Seni Membangun Cerita

53
438

Pada artikel sebelumnya, saya pernah berbagi kiat dari Ahmad Tohari tentang menggali gagasan untuk sebuah cerita. Kepekaan sosial menjadi kunci utama. Dipadu dengan kepo yang berfaedah atau 5W1H, akal sehat kita akan tergerak untuk menjaring informasi dan menemukan makna yang akan menjadi bekal pengetahuan kita. Hingga pada akhirnya, daya kreativitas kita pun bebas untuk berimajinasi dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita.

Pertanyaan selanjutnya yang mungkin ada dalam benak teman-teman sekalian adalah “Bagaimana menuliskan cerita berdasarkan gagasan tersebut?”

Jujur, untuk yang satu ini, saya sebenarnya lebih memilih untuk bungkam. Mengapa?

Teman-teman mungkin sudah sering berkonsultasi dengan Mbah Google tentang “tips menulis fiksi” dan semacamnya. Hasil yang serupa selalu bertebaran di setiap artikel yang berbeda. Tentang elemen dasar yang seyogyanya ada pada cerpen seperti tema, latar, karakter, dan konflik yang dialami tokoh utama dalam cerita. Lalu ada peraturan tentang pentingnya deskripsi dan dialog untuk menghidupkan cerita.

Namun, teman-teman juga pasti kerap menemukan karya-karya penulis kenamaan dan peraih Nobel Sastra yang justru banyak kita jumpai telah melawan kaidah-kaidah tersebut.

Meminjam kata-kata Elizabeth George dalam Write Away (2004): “Menulis adalah bentuk seni, sebaiknya tidak diajarkan. Bagaimana gairah diajarkan?” Benar juga, bagaimana penulis dan penggiat seni bisa menjadi otentik bila selalu terbentur oleh segala aturan?

Akan tetapi, kita juga tak bisa pungkir, jika peraturan itu ada bukan untuk mengekang, apalagi bagi penulis pemula seperti saya ini. Kaidah-kaidah tersebut setidaknya bisa kita maknai sebagai panduan agar kita tak lekas bingung “harus memulai menuliskan cerita dari mana.”

Elemen-Elemen Dasar Cerita:

1. Tema

Kepekaan sosial kita tentunya mampu menjaring berbagai peristiwa yang layak dijadikan ide. Namun pertanyaannya, apakah semuanya relevan untuk masuk dalam satu cerita? Fungsi utama tema sebenarnya adalah untuk membantu kita fokus dalam memilih informasi yang akan kita tuangkan ke dalam naskah. Tentunya, agar cerita yang seharusnya mengasyikkan tidak terkesan bertele-tele.

Tema juga akan membantu menentukan elemen-elemen lain dalam cerita, seperti latar dan tokoh yang akan diikutsertakan agar cerita kita menjadi utuh.

Contoh: pada cerpen Pak Tohari, tema yang beliau pilih adalah kinerja wakil rakyat yang masih perlu banyak diperbaiki, terutama terkait hajat hidup wong cilik. Maka, tercetuslah ide “gelandangan yang ingin mengencingi Jakarta” dan mengambil latar di Stasiun Pasar Senen (tempat kebanyakan kereta kelas ekonomi menjemput dan menurunkan penumpang).

2. Plot

Sebaiknya sejak awal, seorang penulis sudah harus menyiapkan kerangka plot. Namun ada kalanya juga, kehadiran plot akan mengekang imajinasi penulis dan tak jarang menghadirkan kemandekan.

Saya pribadi berdamai dengan menyiapkan sinopsis atau premis cerita.  Contoh template yang kerap saya gunakan justru mengambil dari buku Kelas Skenario: Wujudkan Ide Menjadi Naskah Film anggitan Salman Aristo dan Arif Shiddiq.

          1. (Nama karakter dalam certita) _________________________
          2. sangat ingin ________________________________________
          3. dengan cara ________________________________________
          4. namun mengalami kesulitan saat ____, karena ____________

Foto dari buku Kelas Skenario: Wujudkan Ide Menjadi Naskah Film yang diterbitkan oleh Esensi – Penerbit Erlangga GroupSinopsis semacam ini juga memudahkan saya memilih konflik yang akan diangkat.

Bahkan, ketika saya sudah terlalu semangat menulis di awal hingga menyelesaikan draf ataupun sedang mandek, membuat kerangka karangan berdasarkan draf dan merujuk kembali pada premis cerita terbukti sangat berguna untuk mengevaluasi kemungkinan-kemungkinan terjadinya p(l)othole dan mencari cara untuk menutupinya.

3. Karakter

Fiksi itu memang cerita rekaan, namun jika boleh saya mengutip Scott Fitzgerald (The Great Gatsby), “If you take real people and write about them, you cannot give them other parents than they have, you cannot make them do anything that they wouldn’t do. … Goddamn if you took liberties with people’s pasts and futures you produced not people but dammed marvelously faked case stories.”

Artinya, saat membentuk karakter tokoh, kita harus membuat tokoh itu sesuai fitrahnya dalam cerita. Tentu saja ada beberapa pengecualian, tetapi sebaiknya kita menyertakan perkembangan kepribadian tokoh itu dalam cerita.

Contoh: Kali ini saya ingin menggunakan tokoh Segara Alam dalam novel Pulang karya Leila Chudori. Tokoh segara Alam adalah putra dari Hananto Prawiro, seorang aktivis kiri yang dieksekusi pada saat Alam masih berusia lima tahun. Selama dalam masa pengejaran tentara (1965-1968), seluruh anggota keluarga Alam (ibu dan dua orang kakaknya) mengalami kekerasan.

Foto Bahan Bacaan Klinik Menulis Fiksi bersama Leila Chudori Dalam Pulang, Mbak Leila menumbuhkan sosok Alam sebagai pemuda yang keras, pemarah, dan tak sabar. Tentunya pilihan ini didasarkan atas riset yang menyeluruh  tentang kehidupan anak-anak tapol pada masa Orde Baru yang lazimnya tak dapat tumbuh dengan bebas dan nyaman seperti anak-anak lainnya. Mereka harus merunduk dan bahkan harus menggunakan nama samaran jika bekerja di tempat-tempat yang agak publik. Anak-anak tapol tumbuh dan hidup dengan menggendong beban sejarah! Alam tak mungkin sebagai pemuda yang happy go lucky.

Biasanya, saya suka membuat biodata untuk tokoh-tokoh dalam karya saya, walaupun tidak semua informasi tersebut saya tuangkan ke dalamnya. Bagi saya, biodata tokoh membantu agar karakter tokoh konsisten dengan fitrahnya.

4. Akhir Cerita

Pelik! Pembaca Indonesia pada umunya menyukai “akhir yang bahagia.” Mereka sering marah dan kecewa jika sebuah kisah diakhiri dengan kematian, perpisahan, atau kekalahan. Namun, kita hendaknya jujur pada diri sendiri apakah cerita ini layak untuk diakhiri dengan kebahagiaan atau dengan kepedihan. Jangan memaksa diri.

Setelah keempat elemen dasar tersebut kita siapkan, kita bisa mulai merangkai kata untuk mengisi kerangka cerita kita hingga menjadi sebuah cerita yang utuh. Berikut ini adalah dua jurus dasar bercerita yang bisa kita terapkan.

Jurus Dasar Bercerita:

1. Deskripsi

Perlu dicamkan dengan baik bahwa deskripsi bukan hanya asal sebut apa yang kita saksikan. Bukan sekadar mengabsen benda apa saja yang ada, atau siapa yang hadir. Dalam mengaggit sebuah kisah, deskripsi adalah seni menggambarkan situasi atau latar yang ada: orang, benda, suasana, udara, aroma hingga perasaan. Tak jarang dalam deskripsi diselipkan metafora.

Sebagai seorang penulis, kita harus berani menganalisa apakah yang kita deskripsikan memang relevan dengan kisah yang hendak disajikan. Jika tidak, jangan dipaksakan untuk menjadi bagian dari cerita untuk menghindari kesan bertele-tele dan pada akhirnya, kita juga yang akan kehilangan kesempatan untuk menyampaikan gagasan kita lewat kisah tersebut.

Foto dari Menulis dan Berpikir Kreatif Cara Spiritualisme Kritis karya Ayu Utami yang diterbitkan oleh Penerbit KPGIngat: deskripsi itu untuk memperkuat/menghidupkan latar cerita kita, bukan sekadar untuk membuat halaman penuh dengan racauan seperti buku harian.

Cerita pendek saya yang berjudul “Surat Untuk Baskoro” adalah hasil latihan saya membangun deskripsi pada Klinik Menulis Fiksi bersama Leila Chudori yang diselenggarakan oleh Tempo Institute beberapa waktu lalu. Cerpen ini juga menjadi karya terbaik dalam sesi pelatihan deskripsi tersebut.

2. Dialog

Fungsi utama dialog adalah membangun karakter agar tokoh kita hidup dan meyakinkan bagi pembaca dalam mendengar kata-katanya yang paling kuat. Cerita pendek karya Umar Kayam yang berjudul “Seribu Kunang-Kunang di Manhattan” berikut adalah salah satu referensi yang baik untuk mempelajari bagaimana dialog digunakan untuk membangun karakter Jane dan Marno dalam cerita tersebut.

Baca juga: Teknik Membuka Cerita ala Agus Noor

***

Demikianlah ulasan saya mengenai “Teknik Membangun Cerita.” Sekali lagi, anggaplah ulasan di atas sebagai panduan, bukan peraturan yang kehadirannya bersifat mengekang. Namun sebagai penulis pemula, sebaiknya kenali dan patuhi kaidah-kaidah terlebih dahulu sebelum menggugat. Supaya kita paham dan tidak mudah dilupakan sejarah.

***

Jakarta, Nopember 2018

Referensi:

              1. Bahan Bacaan Klinik Menulis Fiksi bersama Leila Chudori (Tempo Institute 2017)
              2. Kelas Skenario: Wujudkan Ide Menjadi Naskah Film (Esensi – Penerbit Erlangga Group, 2017)
              3. Menulis dan Berpikir Kreatif Cara Spiritualisme Kritis karya Ayu Utami (KPG, 2015)

Save

Save

Save

53 COMMENTS

  1. “Menulis adalah bentuk seni, sebaiknya tidak diajarkan. Bagaimana gairah diajarkan?”

    Kata² ini bagus, terkadang penulis juga harus meluapkan inpirasi di kepalanya dalam bentuk cerita. Tapi tetap mereka butuh panduan agar karyanya nggak ngasal. 😁

    Nice share Mbak Maria. 👌🏼

  2. Kak Mariaaaa, saya suka banget baca tulisan2 kakak selama ini. Bertutur dengan logika tertentu yang pas. Oh ternyata ada beberapa hal yang mendasarinya, yang asik juga diterapkan untuk saya nulis puisi nih dari tema, plot, karakter sampai ending. Sip.Sip… terus berbagi kebaikan untuk sesama ya kak. GBU

  3. Menurut saya, cara belajar menulis adalah dengan menulis sebanyak-banyaknya, nanti tumbuh sendiri feel nya, setelah baca karya orang lain, mulai deh banding2in, eh nulis kayak begitu asik juga yaa…

  4. Wowww, baca ini lansung mendapat pencerahan banget. Saya suka bingung harus mulai darimana akhirnya mental terus dan jadi ga mulai-mulai. Mantap ini tipsnya dan makasih juga buat sumber referensinya, coba cari ah.

  5. “Pelik! Pembaca Indonesia pada umunya menyukai “akhir yang bahagia.” Mereka sering marah dan kecewa jika sebuah cerita diakhiri dengan kematian, perpisahan, atau kekalahan. Namun, kita hendaknya jujur pada diri sendiri apakah cerita ini layak untuk diakhiri dengan kebahagiaan atau dengan kepedihan. Jangan memaksa diri.”

    Saya setuju statement ini, dan saya memang suka happy ending karena bikin memotivasi hehe

  6. Tentang deskripsi, memang seharusnya tidak terlalu bertele-tele. Dalam tulisan fiksi, penggunaan kiasan/metafora (dan juga kata-kata puitis) yang sewajarnya saja. Soalnya kalau terlalu banyak jadi pusing bacanya hehehe…

    • “penggunaan kiasan/metafora (dan juga kata-kata puitis) yang sewajarnya saja” Ini memang salah satu mitos sastra yang perlu segera ‘disegarkan,’ Mas Ris,

  7. Wow, ternyata alumni Klinik Menulis Fiksi Tempo Institute ya. Juara nih pasti mba Maria. Artikelnya berfaedah sekali buat saya yang memang suka nulis cerita fiksi.

  8. Baca ini berasa ikut kelas penulisan fiksi saja.. Detul dan lengkap.
    Terima kasih Mbak Maria.
    Yang paling saya concern ada di penutup cerita.
    Saya beberapa kali baca ending yang maksa. Artinya terpaksa dibuat bahagia. Padahal sepertinya enggak pas..
    Wah, nwxt saya juga musti belajar jujur, akhir seperti apa yang sesuai, dan bukan mengikuti selera orang kebanyakan.

  9. Aku dapat asupan gizi yang luar biasa nih, dari dulu memang terkendala dengan mendeskripsikan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Untuk menulis Blog ternyata harus mempunyai panduan agar enak di baca dan tidak seperti Buku Harian Pribadi. Ini akan jadi ilmu (info) sekaligus PR untuk aku terapkan. Membangun mood menulispun terkadang harus di pecut. Tanks Ka Maria

  10. Terima kasih ulasannya Kak. Saya sendiri baru menapaki dunia menulis kreatif. Meski sudah cukup lama berkecimpung di dunia Journaling, tapi membuat tulisan kreatif itu hal yang berbeda. Paling tidak seperti yang mbak Maria ajarkan, banyak kaidah yang harus dipelajari. Semoga ke depannya tulisan saya makin enak dibaca 😁❤️.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here