Into the Spider-Verse: Pahlawan Laba-Laba Mendulang Laba

9
513

“Mungkin itu bukan rezekimu. Coba yang lain saja.”

Sering mengalami kegagalan dan mendapat wejangan serupa dengan kalimat di atas?

Di lain kesempatan, jika Anda mendapatkan tanggapan demikian, perkenalkanlah oknum tersebut dengan rumah produksi Sony Pictures (Sony).

Poster film Spider-Man Into the Spider-Verse
Gambar diambil dari situs IMDB

Dua kegagalan terdahulu dalam mewujudkan trilogi Spider-Man serta ganjaran berupa pembekuan hak cipta film tersebut untuk sementara, tak membuat Sony patah arang dalam berkreasi dengan cerita manusia laba-laba ini. Sudut pandang bercerita yang belum pernah ditelisik sebelumnya pun dijadikan pilihan. Hasilnya? Film animasi Spider-Man: Into the Spider-Verse berhasil memperkenalkan semesta pahlawan laba-laba (Spider-Verse) kepada audiens dan memukau ratusan juta penggemar film bertema pahlawan super ataupun penggemar sajian animasi.

Kreativitas Sony Pictures kali ini tak hanya berhenti sampai di sana. Mereka beranjak dari Peter Parker sebagai garda depan cerita dan memilih Miles Morales (Shameik Moore) sebagai tokoh utama.

Cerita berawal dari ringkasan singkat tentang asal muasal Spider-Man versi Peter Parker yang sudah menjadi Spider-Man selama 10 tahun. Menariknya, bagian ini diceritakan dalam bentuk narasi singkat dari Peter Parker (Chris Pine) sendiri. ”Aku digigit laba-laba radioaktif lalu punya kekuatan super. … Cerita selanjutnya Anda pasti sudah  mengetahuinya.”

Mungkin ini cara Sony menghemat waktu dan menertawakan kegagalannya di masa lalu.

Sementara pada suatu tempat di kota Brooklyn, Miles Morales juga mengalami hal yang serupa dengan Peter Parker. Remaja tanggung yang tengah mengalami krisis jati diri dan krisis hubungan dengan ayahnya ini digigit serangga Alchemax 42 setelah ia selesai menorehkan grafiti di tembok lorong kereta api bawah tanah.

Mengutip Peter Parker dalam Spider-Man versi Tobey Maguire, ”Menjadi Spider-Man adalah berkah sekaligus musibah.” Miles belum bisa mengontrol kekuatan supernya. Alhasil, jari-jemarinya sering menempel pada tempat yang tidak seharusnya. Dari menempel di tembok, atap, hingga rambut seorang siswi di sekolahnya. Oopsie!

Menyadari bahwa ia mungkin terinfeksi racun laba-laba super seperti Peter Parker, Miles akhirnya kembali ke terowongan kereta bawah tanah untuk menemukan laba-laba yang telah menggigitnya. Miles ingin membuktikan kebenaran dari hipotesisnya sendiri.

Sial! Ia tak hanya menemukan bahwa laba-laba Alchemax 42 telah menjadi bangkai di sana, tetapi Miles juga harus menyaksikan pembunuhan terhadap Spider-Man (Peter Parker) oleh seorang mafia bernama Kingpin (Liev Schreiber). Pembunuhan itu terjadi saat Parker sedang berusaha menghentikan aksi Kingpin dalam memanipulasi ruang dan waktu demi menghidupkan kembali anak dan istrinya.

Gambar dari Lima Karakter Utama dalam Film Spider-Man into the Spider-Verse
Gambar diambil dari situs IMDB

Kematian Peter Parker dan ulah Kingpin memicu  kehadiran lima Spider-Man lain  yang berasal dari dimensi ruang dan waktu yang berbeda-beda. Mereka adalah Peter B. Parker (Jack Johnson)-versi tua dan buncit dari Peter Parker,  Spider-Woman (Hailee Steinfeld), Spider-Man Noir (Nicolas Cage), Peni Parker (Kimiko Glenn), dan Spider-Ham (John Mulaney).

Sayangnya, kelima Spider-Man ini (empat manusia dan satu babi laba-laba untuk lebih tepatnya) tidak dapat bertahan lama di dimensi Miles. Maka dari itu, mereka harus bekerja sama dengan Miles untuk menghentikan ambisi Kingpin agar mereka bisa pulang ke dimensi masing-masing dan melanjutkan hidup.

Pahlawan Super juga Manusia (dan Hewan) pada Umumnya.

Terlepas dari tema pahlawan super yang diangkat, film ini tak melulu memukau mata dengan menyuguhkan adegan seru seputar perkelahian antara para Spider-Man dengan musuh-musuhnya. Layaknya tokoh-tokoh superheroes garapan Marvel, mereka tetap memiliki kerentanan yang membuat mereka rapuh. Meskipun mereka tengah behadapan dengan sang musuh.

Gambar Peter B Parker dan Miles Morales yang sedang beraksi dalam Into the Spider-Verse
Gambar diambil dari situs IMDB

Spider-Man: Into the Spider-Verse tak segan-segan menyentuh hati audiens dengan menunjukkan sisi rapuh para pahlawan super ini. Contohnya ketika Miles tengah berhadapan dengan masalah keluarga. Ia menjadi putus asa ketika mengetahui kebenaran tentang pamannya. Miles yang tak berdaya pun akhirnya dipandang sebelah mata oleh kelima Spider-Man lainnya, termasuk oleh sang Spider-Men(tor), Peter B Parker.

Tapi apalah artinya Spider-Man jika ia tak mampu bangkit dari keterpurukan? Moral dari film ini kan, jangan pernah menyerah dan putus asa hanya karena kegagalan demi kegagalan yang telah kita alami. We just need to take a leap of faith. Seperti Sony yang telah mengambil langkah terobosan dengan hak cipta film Spider-Mannya.

Hasilnya? Langkah Kreatif yang Berujung Manis

Film animasi yang tak sekadar memanjakan indra penglihatan para penonton. Dipadu dengan plot cerita yang segar dan lagu hip-hop teranyar, film ini berhasil membuat penonton merasa terlibat dalam perjalanan setiap karakter tokohnya. Tak heran, jika akhirnya Spider-Man: Into the Spider-Verse berhasil memenangkan Critics’ Choice Movie Awards ke-24 untuk kategori Best Animated Feature Film (Film Animasi Terbaik) dan masuk nomasi Golden Globe 2019 untuk kategori serupa. Puncak kejayaan dari film ini adalah ketika akhirnya kucuran dana dialirkan untuk pembuatan sekuel dari film semesta laba-laba ini.

Jadi, jika Anda mengalami rangkaian kegagalan dan merasa terpuruk karenanya, ingatlah tentang Sony. Masa kelam yang panjang dalam merealisasikan dunia pahlawan super garapan perusahaan komik Marvel, telah memicu kreativitas pengurus rumah produksi ini untuk menyelisik setitik celah harapan. Hasilnya? Film animasi tentang pahlawan laba-laba yang menghantar Sony pada cahaya keberhasilan yang tak pernah diduga sebelumnya. Penghargaan, kucuran dana, dan laba.

Selamat menyiasati kelucuan hidup dan sampai jumpa di petualangan Miles Morales selanjutnya!

***

Jakarta, Januari 2019

Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

 

 

 

9 COMMENTS

  1. Hai Kak Maria, pesan moral dari film ini sungguh inspiratif ya. Jangan menyerah ‘dihajar’ kegagalan yang bertubi-tubi. Jadi, kapan nih kita nobar terus bahas hal-hal yang ‘mengganggu’dari film tsb.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here