Kunci Sakti untuk Membuka Lemari Gagasan

39
2741

Siapa di antara teman-teman sekalian yang kerap merasa ingin menulis, tetapi entah kenapa, perjuangan menulis itu malah berakhir dengan layar laptop atau kertas yang masih putih  bersih? “Nggak ada ide,” biasanya menjadi mantra sakti yang paling sering terlontar dari mulut atau muncul di layar ponsel ketika ditanya kenapa susah sekali konsisten menulis cerita.

Nah, jika teman-teman sering mengalami hal seperti di atas, izinkan saya berbagi satu kunci sakti yang semoga bisa membantu membuka lemari ide atau gagasan.

Kunci sakti tersebut adalah Kepekaan Sosial

Teman-teman mungkin sering mendapat masukan untuk memulai menuliskan cerita berdasarkan pengalaman pribadi atau kejadian sehari-hari. Seketika, teman-teman pun merasa bahwa rutinitas yang teman-teman alami tak layak atau kurang menarik untuk dijadikan ide. Padahal menurut Ahmad Tohari–sastrawan Indonesia yang karyanya telah beberapa kali memenangkan penghargaan kesusastraan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa–pengalaman yang dekat dengan keseharian kebanyakan orang adalah bahan yang paling menarik untuk dijadikan gagasan.

Kuncinya adalah kepekaan sosial. Karena hal inilah yang nantinya akan menjaring makna dalam setiap keseharian penulis dan memantik kreativitas penulis untuk menuangkannya ke dalam sebuah cerita.

Lalu, bagaimana cara membangun kepekaan sosial dalam diri masing-masing?

Dengan kesadaran bahwa kita adalah bagian dari kehidupan ini. Kesadaran itu nantinya, secara langsung ataupun tidak, akan membuat kita merasa bertanggung jawab untuk menjadikan kehidupan ini beradab dan berlangsung dengan lebih baik. “Karena sebenarnya, kesadaran untuk bertanggung jawab inilah yang akan membuat kita peka,” ujar Pak Tohari saat menjadi pemateri pada Kelas Menulis Cerpen Kompas 2018 yang diadakan pada 28-29 Juni  lalu.

Bagi Pak Tohari, penulis memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan jiwa. “Cerpen itu bagian dari humanisme yang diharapkan mampu menyeimbangkan pikiran yang tidak hanya berhubungan dengan kecerdasan, tetapi juga membangun perasaaan, kepekaan, dan imajinasi,” ucap beliau kepada seluruh peserta kelas.

Sayangnya, bangsa ini telah mengalami krisis imajinasi dan kepekaan. Teman-teman bisa melihat dari kecenderungan kelas IPA yang selalu menjadi favorit, kelas IPS yang minim jumlah murid, dan tak ada lagi kelas Bahasa. Ini menandakan kita tidak lagi menyediakan ruang untuk perkembangan imajinasi dan kepekaan. Padahal, Einstein saja pernah berkomentar bahwa kemampuan berimajinasi itu lebih utama daripada kepandaian.

“Jadi, seorang cerpenis itu, dalam peranannya di masyarakat, sebenarnya tidak kalah penting dengan dokter karena cerpenis bisa memberikan kekayaan (dan kesehatan) batin kepada masyarakat. Syaratnya cuma satu, kepekaan sosial tadi, ” Pak Tohari menegaskan.

Dari kepekaan sosial hingga karya sastra yang menggetarkan.

Berikut ini adalah proses kreatif Pak Tohari dalam mengaplikasikan konsep kepekaan sosial ketika menjadikan rutinitasnya sebuah inspirasi untuk menganggit cerita “Anak ini Mau mengencingi Jakarta?” yang menjadi pemenang Cerpen Terbaik Kompas 2015.

Ide cerita tersebut lahir saat kereta api yang beliau tumpangi tersendat ketika hendak memasuki Stasiun Pasar Senen (latar awal cerita). Saat itu, beliau menyaksikan sebuah keluarga gelandangan yang hendak menyantap mi instan di pinggir rel stasiun.

Kepekaan sosial Pak Tohari kemudian mengusik batinnya.

Beliau pun akhirnya bertanya-tanya (dalam hati saja tentunya) tentang kehidupan mereka, dan pada akhirnya mendorong proses kreatif beliau untuk menuliskan cerita fiksi yang terinspirasi dari kejadian tersebut.

Yup teman-teman, kepo itu wajib hukumnya untuk seorang penulis, tapi kepo yang berfaedah, ya. Penerapan kepo yang berfaedah atau 5W1H bisa kita lihat dari pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam benak Pak Tohari ketika menganggit cerpen tersebut. Pertanyaan itu antara lain:

  1. Apakah satu bungkus mi instan cukup untuk bertiga (ayah, ibu, dan seorang bocah)?
  2. Bagaimana mereka memasaknya?
  3. Dari mana mereka mendapatkan air panas untuk menyeduh mi?
  4. Bagaimana mereka akan membaginya agar masing-masing merasa cukup?
  5. Seperti apa kesehariannya setelah ritual sarapan dengan mi instan itu usai?

Lalu, bagaimana beliau mendapatkan jawaban atas pertanyaan tersebut?

Pak Tohari menggunakan imajinasi pribadinya untuk membangun alur cerita.

Baca juga: KataHati Berbagi Tips Menulis Kreatif

Nah, teman-teman yang sudah pernah membaca cerpen tersebut hingga akhir, kalian pasti bertanya-tanya apa hubungan kisah keluarga tersebut dengan mengencingi Jakarta? Bahkan tokoh ayah menasihati anaknya demikan, ”Kamu boleh kencing di mana pun seluruh Jakarta; di Menteng, di pinggir Jalan Thamrin, di lapangan belakang Stasiun Gambir, di sepanjang gili-gili Kebayoran Baru, juga boleh kencing di Senayan. Dengar itu?”

Jawabannya tak lain dari kemarahan penulis tentang berita politik yang saat itu tengah hangat dibicarakan warga, yakni kasus “Papa Minta Saham” dan kecenderungan wakil rakyat yang kerap sibuk memikirkan “kursi”, sementara masih banyak rakyat hidup dengan keadaan yang tidak memadai.

Lagi-lagi kepekaan sosial telah menunjukkan kesaktiannya dalam memantik nalar kritis dan memicu proses kreatif penulis, yaitu membangun cerita (dalam hal ini bergaya satir) berdasarakan apa yang telah beliau ketahui (pengetahuan). Dalam menganggit cerpen ini, Pak Tohari menggunakan pengetahuan yang beliau miliki tentang drama politik di Tanah Air, lalu menggabungkannya dengan tempat-tempat yang sering dianalogikan sebagai pusat kekuasaan negara, dan melampiaskan ketidakpuasan dan kemarahannya dengan metafora “ingin mengencingi Jakarta” terutama di tempat-tempat yang menjadi simbol kekuasaan di negeri ini.

Kesimpulan:

Demikianlah ulasan saya mengenai sesi “Menggali Gagasan untuk Sebuah Cerita” yang menjadi salah satu topik yang dipaparkan pada Kelas Cerpen Kompas 2018. Saya harap ulasan ini bisa melancarkan aliran ide-ide yang selama ini sebenarnya telah banyak mengendap dalam benak teman-teman sekalian. Kuncinya hanya satu untuk membuka keran-keran kreativitas. Kepekaan Sosial. Karena, dengan kepekaan sosial terhadap sesama manusia,

  1. hati nurani kita akan tergerak untuk kepo berfaedah dengan menerapkan konsep 5W1H,
  2. akal sehat kita akan tergerak untuk menjaring informasi dan menemukan makna yang akan menjadi bekal pengetahuan kita,
  3. hingga daya kreativitas kita pun bebas untuk berimajinasi dan menuangkannya ke dalam sebuah cerita.

Semoga artikel di atas bermnfaat bagi teman-teman sekalian.

Akhir kata, seperti yang dilontarkan Pak Tohari kepada saya, “Menulislah untuk pengabdian, bukan untuk penghidupan. Untuk penghidupan, jadilah pekerja kantoran. Hanya dengan pengabdian, kita mampu menghasilkan karya sastra yang menggetarkan.”

Jakarta, Oktober 2018

***

Tentang Ahmad Tohari:

Lahir di desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Banyumas, pada tanggal 13 Juni 1948, Ahmad Tohari hanya menamatkan pendidikan formalnya hingga mencapai SMA di SMAN II Purwokerto. Namun demikian, beberapa fakultas pernah seperti ekonomi, sospol dan kedokteran pernah dijelajahinya. Semuanya tak ada ya beliau tekuni.

Novelnya yang pertama Di Kaki Bukit Cibalak ditulis pada tahun 1977. Kemudian Kubah (PT Dunia Pustaka Jaya) terbit pada tahun 1980 dan dinyatakan sebagai karya fisik terbaik tahun tersebut oleh Yayasan Buku Utama. Gramedia kemudian menerbitkan novelnya yang ketiga, yakni trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dan sampai saat ini telah terbit dalam bahasa Jepang, Jerman, Belanda, dan Inggris.

Sumber: Riwayat Singkat Pengarang, Ronggeng Dukuh Paruk; serta Wikipedia.org

Save

Save

Save

Save

Save

39 COMMENTS

  1. Kadang walaupun ada ide tapi susah untuk menuangkan ke dalam tulisan, bahkan tidak tahu bagaimana memulainya, tips yang bagus dan jangan lupa terus berlatih menulis…

  2. Terimakasih Kak Maria untuk “Kunci Sakti” nya . Kepekaan Sosial, suka banget denger kata-kata ini.
    Nah kalau Kak Maria, sendiri kunci saktinya dalam menulis cerpen yang ‘dalam’ tapi tetap santun dituturkan, itu apa ya kak? Boleh tahu?

  3. Bagus dan menarik sekali ulasannya, untuk kepekaan sosial apakah selalu bersumber pada ketidakpuasan sosial dimasyarakat ? Bagaimana dengan kepuasan sosial ?? Apakah kepuasan sosial masuk dlm kepekaan sosial?? Terima kasih

  4. nice sharingnya ka, kepo berfaedah oke juga, selama ini kepo asal kepo aja ga kepikiran buat dituangkan ke dalam tulisan, mungkin karna aku kurang peka juga kali yaa hhe

  5. Kak tiap baca tulisan kamu itu, aku ga terfokus sama inti cerita. Aku tuh terhanyut sama cara kami memilih kata-katanya. Asik aja bawaanya pas lagi baca. Trus aku lupa kamu lagi cerita apa, trus baru baca lagi. Ah aneh ya aku

  6. Setelah ini mau mulai belajar peka dan kepo. Hahah.
    Trus semoga rajin nulis juga. Buatku semakin rajin nulis semakin lancar pas nuangin ke bentuk tulisab Tapi kalo dah berenti rada lama tiba2 mau nulis sederhana aja gak tau mulainya gimana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here