Pho(ne)tography

2
299

Selama kurang lebih satu tahun, saya mulai pulang dengan berjalan kaki menelusuri Jalan Sudirman. Walking therapy untuk melupakan pujaan hati yang telah pergi dan kesempatan berkarya di tempat kerja yang hampir mati. Penjaja makanan sepanjang trotoar, sekumpulan anak yang sedang asyik bermain di balik reklame pembangunan jalan, orang bermain musik di jembatan penyeberangan, sampai pejalan kaki yang harus berdesak-desakan di trotoar yang semakin sempit; semua ini menjadi bagian dari keseharian saya. Bagian dari ibu kota juga walaupun tak terlalu gemerlap. Bahkan cenderung gelap, hingga tak tertangkap oleh lensa juru foto yang kebanyakan telah penuh oleh gedung-gedung yang menjulang tinggi dengan lampu-lampunya yang menyilaukan mata dan hati.

Sekitar setahun lalu juga, saya mendapatkan kado pribadi dari Ayah. Sebuah telepon genggam yang dilengkapi dengan fitur kamera yang cukup cerkas untuk menangkap interaksi manusia dengan elemen-elemen lainnya, termasuk dengan sesama manusia itu sendiri (yang tampaknya sudah mulai jarang akhir-akhir ini). Sejak itu saya mulai memotret interkasi-interaksi tersebut. Menyingkap setiap makna  dari setiap interaksi yang saya dapati dan mengunggahnya ke media sosial untuk konsumsi teman dan kerabat. Tak ada tujuan yang wah, hanya berbagi keseharian dan menyingkap sisi lain kota saya. Sisi lain yang mungkin tak terlalu indah, namun tetap menjadi bagian dari kota saya. Kota sebagian besar Anda dan mereka juga.

mail.google.com
Halte Bus Ratu Plaza – Perjuangan warga ibu kota tak berhenti saat jam kerja mereka berakhir. Mereka masih harus berjuang melawan keruwetan lalu lintas hanya untuk pulang ke tempat yang belum tentu rumah mereka.

Setidaknya sekali dalam seminggu saya mengunggah foto-foto tersebut, terutama di akhir pekan.  Anggap saja ini sesi kencan saya dengan pujaan hati yang baru karena saya melakukannya dengan cinta yang tulus terhadap kota saya sendiri. Proyek pribadi ini juga menghadirkan reaksi positif dari beberapa teman yang tinggal di luar negeri. Obat rindu pada Tanah Air, ungkap beberapa dari mereka. Itulah kali pertama saya jatuh hati pada Phone-tography, kegiatan mengambil foto dengan telepon genggam (handphone).

Saya menjadi semakin sering mengikuti perkembangan dunia Phone-tography. Berbagai aplikasi yang hadir saya pelajari dan mengunduh aplikasi yang pas ke telpon genggam saya. Layaknya pujaan hati, pasti ada bagian dari dirinya yang kurang berkenan bagi saya, sebut saja ‘Camera360 dan rekan’ yang mampu menyulap foto wajah manusia menjadi seperti yang diinginkan pemiliknya (atau masyrakat pemiliknya). Kemampuan mereka menyihir foto menjadi seperti yang ‘diinginkan’ pemiliknya menjelma idealisme kecantikan yang agak menyimpang dari realita sesungguhnya. Bahkan kerap saya jumpai beberapa teman dan kerabat yang tak percaya diri jika foto wajah mereka tidak disulap dengan bantuan Camera360 dan rekannya. Bahkan salah satu rekan kerja saya pernah mengeluh kalau dirinya tampak jelek pada foto candid dirinya yang saya ambil.

mandy and arlo
Surya Kencana, Bogor – Nikmatnya mencecap Pangsit Penganten khas kota Bogor mengusir lapar dan lara yang mendera selama dua jam perjalanan.

Hati kecil saya seketika bertanya: “Apakah keindahan itu sebenarnya?” Gedung-gedung menjulang dianggap indah dan layak mengisi lukisan ibu kota, namun peluh para pejalan kaki yang berdesak-desakan di trotoar yang semakin sempit dianggap kurang indah dan jarang mengisi lukisan tentang Jakarta. Foto wajah seseorang harus terlihat putih langsat untuk layang dipublikasikan terlepas dari warna kulit manusia yang sesungguhnya. “Apakah keindahan itu sebenarnya dan apa yang termasuk di dalamnya?

photo 1
Gedung Perkantoran Summitmas – Di tengah keadaan trotoar yang semakin sempit, pengguna jalan ini masih mampu bernegosiasi dengan tertib agar kepentingan bersama dapat terpenuhi, yakni sampai ke tujuan masing-masing.

Menurut KBBI, definisi indah adalah enak dipandang, cantik. Kemampuan manusia dalam melihat dan menerima keindahan dan kecantikan itulah yang berubah dari waktu ke waktu bahkan bisa berbeda antara satu tempat dengan tempat lain dalam kurun waktu yang sama. Apa yang dianggap indah pada zaman Majapahit belum tentu indah pada zaman Revolusi Perancis. Di Indonesia, di mana kulit gelap identik dengan masyarakat kelas bawah yang cenderung bekerja di bawah sengatan matahari, kulit sawo matang tentu bukanlah simbol keindahan dan kecantikan. Berbeda halnya dengan yang akan dijumpai di Amerika Serikat. Kulit sawo matang adalah prestise kelas atas yang mampu membiayai perjalanan ke daerah tropis dan mandi matahari. Perbedaan ini dipengaruhi oleh aspek-aspek yang tidak berhubungan dengan keindahan dan kecantikan per se.

Saya sendiri, layaknya manusia yang sedang jatuh hati, memilih untuk percaya adanya momen-momen indah dalam keseharian saya dan mengabadikannya dalam Phone-tography tanpa peduli dengan sekat-sekat definisi yang telah ditetapkan sebelumnya.

arif and arlo 1
Sate Khas Senayan, Lotte Shopping Avenue – Di tengah phenomena nomophobia, menyaksikan dua manusia yang sedang asyik terlibat obrolan satu sama lain menghadirkan secercah harapan tentang kemanusiaan itu sendiri. Ada rasa syur sekaligus syukur saat menyaksikan ini.
photo 5
Menara Mulia – Interaksi penuh kasih manusia dewasa dengan anak kecil. Interaksi paling sederhana dan paling pertama yang umumnya dijumpai manusia dalam siklus hidupnya namun nampak semakin langka.

Jakarta, Augtus 2015

***

Save

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here