Rahasia Wahid

7
105

Aku Wahid. Ibu hanya memiliki aku. Usiaku mendekati empat puluh. Aku telah menemukan ritme hidupku.

Seorang kawan pernah mengatakan ritme hidupku sebagai daya tarik pria empat puluhan. Harmoni dan loyalitas yang dirindukan perempuan muda yang tengah mencari pengganti sosok ayah. Perempuan yang sedang mencari suami. Namun, aku yakin kawanku ini pasti tengah berbasa-basi.

Kawanku ini adalah sosok perempuan yang mandiri. Ia terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri. Dari menghadiri Ekaristi hingga menjelajah penjuru negeri, semua ia lakukan seorang diri.

Terkadang, rasa penasaran menyergap. Apakah sosok sepertinya juga merindukan kehadiran sosok pendamping? Seorang pria mapan pengganti sosok ayah mungkin?

Biasanya, aku akan terus menganalisa. Mencoba menemukan alternatif yang mungkin menjadi jawaban.

Ah, penasaran, mencari jawaban, dan menganalisa kemungkinan hingga memperdebatkan kepastian. Suatu siklus yang biasa aku (dan kawanku itu) lakukan. Tatkala kami tengah bersama.

Namun, lelah kembali mengingatkan keberadaannya. Kurebahkan tubuhku di atas kayu hangat beralaskan handuk yang lembut. Kupejamkan mata. Kubiarkan hangat uap menyentuh tubuhku yang terbungkus penat. Kubiarkan gumpalan uap hangat itu meluruhkan segala kepayahan yang telah bersarang dalam diriku selama hampir sebulan.

Saat-saat yang menyenangkan. Momen di mana aku merasa nyaman. Tak ada basa basi untuk menyenangkan jiwa yang egoistis. Kesendirian ini memberikanku rasa aman. Tak ada cercaan opini populer yang belum tentu benar.

Mungkinkah hal ini juga yang kau rasakan ketika kau tengah bersama kesendirian, Kawan?

Suara samar memanggil kesadaranku. Bingkah uap hangat menyambut penglihatanku. Menghadirkan cuplikan dunia yang kuinginkan, tetapi berlalu terlalu cepat. Tergantikan oleh siluet sepasang pria yang sedang bangkit berahinya. Aku merasa mual. Entah karena pemandangan yang tak enak atau rasa lapar yang menyengat.

Kutinggalkan tempat itu. Kubuka pintu berkaca susu. Langkah dan tatapanku lurus ke depan menuju salah satu bilik mandi. Kurapatkan tirai dan berdiri tepat di bawah pancuran. Kuputar knop di hadapanku searah jarum jam. Hangat air membasuh perasaan canggung yang tersisa dari adegan tak senonoh barusan.

***

Aku sedang mengenakan pakaianku. Lipatan daging di atas pangkal celana mengikis rasa percaya diri tanpa basa basi. Namun, aku teringat ucapan kawanku itu: “Bukankah itu salah satu daya tarik pria empat puluhan? Sedikit lipatan memberi cita rasa gurih dari kematangan diri yang kau suguhkan.”

Sekali lagi, ia pasti sedang berbasa-basi. Ia tahu aku sedang gundah maka ia lontarkan kalimat pujian itu untuk menyenangkan hatiku.

Embusan uap panas seketika menyergapku. Rupanya, gairah telah meninggalkan pasangan tadi. Aku segera melangkah meninggalkan mereka. Aku sedang tak ingin berbasa-basi walau hanya berwujud sejuntai senyum ramah tamah. Senyum yang formal, sebatas eksternal, dan bermakna dangkal.

***

Sekarang aku paham kenapa kawanku ini memilih untuk sendiri. Ia tak gemar basa-basi. Tahun-tahun penuh lara telah menakhtakan ketulusan pada posisi teratas pilihan hidupnya. Ia hanya menuturkan yang sebati dengan hati.

Semoga pujiannya bukan sekadar basa-basi. Di tengah kegundahan yang sedang kualami, hati memang mengharapkan sanjungan. Namun, kejujuranlah yang akhirnya menyelamatkan. Seperti yang kerap ibuku ajarkan.

Kini, hatiku terbelah antara cinta dan rahasia. Kucinta padamu, Kawan. Namun kau milik sahabatmu, Kesendirian.[1]

***

Artikel ini terinspirasi dari lirik lagu Cinta dan Rahasia yang dipopulerkan oleh Yura Yunita dan Glenn Fredly

***

Jakarta, Januari 2019

Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

[1] Yura Yunita ft. Glenn Fredly – Cinta dan Rahasia

7 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here