Resensi Nokturnal Melankolia: It’s Okay Not to be Okay

6
646

Judul: Nokturnal Melankolia

Penulis: Angelina Enny

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN: 978-602-03-7597-7

Siapa yang tak pernah didera rasa kecewa? Setiap dari kita pasti pernah mengalaminya. Entah karena rasa minder akan penampilan diri, kalahnya pasangan gubernur pilihan pada Pilkada DKI, ataupun matinya seekor hewan yang disayangi. Kecewa telah menjadi bagian dari keseharian. Namun, sering kali kita menutupinya dengan seuntai senyum. Membiarkan semua mengendap dalam benak hingga sewaktu-waktu endapan itu meledak tanpa isyarat.

Namun,  Angelina Enny tak segan-segan untuk menyuarakan kegelisahan yang dialami setiap karakter dalam ceritanya. Pergumulan yang bisa jadi tengah kita alami dan seringkali memenuhi benak tatkala malam tiba. Kita pun kerap didera insomnia. Nokturnal Melankolia.

Salah satu cerita dalam kumpulan cerpen ini berjudul La Jolie Chat. Adegan demi adegan dibangun secara cerkas oleh Enny  untuk menggambarkan keminderan Madam Jeanette-Ludy akan penampilannya. Seperti ketika ia meminta Remy, seorang pelukis jalanan yang tengah ia gandrungi, melukis kucing kesayangannya, Coco.

Dia kesepian karena tidak ada betina yang menginginkannya,” kata Madamme Jeanette-Ludy sedih. Entah ia sedih atas empatinya terhadap Coco atau karena kisah Coco yang dibuat alasan untuk menggambarkan dirinya. Berbeda dengan Catherine yang mudah berkencan dengan lelaki, Madam Jeanette-Ludy tidak berkencan sejak suaminya minggat setahun lalu. Ia tidak begitu percaya diri dengan tubuhnya yang tidak semolek Catherine.. .”  (Hal. 25)

Baca Juga:Tips Menulis Fiksi: Membujuk Rayu Pembaca ala Agus Noor

Sedangkan dalam Betina, Enny seperti mengajak kita untuk mengenang mantan Gubernur DKI yang telah banyak berjasa dalam memperbaiki ibu kota ini. Kali Angke dipilih Enny untuk menjadi latar cerita tersebut.

“Baru beberapa tahun terakhir, kali Angke* menjadi bersih kembali berkat kerja sepasukan prajurit berpakaian oranye atas perintah seorang raja kota. Kali yang biasanya meluap di musim hujan sehingga menggenangi rumah-rumah warga, sekarang sudah jinak. Raja kota itu menjinakkanya, padahal, kali itu bertahun-tahun menyimpan dendam leluhurnya. Ya, sang raja adalah seorang Cina. Tetapi tidak, ia tidak membalaskan dendam leluhurnya yang terkubur utuh di dasar kali Angke.” (Hal. 105-106)

*Menurut sejarah, kali Angke adalah bekas pembuangan jenazah orang-orang Tionghoa yang dibantai pada zaman pemerintahan Belanda.

Dan jika kita merasa jenuh dengan suasana kehidupan urban, Enny mengajak kita untuk ‘bertamasya’ ke pedalaman Sumatera, di mana kepercayaan kepada dukun masih disahihkan. Dalam Cemani yang Tak Mau Pergi, kita diperkenalkan kepada Mak Etek, seorang dukun yang cukup dielukan di kampungnya dan kerap dimintai ‘nasihat’ oleh warga. Salah seorangnya adalah Datuk yang tengah limbung lantaran ladangnya telah beberapa kali gagal panen.

Saya cukup menikmati buku ini. Karakter tokoh dan latar yang beragam, serta kepiawaian Enny dalam mencampuradukkan ide cerita dengan berbagai elemen menarik (seperti sejarah dan misteri), membuat kisah depresif yang ditorehkan justru tidak terkesan terlalu muram.

Baca juga: KataHati Berbagi Tips Menulis Kreatif

Saya merekomendasikan buku ini bagi mereka yang telah bosan dengan cerita picisan yang selalu berujung pada ‘happy ending,’ seolah-olah kesedihan dan kesuraman hidup adalah tabu yang harus disangkal keberadaannya. Selain itu, buku ini juga baik bagi mereka yang tengah gundah dan hampir mencapai titik kelam. Jangan terburu-buruh membeli pil anti depresi. Beli buku ini. Membaca buku ini melahirkan pemahaman bahwa it is okay not to be okay and you are not alone in this. Keenambelas kisah dalam kumpulan cerpen ini akan menemanimu.

Semoga masa-masa kelabu tak membuat kita semua gegabah untuk mengakhiri hidup. Seperti yang pernah diucapkan Mendiang Carrie Fisher:

“Take your broken heart, make it into art.”

Sepenggal kalimat yang pernah diucapkan pemeran Princess Leia itu seakan menjadi jiwa dalam setiap cerita pendek yang disuguhkan oleh Enny. Harapan saya, semoga kisah-kisah tersebut bisa menjadi sumbu yang menerangkan kita semua saat kita sedang mencapai titik gelap.

Jakarta, Desember 2017

***

Tentang Angelina Enny:

Angelina Enny lahir dan besar di Kotabumi, Lampung Utara. Ia gemar membaca dan menulis sejak di bangku sekolah. Lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YAI ini sekarang bekerja sebagai akuntan dan konsultan pajak di Jakarta.

Ia melatih kemampuan menulisnya bersama Ayu Utami di Kelas Menulis dan Berpikir Kreatif, juga pernah mengikuti Workshop Cerpen Kompas tahun 2015. Untuk menyalurkan jiwa seninya, ia aktif bermain teater, penyutradaraan, dan menari. Sila ikuti kesehariannya di @mbak_yu.

Sumber: Profil Penulis, Nokturnal Melankolia

***

Catatan Peresensi: Resensi ini terpilih sebagai #ResensiPilihan yang diselenggarakan oleh Gramedia Pustaka Utama dan juga dapat diakses melalui akun Tumblr GPU. Untuk membaca resensi buku yang pernah saya buat, sila mengunjungi tautan berikut.

nokturnal melankolia GPU

Save

Save

Save

6 COMMENTS

    • Dan beliau ini artis theater juga, Mas Ris. ‘

      Terkait dukun di Sumatera, saya jadi teringat novel Kemarau karya AA Navis yang menyindir tingkah laku warga dalam menghadi kesulitan bertani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here