah Darsam. Ia pemilik bangunan yang ibu dan aku tempati.

Awalnya, Darsam memang terkesan baik. Ia kerap membawakan kue dan permen untukku. Katanya, kudapan itu untuk menemaniku belajar agar aku tak lekas mengantuk. Ia juga sering menimangku di pangkuannya.

Seiring bertambahnya usiaku, aku tersadar. Darsam bukanlah figur seorang pakde seperti yang selama ini kukira.

Apalagi, ia makin suka seenaknya menyuruhku ini dan itu. Hampir setiap malam, ia memasuki kamarku. Menyuruhku menanggalkan seluruh pakaian.

“Dingin, Pakde!” Aku pernah menolaknya. Ia malah tersenyum dan mendekatiku.

“Aku akan membuatmu merasa hangat, Nduk,” ujarnya sembari tertawa dan melepaskan pakaianku secara paksa.

Selanjutnya, yang kurasakan adalah perih dan pengap. Tubuh besarnya, yang mengingatkanku pada Dushasana[2], menindih tubuhku dan membuatku sulit bernapas. Belum lagi, desahannya yang beraroma getir minuman keras. Desahannya makin tergesa berbareng dengan bertambahnya rasa nyeri pada selangkanganku.

Itulah ingatanku tentang senja dan apa yang menghampiri setelah langit lembayung itu beranjak. Aku tak pernah menyukainya, Nur.

Cahaya Fajar yang Sabar dan Lembut menyinari MerbaruAku lebih memilih fajar. Fajar sabar dan lembut seperti ibu. Kilau jingga kekuningan yang terpancar dari ufuk timur itu membelai lembut jiwa dan raga yang tengah lena didekap mimpi. Membiarkan mereka menggeliat dengan irama sendiri untuk memulai hari. Hari yang mengandung harapan baru.

Ah, ibu selalu menjanjikan hidup yang baru bagiku. Perempuan tangguh itu terus berjuang membelah kepekatan malam agar aku bisa sekolah sampai menjadi sarjana. Agar kelak aku tidakk perlu bekerja hingga larut hanya untuk menyambung hidup, kata ibu suatu waktu.

Aku sungguh tak ingin menambah beban pikiran ibu. Aku hanya mampu membisu tentang Darsam di hadapannya. Kubiarkan segala remai, marah, dan kecewa bersembunyi dibalik tumpukan buku pelajaran. Aku ingin meraih nilai tertinggi agar bisa diterima di sekolah khusus putri. Aku tak ingin bersekolah bersama murid laki-laki. Keberadaan mereka hanya mengingatkanku kepada Darsam dan kezalimannya.

Disiplin belajarku tak sia-sia rupanya, Nur. Aku berhasil bersekolah di sini. Sekolah menengah pertama khusus putri. Aku pun akhirnya bertemu denganmu. Engkau yang selalu sabar mendengar rintihanku tentang Darsam dan membiarkanku berembuk dengan traumaku. Saat arus kesedihan mulai mengguncang diriku, engkau dengan sigap meraih tubuhku agar aku tidak hanyut. Engkau tak pernah terburu-buru untuk menghujaniku dengan kata-kata motivasi yang klise itu.

Sungguh, engkau adalah cahaya fajar keduaku setelah ibu, Nur.

Sayangnya, aku tak mampu membalas kebaikanmu selama ini. Sore ini, engkau datang kepadaku tersedu-sedu. Lelaki pujaan hatimu lebih memilih seorang gadis bernama Senja daripada dirimu. Namun, aku hanya mampu bergeming. Aku tengah berusaha membendung luapan perasaan yang mulai membuncah di dadaku, Nur.

Engkau adalah sosok yang paling aku kasihi. Perlahan, engkau telah menyembuhkan lukaku. Aku berharap bisa menghabiskan sisa hidupku bersamamu. Namun, engkau telah memilih tambatan hati. Dan aku, bukanlah orang yang engkau pilih itu.

Maka aku hanya mampu meraih tubuhmu, Nur. Menyediakan bahu dan dada untuk mencurahkan kesedihanmu. Membiarkan genangan kekecewaan di pelupuk mata kita mengalir deras. Bersatu dengan hujan yang jatuh dari langit senja yang tak pernah kita istimewakan.

Aku akan selalu menyangimu, Nur Hasanah.

Alina
Jakarta, Februari 2019

***

Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

[1] Terinspirasi dari kumpulan cerita Seno Gumira Ajidarma, Sepotong Senja untuk Pacarku

[2] Pemimpin para Korawa, tokoh antagonis dalam Mahabharata, Wikipedia.org

3 COMMENTS

  1. Jalan ceritanya sudah bisa tertebak di paruh pertama. Namun, cara Kak Maria menyajikan cerita ini yang sering bikin betah membacanya. Mengalir dan pemilihan diksinya juara banget. 😍

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here