Resensi Bukan Pasar Malam: Semangkuk Kasih Anak Negeri kepada Ibu Pertiwi

5
872

Judul: Bukan Pasar Malam

Penulis: Pramoedya Ananta Toer

Penerbit: Lentera Dipantara

Jumlah Halaman: 112

ISBN: 978-979-3820-03-3

 

Mencintai sebuah Tanah Air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati…” – Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 4

Wujud paling nyata dari cinta anak negeri terhadap Tanah Airnya ini, bisa pembaca rasakan sendiri dari tindakan tokoh Ayah dalam roman Bukan Pasar Malam. Kiprah sang Ayah bermula saat beliau tengah menjabat sebagai pengawas sekolah angkatan Belanda. Kedekatannya dengan Belanda tak membuat sang Ayah berjarak dari bangsanya. Beliau justru turut serta memimpin pemerintahan gerilya untuk memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan di tengah kesibukannya sebagai agen ganda, beliau tetap menyempatkan diri membuka kembali sekolah angkatan Belanda yang sempat mendapat kecaman dari penduduk setempat. Baginya, pembukaan sekolah ini, sekalipun atas ongkos pemerintah Belanda, akhirnya kita-kita juga (bangsa Indonesia) yang mengecap hasilnya. (Hal 52)

Kesetiaan sang Ayah akan tanah kelahirannya pun sempat mengalami ujian. Pasca kemerdekaan, beliau ditawari kesempatan untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah. Namun beliau menolak mentah-mentah tawaran tersebut, lantaran sang Ayah menilai perwakilan rakyat hanyalah panggung sandiwara dan anggotanya tak lebih dari sekumpulan badut. “Perwakilan rakyat? Perwakilan rakyat hanya panggung sandiwara. Dan aku tidak suka menjadi badut-sekalipun badut besar.” (Hal 65)

Sang Ayah lebih memilih mencurahkan cintanya dalam kesahajaan hidup sebagai seorang guru. Beliau percaya bahwa profesi ini akan mampu membukakan pintu hati anak-anak untuk pergi ke taman patriotisme. (Hal  88)

Kegetiran yang beliau alami saat menjadi guru — yang sekalipun dianggap Bapak oleh rakyat, tetapi nasibnya sangatlah mengecewakan (Hal 55) — tak membuat aliran semangat terhadap pengabdiannya lantas surut. Selama tigapuluh tahun beliau mengayuh sepeda menempuh jarak limabelas hingga duapuluh kilometer untuk menunaikan tugasnya sebagai tenaga pendidik. Bahkan ketika TBC menyergap dan penghasilannya sebagai guru tak mampu merawat, apalagi menyembuhkan dirinya, sang Ayah tetap mengasihi negeri ini. Menjelang ajal menjemput, beliau sempat bertutur “Tapi aku rela jadi nasionalis. Tapi aku rela jadi kurban semua (kebobrokan negara) ini .” (Hal 88)

Curahan kasih yang begitu bertubi-tubi ini dipaparkan oleh Almarhum Pramoedya dengan bahasa yang ringan melalui sudut pandang Aku, anak tertua sang Ayah, dalam suatu perjalanan mudik untuk menjenguk ayahanda yang tengah terbaring sakit.

Kepekaan pancaindra penulis, yang kemudian disandingkan dengan kemampuannya membangun metafora dari apa yang telah ditangkap segenap indra dan pengetahuannya akan sejarah, mengajak pembaca untuk turut serta menyertai tokoh Aku dalam perjalanan yang sarat kenangan dan penyesalan ini lantaran sikap Aku terhadap Ayahanda sebelumnya.

Saya mendapati punggung saya seketika berada pada posisi tegak seolah tengah duduk di kursi kereta ekonomi — yang pada umumnya kaku, berbusa tipis dengan sandaran sembilanpuluh derajat. Sementara wajah saya bergerak mendekati jendela rumah ketika membaca awal paragraf bab kedua buku ini. Saat itu kaca jendela bagaikan layar pertunjukan yang tengah menayangkan setiap pemandangan yang ditangkap oleh indra penglihatan Aku dan kegetiran yang tengah ia rasakan dalam perjalanan tersebut.

“Pagi-pagi itu kereta pertama telah meluncur di atas relnya dari stasiun Gambir. Gundukan tanah merah yang tinggi, yang selalu kulihat di zaman Jepang dulu bila aku bepergian ke Blora juga, kini tinggal seperempatnya. Diendapkan oleh hujan. Dicangkuli. Diseret oleh air hujan. Tiba-tiba saja terasa ngeri olehku melihat gundukan tanah merah di stasiun Jatinegara itu. Bukankah hidup manusia ini tiap hari dicangkul, diendapkan, dan diseret juga seperti gundakan tanah merah itu?” (Hal 12)

“Kuhisap sebatang rokok. Dan dingin pagi serta dingin angin pun tiada terasa betul kini. Sawah yang tandus dan yang hampir masanya dipaneni silih berganti berkejar-kejaran. Dan di sawah-sawah itu dahulu, kadang kapal-kapal capung Belanda melempari petani dengan granat-tangan. Adakalanya juga capung itu mendarat di lapangan tandus dan mencuri kambing penduduk. Ya, semua itu teringat kembali kini. Dan di rumput-rumput itu pula sebagian dari kawan-kawan yang mempertahankan garis jalan keretaapi dulu menggelepak gugur, dan darahnya menyirami rumput yang menghijau selalu itu.” (Hal 13)

Saya bisa merasakan kekosongan yang seketika singgah dalam rongga dada ketika membaca kedua paragraf tersebut dan hampir setiap paragraf dalam buku ini. Roman yang begitu tipis, namun begitu tajam dan menyayat hati. Karena pada akhirnya — setelah tiga kali membaca buku ini — yang saya dapati tak lain adalah kekerdilan dan pergumulan batin tentang sikap moral saya selama ini. Sikap moral seorang anak dan warga negara yang terlalu sibuk membangun masa depan, hingga lupa pada kedua orang tua yang tengah menua serta Tanah Air yang sesungguhnya masih belia dan butuh banyak uluran pengayoman. Saat mereka dianggap menghambat dan meresahkan diri, kata umpatan dan keluhan pun tanpa sangsi dilontarkan.

Oleh karena itu, Bukan Pasar Malam sangat saya rekomendasikan bagi setiap sosok anak dan Warga Negara Indonesia: tua maupun muda, miskin ataupun kaya, tengah dilanda apatisme ataupun romansa, dan terutama bagi mereka yang sehat walafiat. Karena, seperti yang dipaparkan oleh Almarhum Pramoedya dalam buku yang sama, manusia ini tak selamanya bebas mempergunakan tubuh dan hidupnya (Hal 48).

Dan apa yang telah kita semua perbuat dengan kebebasan yang tengah dalam genggaman ini: kepada orang tua yang telah membesarkan kita tanpa pamrih dan bagi negeri tempat kita lahir, tumbuh, dan mengais rezeki?

Jakarta, April 2018

***

Tentang Pramoedya Ananta Toer (Alm):

Lahir pada tahun 1925 di Blora, Jawa Tengah, Almarhum Pramoedya menghabiskan hampir separuh masa hidupnya dengan mendekam di penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat: tiga tahun dalam penjara Kolonial, satu tahun di Orde Lama, dan empatbelas tahun yang melelahkan di Orde Baru, serta duapuluh tahun yang merepotkan saat menjalani tahanan rumah.

Namun, penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun untuk menulis. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca). Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.

Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari limapuluh karya yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari empat puluh dua bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan internasional, diantaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsaysay Award pada 1995, dan Fakuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000. Sampai akhir hidupnya (2006), ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

Sumber: Tentang Penulis pada lembaran pertama Bukan Pasar Malam.

***

Catatan Peresensi: Resensi ini sudah diterbitkan oleh Klub Buku Jakarta dan dapat diakses melalui tautan ini. Untuk membaca resensi buku yang pernah saya buat, sila mengunjungi tautan berikut.

Save

Save

Save

5 COMMENTS

  1. Semangat nasioalisme akan tetap ada di setiap warga negara Indonesia. Contoh yang paling sederhana saat timnas Indonesia bertanding melawan timnas negara lain.
    Oh ya, agar tidak salah memilih wakil rakyat, cross cek rekam jejaknya.

    • Semoga semangat nasionalisme ini memacu bangsa kita untuk mengecek rekam jejak calon pemimpin sebelum memilih ya, Mas Ris. Untuk Indonesia yang lebih baik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here