Cinta Eka Kurniawan yang Tak Ada Mati

51
691

Judul: Cinta Tak Ada Mati

Penulis: Eka Kurniawan

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Cetakan Kedua, September 2018

Tebal: 153 halaman

ISBN: 978-602-03-8635-5

Cinta Tak Ada Mati edisi 2018

Saat Cinta Tak Ada Mati karya Eka Kurniawan terpilih sebagai buku yang akan dibahas oleh salah satu klub buku yang saya ikuti, saya merasa resah. Pengalaman saya membaca karya-karya Eka Kurniawan selama ini kurang begitu berkenan. Dogma patriarki begitu kental pada dua buku karya beliau yang pernah saya baca. Tokoh-tokoh perempuan selalu digambarkan sebagai sosok yang tak berdaya dan hanya berfungsi sebagai pemuas hasrat kaum laki-laki, seperti Dewi Ayu yang berprofesi sebagai pelacur (Cantik Itu Luka, 2002), atau Iteung yang berselingkuh demi menikmati persetubuhan dengan lelaki lantaran suaminya impoten (Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas, 2014).

Namun terlepas dari prasangka saya pada karya-karya Eka, berat rasanya jika saya tidak berpartisipasi di pembahasan buku bulan ini. Pasalnya, saya telah lama menjadi silent reader dalam diskusi grup. Akhirnya setelah menimang-nimang, saya pun memutuskan untuk tetap membaca buku kumpulan cerita Eka Kurniawan ini karena dua hal, yakni:

  1. Saya sungguh penasaran apa yang membuat Eka sangat dielu-elukan saat ini
  2. Diskon 25% yang diberikan Gramedia dan promosi cashback dari Go-Pay. Buku yang aslinya dijual dengan harga Rp. 70.000,- di P. Jawa ini, berhasil saya miliki hanya dengan membayar Rp. 32.500,- saja,.

Dan saya tak menyesal telah membeli buku ini (sekalipun tanpa potongan harga). Mengapa? Baca terus artikel ini, ya.

Dua Cerpen Pembuka yang Menyentak

Membaca cerpen pertama dari kumpulan cerita ini membuat saya sadar akan satu hal: sayalah yang sebenarnya telah termakan dogma patriarki. Jika selama ini saya menganggap pemberdayaan perempuan adalah dengan menampilkan perempuan yang mampu melawan dengan cara mengangkat senjata dalam arti konvensional, mampu berkelahi layaknya kaum lelaki, dan memberontak dengan kata-kata, melalui “Kutukan Dapur” Eka Kurniawan memberikan makna alternatif tentang pemberdayaan kaum Hawa.

“Di antara para pejuang itu, seorang perempuan melakukan pembangkangannya tanpa tombak dan bambu runcing. Ia adalah Diah Ayu yang berperang dari dapurnya sendiri.” (hlm. 4)

Ya, perempuan bisa berdaya dengan menggunakan ‘kekerdilan’ yang kerap disematkan kepada mereka. Melalui cerpen ini, Eka menunjukkan bahwa perempuan bisa berdaya dari dapurnya.

“Diah Ayu merupakan salah satu dari pemilik rahasia-rahasia tersebut. Ia bisa menciptakan sesuatu segala sesuatu menjadi makanan mewah dan rahasianya terletak pada bumbu. … Tapi berhati-hatilah, ada rahasia-rahasia tersembunyi dalam menu makan siang yang melimpah ruah seperti itu. … Rahasia ini tersembunyi di dapur, di tangan perempuan-perempuan yang menggerus bumbu dan merebus umbi-umbian. Beberapa adonan ini menjadi makanan para dewa yang begitu nikmat, beberapa merupakan penyembuh-penyembuh ajaib, dan sisanya pembunuh-pembunuh tanpa ampun. Merekalah, para juru masak, yang mampu membedakannya.” (hlm. 6)

“Adalah Diah Ayu yang menjadikannya sejata pembunuh, dan benar bahwa ia mengorganisir semua tukang masak tersebut dalam satu pemberontakan di suatu hari Kamis. Mereka membunuh tuan-tuan mereka secara serempak, tidak dengan pisau dapur, tetapi dengan kuah jamur. Itu hal paling kelabu dalam sejarah kolonial, ketika 142 orang Belanda totok mati dalam sehari. Terjadi di tahun 1878.” (hlm. 8)

Membaca fakta sejarah tersebut, Maharani, seorang perempuan yang hidup berbeda zaman dengan Diah Ayu, terpesona bahwa perempuan bisa menjadi pahlawan dengan menguasai bumbu masak. Hari itu, ia pun tahu bagaimana cara melepaskan dirinya dari jeratan kutukan dapur dan kasur sang suami.

Pemaknaan ulang tentang pemberdayaan perempuan juga terlihat dalam cerpen kedua, “Si Lesung Pipit.”

Lesung Pipit pada akhinya menggunakan tubuhnya sendiri untuk membebaskan diri dari kemesuman seorang dukun di kampung. Membaca kisah perjuangan ini mengingatkan saya akan perempuan-perempuan pada drama klasik Aristopanes (Lysistrata, 411 SM) di mana para perempuan berdemonstrasi dengan bertelanjang bulat untuk mengakhiri perang.

Setelah selesai membaca “Kutukan Dapur” dan ‘Si Lesung Pipit,” saya teringat perkataan Budi Darma dalam acara “Menjadi Manusia dengan Sastra” yang diadakan pada Februari 2018 lalu. Menurut Budi Darma, menjadi manusia dengan sastra berarti menjadi dewasa melalui karya sastra. Saya telah menjadi dewasa ihwal makna pemberdayaan perempuan dengan membaca dua cerpen pertama dalam buku ini. Pemberdayaan perempuan bukan berarti menuntut perempuan untuk mampu melakukan hal-hal yang lumrah dilakukan laki-laki, tetapi untuk lebih menghargai peranan kaum perempuan dalam kehidupan bermasyarakat.

Sungguh, betapa menyenangkan bisa terlepas dari kekerdilan diri. Apalagi kekerdilan pemikiran sendiri. Cara pandang baru yang saya dapatkan setelah membaca kisah perlawanan Diah Ayu dan Si Lesung Pipit, membuat saya mampu mengapresiasi karya-karya Eka dan sebelas cerpen lainnya dalam kumcer ini.

Ketika saya membaca “Cinta Tak Ada Mati,” saya tak lagi mengutuki Eka.

Melatie tak lagi terkesan materialistis karena telah memilih seorang dokter ketimbang pemeriksa karcis sebagai pasangan hidup. Saya justru mengapresiasi kejujuran Eka dalam membangun karakter para tokohnya. Melatie tak berhak dikucilkan karena jatuh cinta pada sosok yang lebih mapan ketimbang pria yang telah tergila-gila padanya. Jatuh cinta bukanlah pilihan, kesetiaan Melati dan Mardio pada pilihannyalah yang patut diacungkan jempol.

Cinta Tak Ada Mati, cerita terpanjang dalam kumpulan cerpen ini

Kemampuan Eka melakukan dekonstruksi pada kisah cinta Florentino dan Fermina[1] juga patut diacungkan jempol. Saya kira Eka akan berhenti ketika Melatie akhirnya menikahi pria pilihannya, tetapi tidak. Eka belum puas bermain teka-teki bersama pembaca dan mengaduk emosi mereka dengan menghadirkan kisah tragis melankolik seperti itu. Ia terus memelintir perasaan mereka hingga menyentaknya dengan kalimat pamungkas di akhir cerita.

“Mardio, dengan roman sedih lamanya bicara kepada si orang tidur, “Paling tidak, izinkanlah aku memperoleh yang tersisa dari perempuan itu.” Air matanya bercucuran deras, mencari jejak-jejak Melatie di sana, melepaskan yang tertahan sepanjang enam puluh tahun.” (hlm. 59)

Sungguh akhir cerita yang ajaib.

(Dan) Imajinasi Penulis yang Lebih dari Sekadar Handal

Akhir cerita serupa pun saya rasakan ketika membaca “Persekot” dan “Caronang.” Tokoh utama dalam cerita “Persekot” harus terlebih dahulu mendekam di bui karena cintanya walaupun ia akhirnya bisa menyelesaikan transaksi yang telah ia bayar di muka selama ia mendekam di penjara.

Sementara Caronang adalah sejenis anjing purba yang memiliki kecerdasan setingkat dengan manusia. Suatu hari, pemilik Caronang menemukan hewan peliharaan cerdasnya ini telah menembak mati Baby, anak kandung si pemilik. Sadar akan bahaya yang akan terjadi jika keberadaan Caronang diketahui, Si Pemilik pun harus mengarang cerita bahwa dialah yang telah membunuh anak kandungnya sendiri.

“Bahkan di tengah-tengah kesedihan yang begitu rupa, tak mungkin bagiku untuk menceritakan fakta tersebut dan membenarkan semua tuduhan terhadapku. Bersama polisi, kami membangun kisah fiktif yang meyakinkan ini.” (hlm. 112)

Hidup memang kadang selucu itu.

Eka telah bersikap jujur tentang kehidupan di setiap kisahnya. Dalam “Surau,” ia tak hendak berkhotbah agar kita kembali beribadah dan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ia jujur bahwa ada saat di mana kita sebagai manusia memang sedang tak mampu untuk itu. Pun ketika ia menggarap kisah sendu Melatie dan Mardio. Ia tak ingin menyajikan picisan yang hanya menghadirkan angan-angan yang belum tentu kesampaian. Patah hati adalah bagian dari kehidupan. Nikmati saja segala sendu dan absurd yang tengah ditawararkan.

Seperti Eka yang begitu menikmati menyuguhkan kisah hidup tokoh-tokohnya yang kerap tragis, berbau mistis dan ironis dalam rentang waktu lima belas tahun.

Cerita-cerita dalam buku ini dianggit dalam rentang waktu 2002 hingga 2017.

Saat usia Eka boleh dibilang tak lagi muda. Tak heran jika, tak seperti kebanyakan kaum muda yang cenderung tergesa-gesa dalam menuliskan cerita, Eka cenderung bersabar dalam menuturkan kisah hidup tokoh-tokohnya dan tak segan-segan mengajak pembaca masuk ke dalam suasana yang ia ciptakan.

Baca juga: Tips Membuka Cerita ala Agus Noor

“Dalam satu badai rasa jemu, ia terdampar di taman dan duduk di kursi sambil memakan jagung rebus begitu perlahan, sebutir demi sebutir, seolah dibutir terakhir ia akan bertemu kematian. Ada gerombolan ajak di langit membuat udara begitu murung dan ia berpikir sebentar lagi mereka akan kencing serentak, membuat selokan-selokan meluap dalam banjir. Ia tak mengkhawatirkan hal itu, selama ia selalu membawa payung bumbu masaknya, yang ia khawatirkan hanyalah kenyataan bahwa ia menghabiskan setiap hari persis dalam kemonotonan yang sama, hingga rambutnya mulai ditumbuhi belukar.” (Cinta Tak Ada Mati, hlm. 19)

Latar waktu cerita yang digunakan pun beragam dari satu cerita ke cerita yang lain. Dari zaman kolonial Belanda (“Ktutukan Dapur”), pascakolonial (“Cinta Tak Ada Mati”), hingga pemerintahan Orba (“Bau Busuk”) dan penindasan massal yang terjadi hampir di setiap rezim, semua itu tak luput dari radar penceritaan Eka. Dipadu dengan riset yang menyeluruh dan analisa yang tajam, Eka mampu menghadirkan kisah-kisah yang membuat memantik segenap indra.

Baca juga: Seni Membangun Cerita

Kini saya mengerti mengapa Eka kerap mendapatkan penghargaan di pelbagai acara literasi tingkat nasional maupun internasional. Buku ini memenangkan Penghargaan Sastra Badan Bahasa 2018, sementara Eka sendiri baru saja meraih penghargaan Prince Claus Award 2018 atas karya-karyanya yang dianggap orisinal, banyak mendobrak kaedah-kaedah kesusastraan dengan gaya penceritaan yang lugas dan sesuai dengan fitrah tokoh yang tengah beliau angkat.

Saya rekomendasikan kepada mereka yang ingin berkenalan dengan dunia kesusastraan Indonesia.

Buku ini juga saya rekomendasikan kepada mereka yang telah bosan dengan karya sastra yang kerap memenuhi apa yang menurut Seno Gumira Ajidarma adalah tiga mitos sastra (curhat, mendayu-dayu, dan berisi panduan hidup atau khotbah). Buku ini juga bisa menjadi angin segar bagi mereka yang merindukan bacaan tentang perjalanan sejarah bangsa ini, tetapi telah jenuh dengan penuturan yang membosankan.  Bacalah buku ini, dan kenalilah perjalanan negeri tercinta kita. Perjalanan yang bukan saja kaya akan petualangan yang mendebarkan, tetapi juga sarat akan teror yang mencekam. Karena apalah artinya slogan Cinta Tanah Air, jika kita tak mampu menerima kerentanannya?

Semoga setelah membaca ini, pembaca semua bisa mafhum dan tak jera untuk jatuh cinta lagi dan lagi pada negeri ini. Seperti cinta Eka kepada negeri ini melalui karya-karyanya yang terus melambungkan nama Indonesia di kancah kesusastraan Internasional dan cinta Mardio kepada Melatie yang tak ada mati melampaui batas waktu dan ruang.

***

Jakarta, Desember 2018

[1]  Love in the Time of Cholera, Gabriel García Márquez, 1985

***

Tentang Eka Kurniawan:

Lahir pada 28 Novermber 1975 di Tasikmalaya, Jawa Barat, Eka Kurniawan adalah seorang penulis sekaligus desainer grafis. Selain Cinta Tak Ada Mati, karya-karya Eka yang sudah diterbitkan antara lain:

  1. Kumpulan cerita: Corat-Coret di Toilet (2000),
  2. Novel: Cantik itu Luka (2002)
  3. Novel: Lelaki Harimau (2004)
  4. Kumpulan cerita: Gelak Sedih (2005)
  5. Novel: Seperti Dendam Rindu Harus Dibayar Tuntas (2014)
  6. Kumpulan Cerita: Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi (2015)
  7. Novel: O (2016)

Sumber: Goodreads.com dan Wikipedia.org

 

51 COMMENTS

  1. Terimakasih Kak Maria telah ‘memberi saya satu alasan’ untuk mulai ‘membaca’ novel. Setidaknya melalui resensi Cinta Tak Ada Mati nya Eka Kurniawan. Tulisan Kak Maria ini saya baca berkali-kali agar nanti saya dapat menikmati membaca novel. Terimakasih Kak Mar

  2. Ini bukunya juwaraaa, reviewnya pun sama!
    Selalu suka gaya bercerita Eka Kurniawan, lugas dan tuntas..
    Tertarik dengan Kutukan Dapur, di mana kata Kak Maria, perempuan bisa berdaya dengan menggunakan ‘kekerdilan’ yang kerap disematkan kepada mereka.
    Wah, saya jadi penasaran baca bukunya …

  3. Wanita memang harus berdaya, dengan jalan yang dfitrahkan kepadanya.. Namun, tidak mesti aktifitas wanita yang berkutat di kasur dapur dan sumur dipersepsikan sebagai wanita terbelakang

  4. Ketika saya membaca “Cinta Tak Ada Mati,” saya tak lagi mengutuki Eka yang membuat Melatie terkesan materialistis dengan memilih seorang dokter ketimbang pemeriksa karcis sebagai pasangan hidup. Saya justru mengapresiasi kejujuran Eka dalam membangun karakter para tokohnya.

    Ini berarti tokoh Melatie adalah orang yang realistis, tidak cukup hanya modal cinta saja hahaha…

  5. Buku ini memang bagus sih. Ceritanya variatif. Selalu suka sama karya Eka Kurniawan. Selalu ngasih kejuatan disetiap ceritanya. Latar sejarahnya juga ga pernah ketinggalan.

    Kutukan Dapur ngingetin sama cerita Marlina Si Pembunuh Empat Babak ya g membunuh org yang akan memperkosan dia dengan sup yg diberi racun. 😁

  6. Kok amazing banget ya kayaknya. Jadi penasaran.. Membayangkan cerita yang mengungkap sisi realitas kehidupan manusia dari sisi yang berbeda dan imajinasi yang luar biasa. Thanks Mba Maria ulasannya.

  7. Sebagai penggemar karya-karyanya Eka, saya suka review-annya kak.
    Berharap Eka bikin buku biografi dirinya. Kayak Murakami biar tambah tahu tentang dia dan apa yang ada di dalam tempurung kepalanya.

  8. Jadi langsung pengen beli karena baca review kak maria..

    Sama suka dengan kata2 kak maria..
    Karena apalah artinya slogan Cinta Tanah Air, jika kita tak mampu menerima kerentanannya?

  9. suka banget dengan ulasannya, serasa mau langsung baca karya Eka yang satu ini. Saya dulu juga sempat berpikiran yang sama soal budaya patriarkat yang kerap melekat di karya-karya Eka, namun itulah yang membuatnya unik, dan mengangkat realita yang ada.

    Thanks ulasannya kak 🙂

  10. Sya suka dengn reviewnya kak, setelah baca jadi pingn beli buku2 nya eka kurniawan.. sepertinya sangat menarik untuk menambah referensi..

  11. Saya melipir di pinggiran saja deh, ketauan banget saya kurang baca.
    SAYA BARU TAU DONG EKA KURNIAWAN iuuuu hahahaha

    Yang saya tau, Eka itu nama ipar saya, Kurniawan itu nama belakang suami saya, eaaa… wkwkwk

    Tapi baca ulasan ini, saya jadi menggelora, jadi pengen baca novelnya.
    Duh yaaaaa, kapannnnnn bisa me time baca novel huhuhu.

    Pengen sekali bisa baca novel kayak dulu, tapi sekarang keadaan belum membolehkan, jadi nikmati saja sepotong-sepotong cerita dengan berakhir dengan kepo maksimal 😀

    • Mangga… Sekalian kenalan atuh sama karya-karya, Kang Eka. =) Bisa mulai dari kumpulan cerpen ini. Satu cerita selesai jadi bisa Teteh sambi bacanya.

      Tetep semangat nge-blog tapi ya, Teh.

  12. Dan aku baru berani mampir ke tulisan ini sekarang, setelah menyelesaikan baca bukunya haha
    Aku suka ulasannya kak maria, dan yes Kutukan Dapur dan Kisah Mardio itu keren banget. Kumcernya Eka itu beragam banget kisahnya, tapi aku ada yang skip 1 cerpen karena bingung pas bacanya kak

    • Wkwkwk… Cerpen apa yang kamu skip? Yang ditulis dengan ejaan lama atau yang cuma satu kalimat, tapi panjangnya 10 halaman?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here