Resensi Laut Bercerita: tentang Kematian dan Kehilangan yang Dipaksakan

19
239

Judul: Laut Bercerita

Penulis: Leila S. Chudori

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

ISBN: 978-602-424-694-5

Laut Bercerita mengajak pembaca untuk time traveling ke suatu masa di mana demokrasi hanyalah ilusi dan bersikap kritis kepada pemerintah akan merenggut nyawa. Jangankan mengkritik, membawa, membaca dan mendiskusikan buku yang beraliran kiri saja, yang dianggap mampu menumbuhkan semangat perlawanan terhadap rezim Orde Baru (seperti karya-karya Pak Pramoedya Almarhum), serasa menenteng bom bunuh diri. Siapapun yang melakukannya dianggap pengkhianat negara dan harus dimusnahkan dari tanah Indonesia. Tanpa peradilan apalagi hak atas pengacara.

Pada bagian pertama buku ini, pembaca diperkenalkan kepada Biru Laut, seorang mahasiswa Sastra Inggris UGM, yang akhirnya mengalami dan merasakan secara langsung kekejian penguasa kepada mereka yang vokal terhadapnya.

Adalah kepiawaian Mbak Leila dalam menceritakan dan mendeskripsikan suasana yang membuat pembaca seolah tengah bersama Biru Laut lembar demi lembar. Suasana kamar tempat saya membaca novel ini serasa meremang dan jantung saya berdegup lebih cepat ketika membaca perjalanan Laut bersama para mahasiswa, yang tergabung dalam Winatra dan Wirasena, ke Blangguan untuk mekakukan aksi tanam jagung bersama para petani yang tanahnya akan dirampas secara paksa oleh pemerintah.

Sementara kecerkasan Mbak Leila dalam menuangkan kata dalam setiap kalimat mengajak kita turut serta merasakan gelora para aktivis untuk memperjuangkan keadilan.

Baca juga: Seni Membangun Cerita

“Indonesia tak memerlukan AS, Laut. Cukup kelas menengah yang melek politik dan tak lelah menuntut. Untuk itu, kita harus melihat kekompakan perlawanan mahasiswa pada peristiwa Kwangju.” (hal 113)

“Kita tak ingin selema-lamanya berada di bawah pemerintahan satu orang selama puluhan tahun, Laut. Hanya di negara diktatorial satu orang bisa memerintah bagitu lama… seluruh Indonesia dianggap milik keluarga dan kroninya. Mungkin kita hanya nyamuk-nyamuk pengganggu bagi mereka. Kerikil dalam sepatu mereka. Tapi aku tahu satu hal: kita harus mengguncang mereka. Kita harus mengguncang masyarakat yang pasif, malas, dan putus asa agar mereka mau ikut memperbaiki negeri yang sungguh korup dan berantakan ini, yang sangat tidak menghargai kemanusiaan ini, Laut.” (Hal 182)

“Setiap langkahmu, langkah kita, apakah terlihat atau tidak, adalah sebuah kontribusi, Laut. Mungkin saja kita keluar dari rezim ini 10 tahun lagi atau 20 tahun lagi, tapi apapun yang kamu alami di Blangguan dan Bungurasih adalah sebuah langkah. Sebuah baris dalam puisimu. Sebuah kalimat pertama dari cerita pendekmu…”(Hal 183)

Namun demikan, beliau tak sungkan untuk mengingatkan bahwa di balik tembok idealisme yang tinggi dan api perlawanan yang melingkupi, Laut dan para aktivis lainnya adalah manusia muda yang pada suatu saat juga akan mengalami serangan asmara seperti rekan mahasiswa lainnya. Dan Mbak Leila melakukan ini dengan cara yang sangat efektif melalui humor yang disuguhkan saat mereka dalam perjalanan ke Blangguan.

“Sudah terlalu lama ngana hanya saling memandang dan bertukar pikiran, nanti si Tama yang berhasil, ngana gigit jari.” (Hal 118)

Baca juga: Lembaran Rindu dalam Secangkir Kenangan

Ketidakberdayaan dan kekelaman yang berkecamuk dalam diri Laut dan setiap tokoh mahasiswa ketika disekap dan disiksa pun tak luput dari radar penceritaan Mbak Leila. Afterall.. they are  human just like us, right? Kalimat-kalimat jitu dilontarkan Mbak Leila untuk memanusiakan tokoh yang identik dengan idealisme tinggi ini.

(Setelah Laut mengalami berbagai siksaan dari pemukulan dengan penggaris besi, ditendang dan diinjak dengan sepatu lars, berbaring berjam-jam di atas balok es, merasakan sepasang semut rangrang merah menggerogoti dan menggerus kelopak dan bola mata, hingga diestrum.)

“Pada titik yang luar biasa menyakitkan karena setrum itu terasa mencapai ujung saraf, aku sempat bertanya, apa yang sebetulnya kita kejar?” (Hal 182)

“Aku hanya bertanya, seandainya kami dicambuk sampai mati pun, apakah akan ada gunanya?” (Hal 182)

Dan saat arus emosi saling tumpang tindih pada penghujung bagian pertama novel ini, Mbak Leila tanpa ragu-ragu mengajak pembaca untuk terjun menyelami lautan emosi Asmara Jati, adik Biru Laut, yang harus menjadi yang paling rasional di tengah ketidakpastian serta penyangkalan ketika kakak yang disayangi tak pernah kembali dan kekasih yang kembali menjelma pribadi yang lain.

“Dan yang paling berat bagi semua orangtua dan keluarga aktivis yang hilang adalah: insomnia dan ketidakpastian. Kedua orangtuaku tak pernah lagi tidur dan sukar makan karena selalu menanti ‘Mas Laut muncul di depan pintu dan akan lebih enak makan bersama’.” (Hal 245)

“Pada titik itu, aku menyadari berapa berubahnya Alex setelah penculikan itu. Peristiwa ini bukan hanya sesuatu yang dialaminya, tetapi tampaknya itu akan mendefinisikan dirinya.” (Hal 267)

Saat selesai membaca novel ini, saya seperti kembali ditarik ke masa kini secara paksa. Napas tersengal. Untuk beberapa saat saya seperti tertinggal dalam arus waktu yang terus melaju. Namun, jedah yang cukup singkat itu mampu memberikan saya kesempatan untuk memandang ulang tentang privilege yang saya, dan sebagian besar warga negara Indonesia, nikmati pasca reformasi.

Saat saya membaca dan mendiskusikan Tetralogi Pulau Buru tanpa rasa takut, saya sadar masih ada puluhan keluarga yang telah puluhan tahun menunggu berita tentang anak-anak mereka yang belum pulang demi memperjuangkan secercah rasa aman yang saya rasakan. Saat hampir terbawa emosi dengan panggung politik terkini dan ingin segera mengekspresikannya di lini waktu media sosial, saya sadar bahwa kebebasan yang akan saya salahgunakan telah diperoleh dengan harga yang lebih dari mahal: nyawa dan kemanusiaan mereka yang dihilangkan secara paksa dan tak mampu merasakan setitik pun hasil perjuangan mereka.

Baca juga: Resensi Bukan Pasar Malam

Laut Bercerita sangat saya rekomendasikan bagi civilation jaman now. Sebuah peradaban yang lebih memilih membaca artikel online (yang kebenarannya masih abu-abu) ketimbang membaca Koran/ePaper yang telah melalui sejumlah disiplin verifikasi.

Baca novel ini, rasakan kekelaman, kenestapaan dan ketidakberdayaan yang dialami para tokoh ini demi memperjuangkan demokrasi dan kebebasan yang kerap disalahgunakan. Bacalah agar semua yang mereka rasakan melekat dalam benak sebelum mempercayai, menyebarkan apalagi menuliskan hoax.

Jakarta, November 2017

***

Tentang Leila S. Chudori:

Leila Salikha Chudori lahir di Jakarta 12 Desember 1962 dan menempuh pendidikan di Trent University, Kanada. Karya awal Leila dipublikasi di berbagai media mulai dia berusia 12 tahun.

Tahun 1989, Leila melahirkan kumpulan cerpen Malam Terakhir yang diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman Die Letzte Nacht (Horlemman Verlag). Kumpulan cerpen 9 dari Nadira diterbitkan 2009 (Kepustakaan Populer Gramedia) dan mendapatkan Penghargaan Sastra dari Badan Bahasa.

Tahun 2012 Leila menghasilkan novel Pulang, yang kini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, Belanda, Jerman, dan Italia. Novel ini memenangkan Prosa Terbaik Khatulistiwa Literary Award 2013 dan dinyatakan sebagai sebagai satu dari “75 Notable Translation of 2016” oleh World Literature Today.

Leila adalah penggagas dan penulis skenario drama televise Drama TV berjudul Dunia Tanpa Koma dan penulis skenario film pendek Drupadi (keduanya diproduksi Sinemart).

Leila menetap di Jakarta bersama putrinya, juga seorang penulis, Rain Chudori-Soerjoatmodjo

Sumber: Laut Bercerita karya Leila S. Chudori, 2017

***

Catatan Peresensi: Resensi ini sudah diterbitkan oleh Klub Buku Jakarta dan dapat diakses melalui tautan ini.

Save

19 COMMENTS

  1. Kirain ini ceritanya perjalanan underwater yang harus merelakan buddynya karena sesuatu hal dan di harus survive sampe di permukaan. Meski jauh dari ekspektasi saya jd penasaran. Hmm

    • Highly recommended nih, Kak. Apalagi peristiwa sejarah yang diangkat masih sangat dekat dengan kita. Tahun 1990-an

  2. Maafkan aku yang langsung scroll ke kolom komentar setelah membaca judul tulisanmu, Kak Maria. hahahaha…
    Aku udah punya bukunya tapi belum aku baca. Aku takut baca spoiler di dalam tulisan ini. Jadi aku lewatin dulu yaaa… :p
    Tulisan ini membuatku teringat untuk melunasi utang-utang buku yang belum dibaca. Duh masih banyak banget.

    • Setuju, Mas Ris. Sebagai konsumen informasi, kita jadi harus lebih kritis dan bijaksana dalam membaca dan menanggapi artikel semacam itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here