Home Blog Page 5

Tafsir: Kisah Kasih Tragedi Tradisi

19
Jika kau sedang jatuh cinta dan tak ingin terkesan alay, ingatlah tentang Baskoro. Seorang putra Jawa yang telah meninggalkan bangsanya semenjak debu Reformasi berderu. Cintanya yang gundah pada wanita keturunan Tionghoa telah membuatnya meninjau kembali kisah diskriminasi etnis tersebut dalam sejarah Indonesia, bahkan Nusantara. Sejarah yang ia tinggalkan seiring perjalanannya menuju kedewasaan.

1

Bunyi alarm itu menyadarkan Baskoro dari tidurnya. Ia mengernyitkan dahi berulang kali sambil memandang ruang kamar. Sunyi. Seperti pusat perbelanjaan yang ia datangi menjelang tengah malam tadi seusai percakapan yang sia-sia dengan seorang kawan.

Hari ini, hari pertama setelah percakapan yang sia-sia itu, ia mengawali hari dengan pikiran yang hampa. Tanpa jerit tangis bayi ataupun celotehan istri. Hanya roh penasaran akan wanita pujaan yang berhembus di dalam benak.

Sekali lagi ia memandang sekitar. Tatapannya terhenti pada jarum panjang jam yang menunjuk pada angka dua. Ia bergegas menyiapkan diri. Ia kancingi kemeja kerjanya dari bawah ke atas. Ia sisir rambutnya yang selalu tampak klimis. Ia letakkan sebuah pena di dalam saku yang terletak di sebelah kiri atas kemeja. Selalu begitu.

Sebelum meninggalkan kamar, Baskoro memandangi diri di hadapan cermin. Daya tarik pria menjelang empat puluh terpantul dari balik kaca keperakan itu. Semacam loyalitas dan harmoni yang dirindukan wanita muda yang gamang ditinggal kekasih semasa kuliah dan ketakutan menghadapi dunia kerja. Dunia baru mereka. Akan tetapi, ia sepertinya tak bisa mengharapkan hal itu dari pujaannya. Wanita usia 20-an itu cenderung merasa bersalah jika memprioritaskan asmara di posisi utama. Dia merasa kalau sudah banyak perjuangan yang dilakukan untuknya agar bisa mendapatkan persamaan derajat urusan edukasi dan karier. Membagi prioritas antara karier dan asmara hanya akan menghancurkan perjuangan itu.

Jam dinding berdentang enam kali. Baskoro bergegas meraih kunci mobil dan dompetnya. Ia ambil bekal yang telah disiapkan Ibu dan berpamitan. Ia harus segera meninggalkan rumah tepat pukul enam pagi agar bisa melintasi bilangan Sudirman sebelum kemacetan menghadang. Tak boleh terlambat sedikit pun. Berdasarkan pengalamannya berkendara dari rumah ke kantor selama hampir empat tahun, terlambat lima menit saja bisa menambah enampuluh menit perjalanan.

Di luar sana, suasana jauh dari sunyi dan hampa. Cenderung bising dan ramai. Baskoro menyambut pagi ditemani berita terpanas hari ini. “Dolar menembus angka 14.000 rupiah!” Terdengar suara histeris penyiar. Dia seolah hendak melompat keluar jika saja tak dihadang oleh kotak besi bernama radio itu. Baskoro menengokkan kepala ke kiri. Ke arah radio tadi. Sinar matahari pagi segera menyengat matanya, menembus hingga bagian belakang kepala dan membangkitkan ingatan lama.

Tujuh belas tahun yang lalu, ia hendak melanjutkan studi ke Amerika Serikat untuk mengambil gelar Insinyur. Pada saat yang sama pula Dolar menembus angka 14.000 rupiah untuk pertama kalinya setelah kurang lebih tiga puluh tahun Dolar berhasil ditekan di bawah lima ribu.

Kenaikan kurs yang tajam itu tak pernah diduga. Biaya kuliah tak lagi terjangkau oleh ibu yang hampir sepuluh tahun menyisihkan penghasilannya. Baskoro tak bisa berharap pada ayah saat itu. Telah sembilan tahun Ayah hilang dari pancaindra. Sel-sel kanker telah memakan habis seluruh tubuhnya. Dengan diam tetapi memusnahkan. Seperti suasana pemerintahan yang menguasai negara tiga puluh tahun terakhir itu.

Ibu menganjurkan Baskoro untuk mengambil jurusan ekonomi. Selain lebih terjangkau, lapangan pekerjaan yang tersedia juga cukup menjanjikan. Logika yang belum tentu benar, tetapi masuk akal. Baskoro mengikuti anjuran ibu. Saat itu, belum genap dua puluh tahun usianya. Baskoro telah kehilangan mimpinya.

Selama hampir dua puluh tahun pula ia menbungkam suara hati. Semua demi masa depan yang pasti, tetapi tak pernah memberikan kepuasan diri. Baskoro tak ingin mengulangi sejarah diri yang kelam lagi. Diambilnya telepon genggam yang berada di sebelah kiri. Ia kirimkan pesan kepada wanita pujaan dan mengajaknya untuk menghabiskan Sabtu malam bersama.

Hari ini, hari pertama setelah percakapan yang sia-sia itu, Baskoro meninggalkan zona aman. Merperjuangkan kemerdekaan suara hati yang telah lama ia bungkam demi memenangkan hati wanita pujaan.

***

2

Apakah bangsa kita sudah siap untuk merdeka? Tujuh belas tahun telah berlalu sejak debu Reformasi menderu. Mengangkat sisi gelap rezim otoriter saat itu. Mendatangkan angin kebebasan bagi setiap warga negara.

Namun, sesuatu yang terlalu dini kadang tak berujung baik. Para wakil rakyat jarang menyuarakan kesejahteraan warga. Mereka sibuk memperjuangkan kepentingan investor belaka. Dan mereka dibayar mahal untuk itu. Untuk membumihanguskan lahan hijau, meningkatkan temperatur udara dan menghambat sirkulasinya di antara gedung menjulang.

Baskoro merasakan sesak di dada. Sudah hampir setengah jam ia berada di posisi yang sama. Tak sedikit pun tanda bahwa kendaraan akan melaju. Jalan tiga lajur itu hanya menyisakan satu jalur bagi kendaraan untuk melintas. Sementara dua lajur lainnya telah berubah fungsi menjadi lahan parkir. Gedung-gedung itu tidak sekedar menghambat arus udara tetapi juga laju kendaraan.

Sesak di dada merambat ke kepala. Ia tak ingin terlambat. Wanita tak suka menunggu. Ia paham benar hal itu. Kehilangan sosok ayah sejak dini melekatkan hubungannya dengan sang ibu, wanita pertama yang ia kasihi. Melalui ibu, ia belajar tentang wanita. Apa yang mereka suka dan apa yang mereka cerca. Baskoro cukup cakap dalam mematuhi rambu tersebut.

Perlahan kendaraan mulai melaju. Ia sampai tepat waktu. Ia memilih tempat di sudut depan restoran. Sambil menunggu, ia menatap bangunan megah dengan sentuhan arsitektur Tionghoa di hadapannya. Bangunan itu diterangi oleh sekumpulan lampion dan umbul-umbul berwarna merah yang memancarkan kilau keemasan. Aksara Tionghoa terukir di bagian depan bangunan tersebut. Pemandangan ibukota yang tak pernah ia temukan sebelumnya.

Ingatannya kembali ke tujuh belas tahun silam. Saat nilai tukar Dolar melambung tinggi. Membawa pergi kabut diskriminasi. Menyisakan pola pikir yang terbuka akan keberagaman etnis, terutama etnis Tionghoa. Diam-diam hati kecilnya berterima kasih kepada peristiwa kelam itu. Tanpa Reformasi, putra Jawa seperti dirinya  tak mungkin bisa menghabiskan malam dengan wanita keturunan Tionghoa pujaannya.

Tatapannya masih berkelindan pada jajaran lampion di hadapannya. Cahaya keemasan membuat sosok wanita yang melintas terlihat semakin gemerlap. Sosok itu berjalan mendekat. Detak jantung Baskoro tertunda. Wanita pujaan telah tiba.

“So sorry, I am late. Sudah lama ya?” ucapnya jernih dengan sedikit logat asing. Logat kaum muda masa kini.

Baskoro menarik nafas dan menahan getaran dalam tubuhnya. “It’s ok.” Ia menjawab.

Mereka mulai bercengkrama. Menghabiskan sisa Sabtu malam bersama. Menikmati hidangan yang disajikan dan menyuguhkan pengetahuan serta berbagi pengalaman. Baskoro lebih banyak menanggapi. Wanita senang menjadi primadona. Pengalamannya selama ini telah membuatnya paham akan hal tersebut.

Dirinya sibuk mengagumi sosok feminim yang telah membuat dirinya berdebar-debar beberapa hari belakangan ini. Bagi Baskoro, wanita ini teramat cantik. Dengan riasan wajah yang minim sekalipun. Ada keindahan yang murni di balik kesederhanaan wajah itu.

Wanita itu mulai memainkan rambutnya yang tergerai hingga di bawah bahu. Merapikan poni. Baskoro mulai berkhayal untuk menutup malam ini dengan mengecup keningnya yang tersembunyi di balik helaian rambut yang mengambai hingga alisnya. Akan tetapi, realita berkehendak lain. Wanita pujaan mulai mengungkapkan pendapatnya tentang perbedaan usia yang terbentang di antara mereka dan perbedaan etnis yang ada. Baskoro bisa memahami yang pertama, tetapi tidak yang kedua. Namun, ia berusaha tenang walau tak paham.

Ia mengantar wanita itu ke mobilnya dan mengucapkan selamat malam. Menyaksikan kendaraan itu menghilang dari indra penglihatan. Meninggalkan gumpalan asap harapan yang perlahan lenyap di balik lampion yang masih berpijar keemasan. Tertiup angin malam yang menghembuskan debu perpisahan.

Baskoro kembali menatap bangunan megah di hadapannya. Bangunan itu mengingatkan ia akan  The Palace Museum, cagar budaya yang telah menjadi simbol kekuasaan bangsa Tionghoa selama beberapa abad,  di Beijing. Bongkahan berwarna abu-abu yang menyerupai istana kaisar itu kini mulai menatapnya dengan angkuh.

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak debu Reformasi berderu dan menghempaskan ketamakan rezim otoriter dari tahtanya. Mewariskan kedaulatan negara pada warga yang beragam. Masyarakat yang patuh tetapi rindu akan pengakuan atas identitas etnisnya. Kesempatan yang ada melahirkan euforia yang berlebihan. Mereka menjadi angkuh. Perjuangan menuju kemerdekaan dari sekat-sekat identitas masih harus ditempuh.

Malam ini, malam kedua setelah pembicaraan yang sia-sia itu, Baskoro menyadari hal tersebut. Ia belum paham betul. Namun, ia terlanjur jatuh cinta kepada wanita itu

***

3

Akal sehat melahirkan logika. Jatuh cinta meledakkannya.

Puing-puing rasionalitas masih berserakan dalam benaknya. Baskoro masih belum paham dengan apa yang terjadi semalam. Ini era pasca Reformasi. Keberagaman etnis sudah diakui. Kebebasan beraspirasi sangatlah dijunjung tinggi. Bagaimana mungkin etnis hirarki masih ditanamkan dalam sebuah keluarga? Hubungan antar etnis masih dilarang. Generasi muda di dalamnya hanya bisa menerima tanpa perlawanan.

Hari ini, hari ketiga setelah pembicaraan yang sia-sia itu, adalah hari Minggu. Seperti biasa, Baskoro menghadiri Ekaristi pagi bersama ibu. Yang tidak biasa, ia mendatangi patung Bunda Maria yang berada di sisi kiri altar. Ia menyerahkan kebimbangannya ke dalam genggaman Sang Bunda. Ia mengharap pencerahan.

Bunda yang Maha Pengasih itu mendengarkan doa anak-anakNya. Menghantarkan wahyu dalam bentuk sabda yang disampaikan. Kisah Pembaruan Perjanjian di Sikhem[1] dibacakan. Ayat-ayat itu tengah mengajak umat untuk menyangkal diri dan berkontemplasi terhadap agama masing-masing. Inikah yang mereka imani atau hanya sebatas tradisi.

Puing-puing rationalitas Baskoro tergelitik. Membangkitkan kemudaan dalam dirinya. Jiwa muda yang haus akan kebebasan dan pemberontakan. Ia ingin mengajak wanita pujaannya melawan tradisi yang dianggapnya sudah batil. Namun, ia ingat akan perbedaan usia yang terbentang. Dia dan wanitanya muda pada zaman yang berbeda. Ia muda pada saat kebebasan menuntut perjuangan, sedangkan wanita itu muda pada suatu era dimana kebebasan sudah kebablasan. “Saat ini, masih tersisakah hasrat perjuangan dan pemberontakan pada anak muda zaman sekarang? Hati kecilnya bertanya.

Biasanya ia akan mencemooh. Kaum muda zaman sekarang cenderung manja. Era Reformasi telah menyuguhi mereka arus informasi yang tak terbatas dari pelbagai negara. Sayangnya, ketersediaan itu justru melemahkan nalar mereka. Mereka sekarang menjadi latah terhadap budaya luar. Tak ada lagi rasa bangga terhadap Tanah Air ini. Apalagi keinginan untuk memajukannya. Kebebasan dan keberagaman yang diperjuangkan hanya melahirkan sekularisme yang melunturkan budaya leluhur. Penggunaan Bahasa Indonesia secara murni dianggap sudah ketinggalan zaman. Percakapan sehari-hari harus melibatkan bahasa asing. Seperti yang kerap dilakukan pujaan hati. Akan tetapi, secara bersamaan mereka tidak kuasa melawan tradisi. Ada standar ganda di sini.

Namun, Baskoro sedang jatuh cinta. Cinta itu memaafkan. Seperti cinta Allah kepada umatNya yang rela menebus dosa mereka melalui PutraNya[2]. Ia memahamkan itu dari sabda kedua Ekaristi.  Maka, ia pun mengesampingkan logikanya dan mencoba memahami relung pikiran wanita pujaannya.

Hari ini, hari ketiga setelah pembicaraan yang sia-sia itu, Baskoro sadar ia telah berusia dan zaman telah berubah. Ia pun mulai menyangkal logikanya dan berusaha memahami dunia yang telah lama ia tinggalkan. Dunia kaum muda di mana di dalamnya terdapat sosok yang ia puja.

***

4

Apakah patuh pada tradisi adalah wujud dari pemberontakan itu sendiri? Bisikan hati membangunkan Baskoro dari tidurnya. Saat itu fajar masih terlelap. Akan tetapi, suara hati mengajaknnya bercakap-cakap.

Baskoro mengernyitkan dahi.

Hati (H): Setiap jiwa muda merindukan kemerdekaan dari suatu hal. Mereka akan memberontak kepada sesuatu. Saat kau muda, bangsa ini menuntut kemerdekaan dari pihak otoriter. Sekarang, kemerdekaan sudah kebablasan.  Setiap warga bisa menyuarakan apa saja yang ada di kepala mereka tanpa mempertimbangkan keabsahannya. Apalagi dampaknya pada lingkungan sekitar. Hampir setiap hari unjuk rasa terjadi dimana-mana. Permintaan mereka juga semakin absurd. Bahkan, tak jarang mereka melibatkan kekerasan. Mereka menjadi teroris di negerinya sendiri. Banyak kaum muda zaman sekarang merindukan ketenangan. Mereka memberontaknya dengan diam dan patuh pada aturan pihak penguasa. Pada wanitamu, orang tua dan tradisi yang ditanamkan adalah penguasanya.

Baskoro (B): Bukankah itu berarti sama saja kita kembali ke titik awal? Perjuangan para pahlawan Reformasi menjadi sia-sia.

H: Kau pasti merujuk pada keberagaman etnis yang akhir-akhir ini membuatmu gamang?

Baskoro tersenyum getir.

H: Jika kau telusuri lagi, keberagaman yang diperjuangkan adalah yang formalis. Keberagaman yang mengutamakan bentuk-bentuk material. Misalnya, penempatan etnis minoritas dalam pemerintahan, pembangunan gedung dengan sentuhan etnis tertentu, penggunaan berbagai bahasa dalam suatu institusi formal seperti sekolah. Sebenarnya tak ada perubahan yang spiritual di sana. Cara pandang mereka masih sama. Etnis hirarki masih dipertahankan.

Penjelasan itu masuk akal, pikirnya. Baskoro teringat akan bangunan berwarna abu-abu yang dilihatnya Sabtu malam lalu. Perjuangan para Pahlawan Reformasi itu hanya dimaknai sebatas bongkahan batu. Batu kelabu yang angkuh. Namun, ia tidak hanya berhenti sampai di situ. Baskoro yang sedang jatuh cinta, berusaha memaknai tradisi (yang menurutnya sudah tidak relevan) itu lebih dalam.

Hari ini, hari keempat setelah pembicaraan yang sia-sia itu, kasmaran yang meledak-ledak telah membuat suara hati Baskoro bergejolak. Menggelitik sisa-sisa akal sehat untuk berkolaborasi. Menyingkap sesuatu yang tersembunyi di balik sebuah tradisi.

***

5

Jika kau sedang jatuh cinta dan tak ingin terkesan alay, ingatlah tentang Baskoro. Seorang putra Jawa yang telah meninggalkan bangsanya semenjak debu Reformasi berderu. Cintanya yang gundah pada wanita Tionghoa telah membuatnya meninjau kembali kisah diskriminasi etnis tersebut dalam sejarah Indonesia, bahkan Nusantara. Sejarah yang ia tinggalkan seiring perjalanannya menuju kedewasaan.

Hari ini, hari kelima setelah pembicaraan yang sia-sia itu, Baskoro menyisihkan satu hari cutinya untuk menyingkap misteri dari sebuah tradisi. Cinta itu memang memaafkan dan perlu pengorbanan. Seperti cinta Allah kepada umatNya. Bukankah itu yang ia pahami dari Ekaristi pada hari Minggu lalu?

Pagi itu, cercahan sinar mentari menyambar permukaan gedung-gedung yang menjulang dengan gagah dari dalam tanah ibukota. Keangkuhan sang gedung untuk mempertahankan kedudukannya memecahkan cercahan sinar tersebut. Menghasilkan pijaran cahaya panas yang menyilaukan mata.

Baskoro menyipitkan matanya saat sinar itu mengenai dirinya. Ini kali pertama ia menuju Stasiun Kota menggunakan transportasi umum. Tanpa memerlukan waktu yang lama, ia segera berjalan meninggalkan stasiun dan menuju kawasan Kali Besar, di mana sungai Ciliwung mengalir. Sungai tersebut merupakan jalur emas bagi perdagangan Batavia pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Baskoro ingin memotret tempat bersejarah itu.

Baca juga: Pho(ne)tography

Saat ia menapakkan kaki di tepi jembatan sungai tersebut, pesing dan bau sampah segera menyergap indra penciumannya. Ia menghela nafas panjang. Ia tak percaya bahwa tempat yang memiliki nilai penting dalam sejarah, harus berakhir menjadi gunungan sampah yang tak terawat. Ia ingin mengutuk negeri ini dan janji-janji penguasa negara yang tak pernah terpenuhi. Namun, ia sedang jatuh hati dan penuh kasih. Ia hanya bisa iba dengan pemandangan di hadapannya.

Matanya tertahan pada sebuah bangunan dengan gradasi merah dan sentuhan Eropa Tionghoa. Ia segera mendekati bangunan itu. Sebuah pintunya terbuka. Baskoro melangkah masuk. Sebuah aula seluas tiga buah rumah berlantai tiga menghentikan tatapan matanya. Pada langit-langit aula, tergantung lampion-lampion merah dengan garis keemasan. Seketika, ia teringat akan bangunan abu-abu yang angkuh itu dan hendak beranjak ketika sebuah suara menyapanya.

“Selamat datang di Toko Merah,” ucap seorang satpam yang rupanya telah memperhatikan keberadaannya.

Toko Merah
Toko Merah, salah satu saksi bisu peristiwa pembantaian terhadap etnis Tionghoa pada era kolonial.

Menangkap keheranannya, satpam itu menjelaskan bahwa Toko Merah adalah salah satu situs sejarah di Jakarta. Bangunan yang sudah berusia hampir tiga ratus tahun itu adalah saksi bisu dari pembantaian orang Tionghoa pada zaman pemerintahan kolonial. Peristiwa itu dipicu oleh represi pemerintah dan kemerosotan ekonomi, seperti yang terjadi tepat sebelum Reformasi. Sekitar sepuluh ribu warga keturunan Tionghoa tewas dibunuh pada saat itu. Sungai Ciliwing yang mengalir di depan dipenuhi oleh darah korban yang tewas saat mencoba meninggalkan kota.

Satpam itu menanyakan apakah ini kali pertama Baskoro mengunjungi tempat ini. Baskoro mengiyakannya.

Naik Transjakarta,” ucapnya.

“Lewat Glodok?” Satpam itu kembali bertanya. Baskoro mengangguk.

Satpam itu menambahkan bahwa daerah tersebut adalah tempat pengasingan orang Tionghoa pasca pembantaian besar-besaran itu. “Untuk meninggalkan Pecinan, orang Tionghoa harus melalui proses yang sangat rumit,” ujarnya.

Baca juga: Surat untuk Baskoro

Baskoro terdiam. Ia mengamati bangunan tersebut dan memotret beberapa sudut ruangannya. Perlahan-lahan ia melihat gradasi warna bangunan tersebut luntur dan melebur menjadi satu pada lantai bangunan. Menjelma serupa warna merah darah yang masih segar dan begerak mendekatinya. Baskoro segera mengucapkan terima kasih dan meninggalkan bangunan. Cairan serupa darah itu mengalir mengikutinya dan bermuara di sungai. Baskoro segera meinggalkan tempat itu dan menuju Glodok. Bau tak sedap kembali menyergap indra penciumannya. Ia mempercepat langkah menuju Pecinan.

Lorong itu sempit, pada sisi kiri dan kananya terdapat etalase tempat barang dagangan diletakkan. Buah-buahan segar, aneka kudapan, pakaian anak dan dewasa, perkakas rumah tangga, serta peralatan elektronik tertata di atas rak-rak yang tersedia. Baskoro terus berjalan melintasi lorong tersebut sambil memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan. Ia berusaha mencari celah untuk terus melangkah sambil mengamati sisi kiri dan kanan. Aneka dialek Tionghoa tertangkap indra pendengarannya.

Langkahnya terhenti oleh gumpalan asap yang membawa aroma campuran biji cemara, cengkeh, cendana, pinus, dan melati yang berasal dari sebuah kedai. Dari beranda, nampak seorang nenek sedang bersembahyang. Baskoro memperhatikan perempuan yang telah melewati paru baya itu.

 “Semua masakan di sini tidak Halal, Mas,” tutur sang nenek.

“Saya Katolik, Tante.” Baskoro menjawab sambil melangkah masuk. Nenek itu menaikkan sepasang alisnya.

Baskoro memesan makanan dan memotret interior kedai. Matanya mengarah pada foto seorang remaja putri yang terletak di atas meja. Ia teringat wanita pujaannya.

Lani, anak tunggal saya.” Sang Nenek membuka suaranya sambil membawakan makanan. “Ia meninggal waktu kerusuhan tahun 98.”

Segerombolan pemuda datang dengan membawa kayu dan lempengan besi. Mereka memaksa masuk rumahnya pada saat itu. Mereka mengambil barang-barang dan membawa Lani. Suaminya meninggal diamuk masa pada saat kejadian itu berlangsung, sementara jasad Lani baru ditemukan beberapa hari kemudian.

Baskoro termangu mendengar cerita itu. Tujuh belas tahun yang lalu Baskoro meninggalkan negaranya. Ia terlepas dari perjalanan bangsa yang kebanyakan tertutup tirai gelap propaganda yang menyebabkan dirinya kehilangan wajah bangsanya sendiri.

Ia segera menghabiskan hidangan yang tersaji, membayar dan mengucapkan salam kepada sang nenek. Sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, ia menatap kedai tadi dari kejauhan.

Cahaya matahari masih kembali menyilaukan mata saat ia meninggalkan lorong tersebut. Hanya saja dari arah yang berbeda. Ia bergegas melangkahkan kaki kembali ke stasiun. Baskoro terus berjalan sambil mencari celah untuk melangkah di antara desakan arus manusia.

Malam harinya, ia memperhatikan potret yang ia ambil siang tadi. Berusaha mengaitkan dengan kepingan cerita yang ia terima saat membidiknya. Sekarang ia mengerti. Ada tragedi di balik setiap tradisi. Seperti yang pernah ia ketahui sebelumya dari seorang teman, ada seorang Jendral yang mati bunuh diri di balik perayaan Peh Cun. Kini, ia mengerti bahwa di balik etnis hirarki, ada represi dan pembantaian massal yang terjadi. Suasana represif itu sudah berlangsung sejak hampir tiga ratus tahun lalu. Andai saja ia menyadari semua itu sejak awal sebelum dirinya terjebak dalam prasangka dan logikanya sendiri.

Hari ini, hari kelima setelah pembicaraan yang sia-sia itu, sebuah kolaborasi antara cinta dan logika terjadi. Melahirkan pemahaman baru akan sebuah tradisi yang nampaknya tak relevan lagi.

***

6

Lempengan besi itu menghantam tubuhnya hingga tersungkur ke lantai. Ia mencoba kembali berdiri, tetapi sebatang kayu menghantam pipinya. Cairan darah mulai menetes membasahi lantai. Baskoro terbangun dengan ngilu di bagian tulang rusuk dan pening di kepala akibat sinar matahari serta desakan manusia yang mengenainya kemarin. Ia sadar, sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan luka yang dirasakan oleh sang nenek yang ia temui dan seluruh keturunan Tionghoa yang hidup dalam tekanan di negeri ini. Luka itu, luka wanita pujaannya jua, sudah meradang. Debu Reformasi sekalipun tak sanggup menyembuhkannya. Oleh karena itu, etnis hirarki tetap ditanamkan. Baskoro sudah paham.

Bunyi notifikasi telepon genggam menariknya kembali kepada kesadaran. Sebuah pesan singkat dari seorang kawan ia terima. “Selamat hari jadi. Semoga ada balasan dari pujaan hati. #DoaPagi”

“Terima kasih atas doanya. Saya ikhlas saja,” balasnya singkat.

Hari ini, hari keenam setelah pembicaraan yang sia-sia itu, Baskoro merayakan hari jadi. Pada perayaan yang ke tiga puluh tujuh itu, ia merayakannya dengan pemahaman baru. Pemahaman akan tradisi yang menyimpan tragedi. Tragedi yang sering dianggap berlalu seiring debu Reformasi yang berderu. Meninggalkan luka yang menjelma trauma bagi keluarga dan seluruh warga Tionghoa yang tersisa, termasuk wanita yang ia kasihi jua.

Kasihnya kepada wanita itu begitu besar seperti kasih Allah kepada umatNya yang penuh pengorbanan. Hari ini, hari keenam setelah pembicaraan yang sia-sia itu, pemahaman baru akan tradisi dan cinta kasih telah menghantarkan Baskoro pada keikhlasan hati. Memerdekakan wanita pujaan untuk menambatkan hati pada tempat yang tidak sarat tragedi.

Jakarta, Agustus – September 2015

***

[1] Yosua 24: 1-18

[2] Efesus 5: 21-32

 

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Perjalanan Rasa Untuk Berbicara

Guratan sinar matahari berhasil menembus jendela. Cercahan cahayanya berhasil menarikku dari dekapan mimpi. Ini sudah pukul enam pagi.

Aku segera meraih dan mengenakan pullover yang telah kuletakkan di atas carrier berwarna biru cerah. Seperti warna langit saat ini. Semalam, aku memang telah mempersiapkan pakaian yang akan kukenakan pagi ini. Aku juga telah menata semua perlengkapanku di dalam tas raksasa berukuran separuh tubuhku itu beberapa hari sebelumnya. Lebih aman begitu. Aku tak harus terburu-buru sebelum memulai pendakian. Hanya perlu menikmati sarapan ditemani beberapa kawan dan gemerlap keemasan mentari pagi.

Aku segera memeriksa kembali barang-barangku. Memastikan agar apa yang diperlukan selama perjalanan menuju perkemahan mudah diraih. Jas hujan, keperluan P3K dan headlamp beserta baterai cadangannya pada kantong paling atas; ransum dan makanan kecil pada kantong bagian depan. Sementara keperluan berkemah telah tersusun rapi pada bagian dalam.

Kami segera melangkahkan kaki menuju pos pemeriksaan untuk melapor diri. Menunjukkan simaksi. Syukurlah, tak perlu waktu lama untuk semua ini. Persyaratan registrasi dan administrasi lainnya telah kami urus jauh-jauh hari.

Tepat pukul delapan pagi, kami mendapati derap kaki kami sedang asyik menelusuri ladang penduduk yang dipenuhi tanaman pangan. Corak warnanya begitu memanjakan mata. Bunga kol berwarna gading tampak menyembul di antara hijau dedaunan dan oranye wortel yang nampak berkilau tertimpa sinar matahari.

Aku bisa merasakan air liurku memenuhi rongga mulut. Membayangkan kehangatan kuah sop nan gurih dengan irisan bunga kol dan wortel segar itu membasuh kelelahan setelah beberapa jam pendakian. Jalur Gunung Putri yang kami lalui memang terkenal menguras tenaga. Diperlukan waktu sekitar tujuh jam untuk sampai pada Perkemahan Surya Kencana yang berjarak 5 kilometer dari pos pemeriksaan.

Kami mulai memasuki kawasan hutan yang dipenuhi pepohonan tinggi dengan lingkar batang yang lumayan besar. Jalan setapak berbatu telah berganti dengan tanjakan tanah basah yang lebih terjal. Aku bisa merasakan langkahku yang melambat dan nafasku yang mulai tersengal. Namun, aku terus bergerak bersama rombonganku.

Bagiku mendaki gunung dan menggapai puncaknya seperti meniti karir. Semakin tinggi posisi, tantangan yang dihadapi akan semakin berat. Aku masih ingat bagaimana aku memulai kiprahku sebagai salah seorang staf di sebuah perusahaan swasta. Hanya ada beberapa laporan transaksi yang perlu kukerjakan setiap hari. Hanya aku dan lembaran kertas penuh angka itu. Kini sebagai kepala departemen keuangan, aku tak hanya bertanggung jawab terhadap bilangan yang tertera pada lembaran kertas yang semakin bertambah itu, tetapi juga terhadap kinerja anak buahku dan ragam keunikan mereka.

Tak jauh berbeda dengan jalur pendakian ini. Setelah melalui jalan berbatu dan tanah basah, kami masih dihadapkan pada kemiringan tanah yang lebih curam. Reruntuhan batang pohon dengan ranting yang berkelok-kelok membentang di hampir sepanjang jalur pendakian. Pendaki umumnya bisa memilih jalur mengitari atau melangkahinya.

“Gak mau muter aja?” tanya seorang kawanku.

“Kejauhan ah! Nanti bisa semakin sore sampenya. Ini kan weekend. Lebih ramai dari biasanya. Semakin telat sampai, semakin susah dapet posisi enak untuk kemping,” jawabku.

“Benar juga,” seorang kawan menyetujui usulanku.

Kami akhirnya melangkahinya. Lebih tepatnya melompati. Memang menguras tenaga, tetapi akan mempercepat waktu pendakian. Aku tentunya sudah tak asing lagi dengan falsafah semacam itu. Bukankah hal serupa terjadi saat aku bergelut dengan pekerjaanku? Upaya ekstra diperlukan agar karir lebih cepat melejit. Tak sampai sewindu aku menabung jam lembur, posisi kepala departemen telah berada dalam genggaman.

Satu per satu reruntuhan pohon itu kami lewati. Sampai akhirnya tak satu pun dari kami sanggup menghitung lagi. Apalagi meloncatinya. Kami putuskan untuk beristirahat pada sebuah bangunan yang menyerupai gazebo.

Aku melempar pandanganku ke arah sekitar. Tanaman hijau kekuningan serupa ganggang menggelayuti pepohonan. Kabut tipis mulai menyusup di antara batang yang masih menjulang. Pemandangan ini sungguh membangkitkan perasaan syahdu yang telah lama terkubur oleh tumpukan pekerjaan yang menyita seluruh perhatian dan tenaga.

Tiba-tiba aku merasakan perutku mulai bergemuruh. Kulirik jam tanganku. Pukul sebelas siang. Masih sedikit awal untuk makan, tetapi tak satu pun dari kami peduli. Aku justru bersyukur atas kesempatan makan yang datang lebih cepat. Jarang-jarang hal ini terjadi dalam keseharianku. Tuntutan pekerjaan kerap membuatku terlambat makan siang, jika tidak melewatkannya.

“Makan dulu ‘yuk,” usulku kepada kawan seperjalanan. Kami segera melahap bekal yang telah kami bawa dari basecamp tempat kami menginap.

Punten,” sapa seorang pendaki menghampiri kami.

Mangga,” jawab saya dan kawan-kawan saya serempak.

Akang sama Teteh berangkat dari jam berapa?”

“Jam delapan,” jawab rekanku.

Cepet pisan. Semangat!”

Makasih, Kang,” jawabku. Mereka pun segera memohon diri.

“Lanjut jalan lagi ‘yuk. Masih tiga jam lagi ke Surken,” aku mengingatkan teman seperjalananku.

Kami segera menghabiskan bekal kami dan melanjutkan pendakian.

***

Tiga jam pendakian yang tersisa menghadapkan kami pada medan yang semakin menantang. Tanjakan semakin curam. Pokok kayu yang berserakan semakin besar. Hembusan angin kencang seolah ingin merobohkan semangat kami. Kami terus melangkah. Bayangan akan keindahan padang edelweiss yang menghiasi kawasan perkemahan menjadi sumber semangat.

Edelweiss. Konon, bunga ini adalah lambang mitos akan cinta yang abadi. Yah… mitos! Cinta abadi telah lama mati. Seperti cinta Ayah kepada Ibu hingga dia memutuskan untuk pergi pada saat usiaku masih dini. Meninggalkan Ibu seorang diri untuk melanjutkan hidup kami.

Pada masa itu, jiwa kanak-kanakku dibuat takut oleh cinta. Bagi aku cilik, cinta identik dengan luka dan air mata. Ingatan akan tubuh lebam Ibu setelah bertengkar dengan Ayah dan wajah letihnya setelah bekerja dari subuh hingga tengah malam masih tergambar jelas.

Keabsenan Ayah dan wajah Ibu yang selalu nampak lelah, membuat aku cilik tak punya teman untuk berbagi cerita. Aku sungguh tak tega menambah beban yang harus Ibu pikul. Kusibukkan diriku membaca buku dan catatan pelajaran berulang kali. Aku bahkan melakukannya dengan masih mengenakan seragam sekolah. Hanya itu yang aku punya dan tas sekolah pemberian tetangga.

‘Kedekatan’ pada atribut sekolah ini tentunya memudahkanku untuk meraih gelar Juara Kelas. Tiket first class untuk mendapatkan beasiswa dari perguruan tinggi bergengsi. Setidaknya, aliran dana ini bisa mengurangi beban Ibu dan memperbaiki nasib kami.

Selepas masa kuliah, mataku hanya tertuju pada posisi puncak karir dengan kenyamanan materi yang diberikan. Dari rumah luas yang ber-AC, hingga model pakaian terbaru dan tas tangan seharga Avanza.

Angan-angan masa remaja itu telah menjadi kenyataan. Ibu bahkan tak perlu lagi membanting tulang. Penghasilanku mampu untuk membiayai hidup kami.

Yang tak pernah kuperkirakan adalah badai asmara yang tengah menyergap.

***

Sosok itu mencuri perhatianku di satu Minggu pagi, ketika ia dengan setianya menemani sang ibu beribadah. Pemandangan dirinya tengah menggenggam tangan sang ibu saat mereka menyeberangi jalan secara ajaib menyentuh perasaanku, menyihir aku untuk tidak mengalihkan kedua mataku. Tanpa aku sadari, pemandangan yang aku temukan itu telah menjelma menjadi pemandangan yang aku cari di setiap Minggu pagi.

Namanya Ruben. Aku tahu ini semua karena baru-baru ini, tanpa ancar-ancar, ia bergabung dengan perusahaan tempatku bekerja. Jika kebetulan memang ada, mungkin kejadian ini adalah salah satu contoh yang paling nyata.

Pembawaannya tenang. Cenderung pendiam. Wajah rupawan dan tubuh yang tegap tidak cukup untuk menyembunyikan kecanggungannya agar bisa bertahan di dunia perkantoran. Dalam tiga bulan pertamanya di kantor, ia telah memperoleh gelar ‘Arca’ karena keiritannya dalam berkata-kata. Dalam delapan bulan pertamanya, kami hanya berbincang sekali saja.

“Kayaknya sering liat di gereja ‘deh,” sapanya ketika kami sedang menunggu lift. Terperanjat oleh sapaannya, aku hanya bisa mengangguk. Arca itu akhirnya berbicara, batinku.

Pertemuan kami selanjutnya hanya serangkaian ketidaksengajaan saat kami bertemu di depan lift atau saling berpapasan selepas ibadah. Tak ada sepatah katapun terucap. Hanya seuntai senyum.

Sampai suatu malam, ia menghampiri meja kerjaku saat aku sedang memeriksa pekerjaan anak buahku dengan khusyuk.

“Masih lama?” tanyanya.

“Sampai hujan berhenti saja. Lagi nggak bawa mobil,” jawabku dengan mata yang masih menatap laptop.

“Saya tinggal di sekitar gereja. Bareng aja kalau searah,” sambungnya.

Aku hendak menolak tawarannya ketika kulirik ponselku ada satu pesan singkat dari Ibu.

”Pulang, Neng. Ibu masak sayur sop kesukaanmu.”

Entah konspirasi alam apa yang sedang terjadi. Arca yang mulai berperi, tempat tinggal kami yang saling berdekatan dan pesan Ibu yang menggugah rasa lapar yang tak tertahankan.

Aku langsung menerima ajakannya. Segera kumatikan laptop, meletakkannya di dalam nakas lalu menguncinya dan berjalan meninggalkan kantor.

“Terima kasih ya,” ucapku.

“Santai…,” jawabnya sembari membukakan pintu utama untukku.

Tak ada yang spesial dalam obrolan kami selama perjalanan. Hanya seputar keseharian di kantor. Namun, saat ia dengan sabar memastikan aku telah memasuki rumah sebelum dirinya beranjak pergi, aku merasakan ada sesuatu yang berdesir perlahan di dalam diriku.

Aku tak menghiraukannya. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Restrukturisasi beberapa bulan lalu telah menghujaniku dengan pekerjaan tambahan. Ini pertanda baik bagi karirku. Aku tak akan membiarkan kerewelan masa remaja yang terlambat datang ini menghancurkan mimpi.

Aku hanya menganggap keramahan dan ajakan makan bersama itu sebagai ramah-tamah seorang rekan kerja. Paling tidak, aku punya seorang teman untuk berbagi cerita. Melepas penat. Bagai hembusan angin yang tengah membasuh lelah setelah aku melalui undak-undakan tanah basah yang tak ada habisnya.

Hingga suatu malam, saat kami tengah asyik berbincang hingga terlampau larut, ia berkata, “Nggak telpon Ibu dulu? Ngabarin pulangnya agak telat. Biar Ibu nggak khawatir.”

“Ibu sudah tahu. Thanks,” jawabku sambil memandangnya lekat.

Sejak itu, desau yang awalnya sayup-sayup itu mulai menggelegar. Memecahkan konsentrasi saat bekerja. Aku mulai merinding ketakutan. Entah mana yang lebih menyeramkan: masa kanak yang kelam atau rencana promosi yang nyaris terancam.

Aku kukuh pada pendirianku. Kesuksesan karir adalah prioritas utamaku. Kuabaikan gejolak itu. Aku mulai mencibir setiap ucapannya agar ia menjauh dariku.

“Mendaki gunung itu capek banget yah, tetapi seru,” ujarnya penuh semangat saat ia baru kembali dari pendakian pertamanya.

“Masa begitu aja capek?! Gunung Papandayan ‘kan termasuk gampang,” tukasku.

“Kan nggak biasa. Lagipula saat mendaki hujan gede banget,” jelasnya membela diri.

“Namanya juga mendaki pas musim hujan,” balasku tanpa rasa iba sedikit pun.

Aku bisa merasakan sorot matanya yang meredup.

Upaya semacam itu memang berhasil menjauhkan dirinya dariku, tetapi tak mampu membungkam perasaan asing yang datang bersama kehadiran Ruben dalam hidupku.

Seperti gumpalan awan hujan yang tak kupedulikan keberadaannya pagi tadi. Alih-alih menjauh, mereka malah datang bersama gemuruh angin yang membuat langkahku terkatung. Pandanganku menjadi lindap. Tertutup oleh wajah Ruben, yang dengan sabar menungguku saat mengantarku pulang. Wajah itu nampak jelas di antara wajah lelah dan memar di sekujur tubuh Ibu yang juga terukir pada awan kelabu.

Gumpalan Awan
Gumpalan awan hujan yang tak kupedulikan keberadaannya pagi tadi. Alih-alih menjauh, mereka malah datang bersama gemuruh angin yang membuat langkahku terkatung.

Bedanya, Ibu tahu bagaimana menghadapi badai rumah tangga yang menyerang. Ia mampu menanggung hidup kami dan mendukung setiap langkah hidup serta karirku. Sementara aku hanya mampu gemetaran setelah beberapa saat curah hujan menyatu dengan air mata yang tak dapat kutahan lagi.

Jarum-jarum hujan itu mulai menembus pakaian. Membuat sekujur tubuhku ngilu dan mulai menggigil. Aku berusaha untuk berjalan dengan nafas yang terengah-engah. Sampai akhirnya aku merasa lemas.

Satu tarikan nafas kuhembuskan sebelum akhirnya tubuhku tersungkur. Meninggalkan rasa pening di kepala beserta cairan merah yang perlahan menjelma hitam pekat.

Syukurlah, kegelapan itu tak berlangsung lama. Samar-samar aku bisa melihat seorang kawan berlari menghampiriku. Menjauhkanku dari carrier biru cerah yang semakin terasa berat itu. Ia mengguncang-guncang tubuhku. Perlahan-lahan kesadaranku kembali. Seorang kawan lagi segera mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Kami segera melanjutkan pendakian.

Kawan seperjalananku bahkan berbaik hati untuk menggendong carrier-ku selama sisa pendakian. Tanpa tas raksasa itu tersandang pada bahu, tubuhku terasa ringan. Langkahku pun semakin cepat hingga tanpa terasa aku telah sampai pada Puncak Gede. Aku segera berpaling untuk berbagi kebahagiaan ini bersama rekan-rekanku, tetapi tak kudapati mereka di sekitarku. Kutunggu beberapa saat. Namun, mereka tak kunjung tiba. Berat carrier-ku pasti telah memperlambat laju mereka.

Aku segera berlari kembali menelusuri jalur pendakian. Demikian cepatnya hingga tanpa terasa, aku telah sampai pada perkebunan warga yang sempat kulalui di awal pendakian tadi. Aneh. Tak kujumpai seorang kawan pun hingga saat ini.

Aku melanjutkan langkahku menuju basecamp tempat aku dan kawan pendakianku menginap semalam. Dari kejauhan aku justru melihat Ibu dan Ruben berada di sana. Aku tertegun. Tak menyangka mereka akan menyusulku ke tempat ini.

Aku mempercepat langkahku. Akan tetapi, mereka hanya diam terpaku seolah mereka tak melihat diriku. Mereka malah berlari melewatiku. Dari balik punggung, kudengar Ibu berteriak menyebut namaku. Kupalingkan pandangan ke arah Ibu. Betapa terkejutnya aku mendapati mereka berdua berlari menghampiri tubuhku yang terbujur kaku. Tangis Ibu akhirnya pecah dan Ruben hanya menatap tubuhku dengan nanar sembari mengecup lembut keningku.

Jakarta, Desember 2016

***

Catatan Pengarang: Puji Syukur kepada Tuhan saya ucapkan atas kesetiaan dan kesabaran kakak-kakak dari GYKT Abbalove Ministries Rajawali yang telah menyertai saya dalam Pendakian Gunung Gede pada tanggal 3-4 Desember 2016 lalu.

 

Save

Save

PERTIWI – Perjalanan Hati Sang Awing

Pendakian Gunung Papandayan: 26 Agustus 2016
Source: Koleksi Pribadi

Aku tumbuh di tanah yang kaya raya. Sebuah negara di mana aroma rempahnya mampu menghipnotis warga dari benua seberang untuk menetap di sini. Sebuah ranah di mana kehangatan perairannya membuat beragam hewan dan tumbuhan begitu kerasan untuk berlama-lama. Sebuah tanah yang penuh dengan gemerlap logam yang mempesona mata, tetapi hanya mampu menjadi potensi investasi belaka.

Pada satu penghujung minggu, aku merasakan degup jantungku yang kian menggebu dan aliran darahku yang terburu-buru. Dari balik kaca Elf, nampak putri duyung berdada penuh tengah tersenyum ke arahku. Sayangnya, ia tak pernah sendiri. Kolonel Sander yang murah senyum dan seekor beruang tambun selalu setia menemani. Wajah mereka nampak terbang dari satu rest area ke rest area lain. Menebarkan aroma biji kopi bernuansa cedar serta citarasa gurih dada ayam lembut yang berbalur merica dan cabai rawit. Suatu mandala yang begitu akrab, akan tetapi selalu menggetarkan sekujur tubuh seiring laju mobil Elf yang berpacu dengan tenggat waktu.

Rombonganku dijadwalkan untuk tiba di Cisurupan sejam selepas subuh. Namun, ekspektasi penanam modal telah menjelma serdadu koloni yang memaksa kami untuk bekerja rodi. Kami tiba di tempat pertemuan melewati jam yang telah disepakati. Kini, aku dan peserta lainnya hanya bisa pasrah saat Elf melaju dengan kecepatan penuh menuju Garut, di mana aku akan bercengkerama dengan Ibu Pertiwi.

Sudah lama aku tak meluangkan waktu bersamanya. Sejumlah proyek kantor telah menyita seluruh perhatianku, sementara serangkaian rapat dan notula menghujaniku tanpa mengenal waktu. Menyisakan aku yang telah lisut untuk menatap wajah Ibu Pertiwi dengan murung dan penuh gerutu.

Malam itu, saat Elf melaju dan mengantarku pada rengkuhannya, aku menyadari betapa durhakanya aku. Seketika, secercah ragu menyergap. Masih sudikah beliau menerima kedatanganku?

Aku segera menampik keraguan itu. Di hadapanku tampak kepulan asap di antara dinding Kawah Papandayan yang tertimpa sinar matahari. Memijarkan kilau keemasan yang mempesona mata.

Kawah Papandayan Taman Wisata Alam Gunung Papandayan
Source: Koleksi Pribadi

Imajinasiku seketika melayang pada misa Jumat Pertama. Kepulan asap dengan harum dupa menyembul saat Romo mempersembahkan Hati Kudus Yesus yang tersimpan dalam monstrans. Hati yang kerap dihina oleh dosa-dosa manusia, dosa-dosaku juga. Hati yang Mahakudus dan penuh kasih itu tak pernah jera untuk menerimaku kembali. Seperti Ibu Pertiwi yang kini berdiri teguh menyambut kedatanganku dengan tangan terbuka dan senyum yang begitu hangat. Tanpa pagar kelabu yang menjulang dengan angkuh seperti yang kerap kulihat pada sela-sela kesibukanku.

“Kita doa bersama lalu memulai pendakian yah.” Ucapan pemimpin rombongan itu membawaku kembali pada kesadaran.

Aku bisa merasakan angin lembah yang sejuk mengiringi pendakian. Tanpa bau sangit tubuh yang menyimpan pilu, ataupun asap tembakau dari mulut yang parau. Guratan sinar matahari terasa begitu hangat. Tak ada sedikitpun kesan tamak. Sungguh ganjil. Aku merasa begitu tenteram di sini. Di sebuah ranah asing. Di antara lautan manusia yang tak kukenal. Di antara batu vulkanik aneka warna yang berserakan. Di antara suara letupan yang menguarkan suka cita atas kedatanganku. Laksana orang tua yang tengah menanti kelahiran buah hatinya.

Aku mendekati tempat letupan itu berasal. Bekas aliran letusan gunung menjelma lubang-lubang yang mengeluarkan gas sulfatara. Keserakahan kaum urban sepertiku yang terus menggerus lahan hijau dan meningkatkan suhu bumi memang membuat Ibu Pertiwi cemas dan bergejolak. Letusan kecil yang kerap dikuarkan kawah ini adalah  tanda kegelisahannya (mungkin juga amarah). Akan tetapi di tengah balada kekecewaannya sekalipun, beliau tak henti-hentinya menghasilkan sumber alam yang bermanfaat. Entah untuk kesehatan pribadi ataupun kebutuhan industri.

Diriku luluh. Memiliki preferensi terhadap lingkungan kerja ataupun merek suatu produk adalah satu hal. Mengejek Ibu Pertiwi yang tampak renyek setelah bertahun-tahun memanen gizi dan mengais rezeki di tanah ini sangatlah keji.

Tubuhku lunglai laksana dahan yang terlepas dari akarnya. Aroma gas sulfatara memang begitu menyiksa indra penciuman. Namun perasaan bersalah yang tengah menghantam, melemahkan segenap saraf kakiku.

Akan tetapi, aku tetap melanjutkan pendakian. Tak ada kata lelah untuk bercengkerama dengan Ibu Pertiwi. Seperti beliau yang tak jemu membantuku ketika jalur pendakian semakin curam. Batang-batang pohon cantigi yang kokoh siap menopang. Hembusan angin lembah membasuh kepayahan. Gugus tanaman edelweiss berdiri tegar mendengungkan semangat. Menghantarku pada hamparan Hutan Mati yang begitu luas.

Aku pernah membaca tentang Hutan Mati dari artikel yang tersebar online. Tentang sejarah terbentuknya yang suram dan memakan korban. Letusan Gunung Papandayan telah membakar habis sejumlah desa dan menewaskan ribuan jiwa. Menyisakan ratusan batang pohon cantigi yang tertutup debu putih, layaknya butir salju yang menghiasi musim dingin di luar negeri.

Dahan Pohon Catigi, Hutan Mati Taman Wisata Alam Gunung Papandayan
Source: Koleksi Pribadi

Aku bisa merasakan kesedihan yang begitu mendalam. Meluapkan gemeratak amarah yang begitu hebat. Aku telah lama dibuat tuli oleh kehidupan modern yang mengajakku untuk bertualang ke dunia luar. Terlena dengan gairah dan gemerlap mancanegara. Tak urung untuk menggugat ketika terik matahari, bau asap rokok dan knalpot, serta aroma sangit kaum pekerja menabrak indra penciuman. Aku, seperti kebanyakan kaum urban, hanyalah perpanjangan tangan penanam modal belaka.

Aku terharu. Laksana Hati Kudus Yesus, Ibu Pertiwi tak kunjung hilang harapan dan semangat kepadaku. Dalam gejolak amarahnya sekalipun, beliau masih sempat menyisakan batang pohon kokoh yang siaga menopang tatkala lelah menerjang. Tak seperti para penanam modal yang hanya ingin menjadikan negeri ini jajahannya. Seperti putri duyung berdada penuh itu, jelita yang hanya sudi berkawankan sinyo londo berjenama Sanders, Allen dan Wright. Baginya, anak jati sepertiku hanyalah serdadu krocuk yang menyokong khazanahnya. Mereka tak sudi mendekatkan diri denganku. Pagar tinggi menjulang nan angkuh dipancang tinggi menjulang. Bahkan, mereka tak ragu untuk beringsut pergi (dan mengerdilkan jiwa bangsa kami) setelah tak ada yang dapat digerus lagi.

Malam ini, setelah matahari terbenam, raga telah rebah pada tanah dan jiwa melekat pada akar. Angin gunung mulai berdengung. Menghembuskan kasih yang begitu murni, seperti kasihku kini pada Ibu Pertiwi. Kasih yang telah lama pergi, namun terlahir kembali. Dan dahan yang nyaris hilang, kini telah menemukan arah pulang.

Aku tak ingin Elf itu membawaku kembali.

Jakarta, September 2016

***

Catatan Pengarang: Terima Kasih kepada rekan-rekan Wisata Gunung yang telah menyertai saya dalam Pendakian Gunung Papandayan pada tanggal 26-28 Agustus 2016 lalu. Karya fiksi gunung lainnya yang terinspirasi dari perjalanan saya bersama Wisata Gunung adalah “Surat Untuk Baskoro” dan bisa Anda nikmati  dengan mengunjungi tautan ini. Selamat menikmati!

Save

Save