Akhir Pekan di Kuala Sajak

2
66

Tawaran itu datang pada Jumat petang. Saat butir hujan sedang berjatuhan. Ketika ide tak kunjung singgah dalam benak.

“Berakhir pekanlah di Kuala Sajak,” ungkapnya.

Saya terima ajakan itu. Tanpa perlu berpikir panjang. Arco Transept, pemilik kuala, terkenal ramah, walaupun ia sering tampak gelisah.

Ini bukan kali pertama saya berjumpa dengan sang empunya kuala. Pertemuan pertama kami terjadi beberapa tahun silam. Saat itu, Arco tengah mengelola sebuah kedai di Palembang, kota kelahirannya.

Hampir seluruh ruang kedai dipenuhi dengan kegelisahan dan kegusaran. Pun, menu yang ditawarkan. Pempek yang tak pernah dipedulikan asal-usulnya, kopi-kopi kesepian, dan apel segar dari pohon yang terasingkan.

Arco tengah marah kepada arus modernisasi yang mengguyur Palembang. Kemarahannya bisa dirasakan melalui sajak-sajak yang ia torehkan pada dinding kedai.

Aku tenggelam di hitam manis takdir
Persis menahan getir bibir
Menahan pedas juga deras
Peradaban yang digerus arus.

Dari lengan-lengan sungai dan jembatan
Jala menjaring keringat dari kening
Turis datang melahap lenggang
Sudah kenyang, mereka pulang

Pempek – Arco Transept, 2016

Namun, di antara bongkah rasa marah, masih terselip secercah sikap ramah. Puisi Sungai menyiratkan kerinduan Arco pada peradaban yang lalu. Saat warga masih gemar berkumpul dan berbincang tentang hidup.

Di tubuhku, bulan, jembatan,
Dan kota menghiasi diri,
Sembunyi dari muram.

Padaku,
Mereka berkaca
Sebuah arus hidup dan gelombang.

Sungai – Arco Transept, 2016

Tahun-tahun berlalu, kami tak pernah lagi bertemu. Hingga akhirnya saya menjejakkan kaki di beranda Kuala Sajak. Kegelisahan Arco yang sama menyambut saya dengan ramah. Hanya personanya yang berbeda.

Penyair Telah Lebih Dewasa Bersama Puisinya

Sajak Akhir Pekan yang terpampang pada dinding beranda adalah bukti. Puisi ini masih menggambarkan kegelisahan Arco dalam menghadapi kehidupan modern. Namun, dalam puisi ini tak ada lagi kesan marah.

Mari kita simak bait kedua dari sajak ini.

Aku ingin mendaki tubuhmu yang mahameru. Walaupun selalu ada aroma mantan kekasihmu di puncak itu, di sana aku akan swafoto dengan tongsis agar kita eksis, menjadi petualang untuk konten instagram kekinian.

Akhir Pekan – Arco Transept, 2018

Gambar Mahameru yang ditulisi quote dari puuisi Arco - Berakhir Pekan bersama ArcoPenggunaan kata swafoto, tongsis, eksis, dan instagram adalah tanda. Arco telah berdamai dengan masa sekarang dan yang akan datang. Ia tidak lagi menolak keberadaan elemen-elemen tersebut. Justru, Arco merangkul dan menjadikan mereka bagian dari sebuah puisi sederhana yang menusuk tepat pada jantung kehidupan zaman sekarang. Pemujaan kepada penerimaan sosial yang berlebihan.

Akhir kata, saya tidak menyesali keputusan saya untuk menghabiskan akhir pekan di Kuala Sajak. Membaca puisi-puisi yang disuguhkan laksana menggauli kemasaman dan kegetiran hidup dengan lebih estetis dan dewasa.

Mungkin itulah yang membedakan puisi atau sajak dengan racauan belaka. Estetika menjadi dewasa!

***

Jakarta, Februari 2019

Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here