Perjalanan Rasa Untuk Berbicara

25
242

Guratan sinar matahari berhasil menembus jendela. Cercahan cahayanya berhasil menarikku dari dekapan mimpi. Ini sudah pukul enam pagi.

Aku segera meraih dan mengenakan pullover yang telah kuletakkan di atas carrier berwarna biru cerah. Seperti warna langit saat ini. Semalam, aku memang telah mempersiapkan pakaian yang akan kukenakan pagi ini. Aku juga telah menata semua perlengkapanku di dalam tas raksasa berukuran separuh tubuhku itu beberapa hari sebelumnya. Lebih aman begitu. Aku tak harus terburu-buru sebelum memulai pendakian. Hanya perlu menikmati sarapan ditemani beberapa kawan dan gemerlap keemasan mentari pagi.

Aku segera memeriksa kembali barang-barangku. Memastikan agar apa yang diperlukan selama perjalanan menuju perkemahan mudah diraih. Jas hujan, keperluan P3K dan headlamp beserta baterai cadangannya pada kantong paling atas; ransum dan makanan kecil pada kantong bagian depan. Sementara keperluan berkemah telah tersusun rapi pada bagian dalam.

Kami segera melangkahkan kaki menuju pos pemeriksaan untuk melapor diri. Menunjukkan simaksi. Syukurlah, tak perlu waktu lama untuk semua ini. Persyaratan registrasi dan administrasi lainnya telah kami urus jauh-jauh hari.

Tepat pukul delapan pagi, kami mendapati derap kaki kami sedang asyik menelusuri ladang penduduk yang dipenuhi tanaman pangan. Corak warnanya begitu memanjakan mata. Bunga kol berwarna gading tampak menyembul di antara hijau dedaunan dan oranye wortel yang nampak berkilau tertimpa sinar matahari.

Aku bisa merasakan air liurku memenuhi rongga mulut. Membayangkan kehangatan kuah sop nan gurih dengan irisan bunga kol dan wortel segar itu membasuh kelelahan setelah beberapa jam pendakian. Jalur Gunung Putri yang kami lalui memang terkenal menguras tenaga. Diperlukan waktu sekitar tujuh jam untuk sampai pada Perkemahan Surya Kencana yang berjarak 5 kilometer dari pos pemeriksaan.

Kami mulai memasuki kawasan hutan yang dipenuhi pepohonan tinggi dengan lingkar batang yang lumayan besar. Jalan setapak berbatu telah berganti dengan tanjakan tanah basah yang lebih terjal. Aku bisa merasakan langkahku yang melambat dan nafasku yang mulai tersengal. Namun, aku terus bergerak bersama rombonganku.

Bagiku mendaki gunung dan menggapai puncaknya seperti meniti karir. Semakin tinggi posisi, tantangan yang dihadapi akan semakin berat. Aku masih ingat bagaimana aku memulai kiprahku sebagai salah seorang staf di sebuah perusahaan swasta. Hanya ada beberapa laporan transaksi yang perlu kukerjakan setiap hari. Hanya aku dan lembaran kertas penuh angka itu. Kini sebagai kepala departemen keuangan, aku tak hanya bertanggung jawab terhadap bilangan yang tertera pada lembaran kertas yang semakin bertambah itu, tetapi juga terhadap kinerja anak buahku dan ragam keunikan mereka.

Tak jauh berbeda dengan jalur pendakian ini. Setelah melalui jalan berbatu dan tanah basah, kami masih dihadapkan pada kemiringan tanah yang lebih curam. Reruntuhan batang pohon dengan ranting yang berkelok-kelok membentang di hampir sepanjang jalur pendakian. Pendaki umumnya bisa memilih jalur mengitari atau melangkahinya.

“Gak mau muter aja?” tanya seorang kawanku.

“Kejauhan ah! Nanti bisa semakin sore sampenya. Ini kan weekend. Lebih ramai dari biasanya. Semakin telat sampai, semakin susah dapet posisi enak untuk kemping,” jawabku.

“Benar juga,” seorang kawan menyetujui usulanku.

Kami akhirnya melangkahinya. Lebih tepatnya melompati. Memang menguras tenaga, tetapi akan mempercepat waktu pendakian. Aku tentunya sudah tak asing lagi dengan falsafah semacam itu. Bukankah hal serupa terjadi saat aku bergelut dengan pekerjaanku? Upaya ekstra diperlukan agar karir lebih cepat melejit. Tak sampai sewindu aku menabung jam lembur, posisi kepala departemen telah berada dalam genggaman.

Satu per satu reruntuhan pohon itu kami lewati. Sampai akhirnya tak satu pun dari kami sanggup menghitung lagi. Apalagi meloncatinya. Kami putuskan untuk beristirahat pada sebuah bangunan yang menyerupai gazebo.

Aku melempar pandanganku ke arah sekitar. Tanaman hijau kekuningan serupa ganggang menggelayuti pepohonan. Kabut tipis mulai menyusup di antara batang yang masih menjulang. Pemandangan ini sungguh membangkitkan perasaan syahdu yang telah lama terkubur oleh tumpukan pekerjaan yang menyita seluruh perhatian dan tenaga.

Tiba-tiba aku merasakan perutku mulai bergemuruh. Kulirik jam tanganku. Pukul sebelas siang. Masih sedikit awal untuk makan, tetapi tak satu pun dari kami peduli. Aku justru bersyukur atas kesempatan makan yang datang lebih cepat. Jarang-jarang hal ini terjadi dalam keseharianku. Tuntutan pekerjaan kerap membuatku terlambat makan siang, jika tidak melewatkannya.

“Makan dulu ‘yuk,” usulku kepada kawan seperjalanan. Kami segera melahap bekal yang telah kami bawa dari basecamp tempat kami menginap.

Punten,” sapa seorang pendaki menghampiri kami.

Mangga,” jawab saya dan kawan-kawan saya serempak.

Akang sama Teteh berangkat dari jam berapa?”

“Jam delapan,” jawab rekanku.

Cepet pisan. Semangat!”

Makasih, Kang,” jawabku. Mereka pun segera memohon diri.

“Lanjut jalan lagi ‘yuk. Masih tiga jam lagi ke Surken,” aku mengingatkan teman seperjalananku.

Kami segera menghabiskan bekal kami dan melanjutkan pendakian.

***

Tiga jam pendakian yang tersisa menghadapkan kami pada medan yang semakin menantang. Tanjakan semakin curam. Pokok kayu yang berserakan semakin besar. Hembusan angin kencang seolah ingin merobohkan semangat kami. Kami terus melangkah. Bayangan akan keindahan padang edelweiss yang menghiasi kawasan perkemahan menjadi sumber semangat.

Edelweiss. Konon, bunga ini adalah lambang mitos akan cinta yang abadi. Yah… mitos! Cinta abadi telah lama mati. Seperti cinta Ayah kepada Ibu hingga dia memutuskan untuk pergi pada saat usiaku masih dini. Meninggalkan Ibu seorang diri untuk melanjutkan hidup kami.

Pada masa itu, jiwa kanak-kanakku dibuat takut oleh cinta. Bagi aku cilik, cinta identik dengan luka dan air mata. Ingatan akan tubuh lebam Ibu setelah bertengkar dengan Ayah dan wajah letihnya setelah bekerja dari subuh hingga tengah malam masih tergambar jelas.

Keabsenan Ayah dan wajah Ibu yang selalu nampak lelah, membuat aku cilik tak punya teman untuk berbagi cerita. Aku sungguh tak tega menambah beban yang harus Ibu pikul. Kusibukkan diriku membaca buku dan catatan pelajaran berulang kali. Aku bahkan melakukannya dengan masih mengenakan seragam sekolah. Hanya itu yang aku punya dan tas sekolah pemberian tetangga.

‘Kedekatan’ pada atribut sekolah ini tentunya memudahkanku untuk meraih gelar Juara Kelas. Tiket first class untuk mendapatkan beasiswa dari perguruan tinggi bergengsi. Setidaknya, aliran dana ini bisa mengurangi beban Ibu dan memperbaiki nasib kami.

Selepas masa kuliah, mataku hanya tertuju pada posisi puncak karir dengan kenyamanan materi yang diberikan. Dari rumah luas yang ber-AC, hingga model pakaian terbaru dan tas tangan seharga Avanza.

Angan-angan masa remaja itu telah menjadi kenyataan. Ibu bahkan tak perlu lagi membanting tulang. Penghasilanku mampu untuk membiayai hidup kami.

Yang tak pernah kuperkirakan adalah badai asmara yang tengah menyergap.

***

Sosok itu mencuri perhatianku di satu Minggu pagi, ketika ia dengan setianya menemani sang ibu beribadah. Pemandangan dirinya tengah menggenggam tangan sang ibu saat mereka menyeberangi jalan secara ajaib menyentuh perasaanku, menyihir aku untuk tidak mengalihkan kedua mataku. Tanpa aku sadari, pemandangan yang aku temukan itu telah menjelma menjadi pemandangan yang aku cari di setiap Minggu pagi.

Namanya Ruben. Aku tahu ini semua karena baru-baru ini, tanpa ancar-ancar, ia bergabung dengan perusahaan tempatku bekerja. Jika kebetulan memang ada, mungkin kejadian ini adalah salah satu contoh yang paling nyata.

Pembawaannya tenang. Cenderung pendiam. Wajah rupawan dan tubuh yang tegap tidak cukup untuk menyembunyikan kecanggungannya agar bisa bertahan di dunia perkantoran. Dalam tiga bulan pertamanya di kantor, ia telah memperoleh gelar ‘Arca’ karena keiritannya dalam berkata-kata. Dalam delapan bulan pertamanya, kami hanya berbincang sekali saja.

“Kayaknya sering liat di gereja ‘deh,” sapanya ketika kami sedang menunggu lift. Terperanjat oleh sapaannya, aku hanya bisa mengangguk. Arca itu akhirnya berbicara, batinku.

Pertemuan kami selanjutnya hanya serangkaian ketidaksengajaan saat kami bertemu di depan lift atau saling berpapasan selepas ibadah. Tak ada sepatah katapun terucap. Hanya seuntai senyum.

Sampai suatu malam, ia menghampiri meja kerjaku saat aku sedang memeriksa pekerjaan anak buahku dengan khusyuk.

“Masih lama?” tanyanya.

“Sampai hujan berhenti saja. Lagi nggak bawa mobil,” jawabku dengan mata yang masih menatap laptop.

“Saya tinggal di sekitar gereja. Bareng aja kalau searah,” sambungnya.

Aku hendak menolak tawarannya ketika kulirik ponselku ada satu pesan singkat dari Ibu.

”Pulang, Neng. Ibu masak sayur sop kesukaanmu.”

Entah konspirasi alam apa yang sedang terjadi. Arca yang mulai berperi, tempat tinggal kami yang saling berdekatan dan pesan Ibu yang menggugah rasa lapar yang tak tertahankan.

Aku langsung menerima ajakannya. Segera kumatikan laptop, meletakkannya di dalam nakas lalu menguncinya dan berjalan meninggalkan kantor.

“Terima kasih ya,” ucapku.

“Santai…,” jawabnya sembari membukakan pintu utama untukku.

Tak ada yang spesial dalam obrolan kami selama perjalanan. Hanya seputar keseharian di kantor. Namun, saat ia dengan sabar memastikan aku telah memasuki rumah sebelum dirinya beranjak pergi, aku merasakan ada sesuatu yang berdesir perlahan di dalam diriku.

Aku tak menghiraukannya. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku. Restrukturisasi beberapa bulan lalu telah menghujaniku dengan pekerjaan tambahan. Ini pertanda baik bagi karirku. Aku tak akan membiarkan kerewelan masa remaja yang terlambat datang ini menghancurkan mimpi.

Aku hanya menganggap keramahan dan ajakan makan bersama itu sebagai ramah-tamah seorang rekan kerja. Paling tidak, aku punya seorang teman untuk berbagi cerita. Melepas penat. Bagai hembusan angin yang tengah membasuh lelah setelah aku melalui undak-undakan tanah basah yang tak ada habisnya.

Hingga suatu malam, saat kami tengah asyik berbincang hingga terlampau larut, ia berkata, “Nggak telpon Ibu dulu? Ngabarin pulangnya agak telat. Biar Ibu nggak khawatir.”

“Ibu sudah tahu. Thanks,” jawabku sambil memandangnya lekat.

Sejak itu, desau yang awalnya sayup-sayup itu mulai menggelegar. Memecahkan konsentrasi saat bekerja. Aku mulai merinding ketakutan. Entah mana yang lebih menyeramkan: masa kanak yang kelam atau rencana promosi yang nyaris terancam.

Aku kukuh pada pendirianku. Kesuksesan karir adalah prioritas utamaku. Kuabaikan gejolak itu. Aku mulai mencibir setiap ucapannya agar ia menjauh dariku.

“Mendaki gunung itu capek banget yah, tetapi seru,” ujarnya penuh semangat saat ia baru kembali dari pendakian pertamanya.

“Masa begitu aja capek?! Gunung Papandayan ‘kan termasuk gampang,” tukasku.

“Kan nggak biasa. Lagipula saat mendaki hujan gede banget,” jelasnya membela diri.

“Namanya juga mendaki pas musim hujan,” balasku tanpa rasa iba sedikit pun.

Aku bisa merasakan sorot matanya yang meredup.

Upaya semacam itu memang berhasil menjauhkan dirinya dariku, tetapi tak mampu membungkam perasaan asing yang datang bersama kehadiran Ruben dalam hidupku.

Seperti gumpalan awan hujan yang tak kupedulikan keberadaannya pagi tadi. Alih-alih menjauh, mereka malah datang bersama gemuruh angin yang membuat langkahku terkatung. Pandanganku menjadi lindap. Tertutup oleh wajah Ruben, yang dengan sabar menungguku saat mengantarku pulang. Wajah itu nampak jelas di antara wajah lelah dan memar di sekujur tubuh Ibu yang juga terukir pada awan kelabu.

Gumpalan Awan
Gumpalan awan hujan yang tak kupedulikan keberadaannya pagi tadi. Alih-alih menjauh, mereka malah datang bersama gemuruh angin yang membuat langkahku terkatung.

Bedanya, Ibu tahu bagaimana menghadapi badai rumah tangga yang menyerang. Ia mampu menanggung hidup kami dan mendukung setiap langkah hidup serta karirku. Sementara aku hanya mampu gemetaran setelah beberapa saat curah hujan menyatu dengan air mata yang tak dapat kutahan lagi.

Jarum-jarum hujan itu mulai menembus pakaian. Membuat sekujur tubuhku ngilu dan mulai menggigil. Aku berusaha untuk berjalan dengan nafas yang terengah-engah. Sampai akhirnya aku merasa lemas.

Satu tarikan nafas kuhembuskan sebelum akhirnya tubuhku tersungkur. Meninggalkan rasa pening di kepala beserta cairan merah yang perlahan menjelma hitam pekat.

Syukurlah, kegelapan itu tak berlangsung lama. Samar-samar aku bisa melihat seorang kawan berlari menghampiriku. Menjauhkanku dari carrier biru cerah yang semakin terasa berat itu. Ia mengguncang-guncang tubuhku. Perlahan-lahan kesadaranku kembali. Seorang kawan lagi segera mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Kami segera melanjutkan pendakian.

Kawan seperjalananku bahkan berbaik hati untuk menggendong carrier-ku selama sisa pendakian. Tanpa tas raksasa itu tersandang pada bahu, tubuhku terasa ringan. Langkahku pun semakin cepat hingga tanpa terasa aku telah sampai pada Puncak Gede. Aku segera berpaling untuk berbagi kebahagiaan ini bersama rekan-rekanku, tetapi tak kudapati mereka di sekitarku. Kutunggu beberapa saat. Namun, mereka tak kunjung tiba. Berat carrier-ku pasti telah memperlambat laju mereka.

Aku segera berlari kembali menelusuri jalur pendakian. Demikian cepatnya hingga tanpa terasa, aku telah sampai pada perkebunan warga yang sempat kulalui di awal pendakian tadi. Aneh. Tak kujumpai seorang kawan pun hingga saat ini.

Aku melanjutkan langkahku menuju basecamp tempat aku dan kawan pendakianku menginap semalam. Dari kejauhan aku justru melihat Ibu dan Ruben berada di sana. Aku tertegun. Tak menyangka mereka akan menyusulku ke tempat ini.

Aku mempercepat langkahku. Akan tetapi, mereka hanya diam terpaku seolah mereka tak melihat diriku. Mereka malah berlari melewatiku. Dari balik punggung, kudengar Ibu berteriak menyebut namaku. Kupalingkan pandangan ke arah Ibu. Betapa terkejutnya aku mendapati mereka berdua berlari menghampiri tubuhku yang terbujur kaku. Tangis Ibu akhirnya pecah dan Ruben hanya menatap tubuhku dengan nanar sembari mengecup lembut keningku.

Jakarta, Desember 2016

***

Catatan Pengarang: Puji Syukur kepada Tuhan saya ucapkan atas kesetiaan dan kesabaran kakak-kakak dari GYKT Abbalove Ministries Rajawali yang telah menyertai saya dalam Pendakian Gunung Gede pada tanggal 3-4 Desember 2016 lalu.

 

Save

Save

25 COMMENTS

  1. Kalaupun nama penulis ditutup, pembaca setia kak Maria sepertinya bisa menebak kalau ini tulisan kakak, mengalir teratur dan teduh. Jadi penasaran, tulisan Kak Maria yang alurnya lateral…

  2. Selalu terkagum-kagum setelah tamat membaca cerpen Kak Maria, sudah beberapa cerpen yang aku baca dan terpana plot twist-nya itu loh. Kupikir cerpen ini akan happily ever after antara Si tokoh Aku dan Ruben. Bagus banget, Kak. Dibukukan saja, jadi antologi cerpen. Penerbit indie banyak yang oke,

    • Terima kasih atas semangat dan masukannya, Miss Yun. Mohon juga dibantu doa dan restu segala rencana dimudahkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here