Cerita Maria

KataHati Berbagi Tips Menulis Kreatif

Menulis adalah terapi. Tiga kata itu sepertinya menjadi bahan dasar proses menulis kreatif bagi tiga penulis kelahiran Sulawesi: Maman Suherman (Kang Maman), Khrisna Pabichara (Daeng), dan Bamby Cahyadi (Mas Bamby).

Ki-Ka: Mas Bamby, Kang Maman, Syah Rian (MC), dan Daeng

Kang Maman sempat memaparkan bahwa novel keempatnya bersama penerbit KPG, Re:, ia tulis sebagai sarana pemulihan agar dirinya kembali mampu merasakan takut dan sakit. Lima tahun menjadi mahasiswa kriminologi dan menyaksikan pembunuhan yang disertai dengan pemotongan anggota tubuh korban, telah membuatnya mati rasa terhadap kematian dan tindakan pembunuhan atau kekerasan lainnya.

“Saya menulis untuk kembali merasakan pergolakan emosi saat berhadapan dengan kasus pembunuhan. Ketika mulai menulis Re:, saya sudah mati rasa,” papar pria yang pernah menjadi supir dalam proses human trafficking dalam rangka melakukan riset untuk salah satu novelnya.

Rupa-rupanya Kang Maman tidak sendirian ihwal penulisan sebagai pelarian. Daeng dan Mas Bamby pun mengalami hal serupa.

Pada awal tahun 2012 Daeng mulai aktif menggunakan Twitter. Penulis novel Sepatu Dahlan itu mengaku bahwa pada awalnya ia menulis di sosial media untuk menyampaikan lukanya secara elegan. Sementara Mas Bamby menggubah cerita Kisah Muram Di Restoran Cepat Saji sebagai sarana untuk merawat kewarasannya di tengah tekanan tuntutan pekerjaan yang semakin menggila.

Lalu bagaimana proses kreatif mereka dalam menuliskan cerita fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata?

Imajinasi. Syarat utama menulis fiksi ada tiga: tokoh, konflik, dan latar cerita. Rangkai ketiga unsur itu secara apik dengan kreativitas dan needs for achievement agar tulisan kita semakin membaik.” Kang Maman menegaskan tips utamanya.

Sedangkan untuk membuat pembaca seolah berada pada setiap adegan cerita, mantan pemimpin redaksi di Kelompok Kompas Gramedia meyarankan agar penulis hendaknya melakukan riset yang menyeluruh dan  menggunakan prinsip 5W1H  dalam mengembangkan cerita dan menyuguhkan detil kepada pembaca.

Menurut Kang Maman, dengan menulis kita (penulis) sebenarnya tengah berkomunikasi dengan pembaca secara kreatif tentang apa yang kita ketahui. Maka itu dalam menggubah cerita, penting untuk mengingat 4C: Communication, Creativity, Collaboration (riset), dan Critical Thinking (ask 5W1H).

“Namun sebelumnya kita harus lebih dulu ingat, tulisan kita itu harus membuat indra kita bergejolak. Jika kita tidak bergejolak saat membaca tulisan kita, itu tandanya kita yang sakit atau tulisan kita yang sakit.” Kang Maman mengingatkan.

Banyak jalan-jalan agar banyak melihat dan memperkaya pengalaman. Aktifkan segenap indra agar tulisanmu lebih dari sekadar apa yang dapat ditangakap mata.” Daeng membagikan salah satu tipsnya agar cerita yang kita ciptakan terasa hidup.

Daeng juga mengaku bahwa dirinya kerap menjadikan pemilik akun media sosial yang ia tidak suka sebagai inspirasi penokohan dalam ceritanya.

“Kalau ada tokoh-tokoh yang saya tidak suka, saya follow itu akunnya. Saya pelajari karakternya, lalu saya jadikan tokoh antagonis dalam cerita saya. Dalam cerita itu, saya bunuh dia pelan-pelan,” ujar Daeng dengan lantang.

“Dan jangan lupa banyak bertanya dan banyak mendengar. Manusia dianugerahi dua telinga dan satu mulut. Itu artinya manusia harus lebih banyak mendengar daripada berbicara,” ucap Daeng yang segera disambut dengan angguk kepala Mas Bamby.

Penulis yang kesehariannya bekerja sebagai operating manager di perusahaan food and beverage ini, mengaku bahwa ia banyak menemukan ide ceritanya dari obrolan bersama teman-temannya.

“Dan yang paling penting, kita harus terbuka terhadap kritik untuk terus mengasah kemampuan kita. Jangan terlena dengan pujian. Pujian bisa menghambat daya kreativitas kita,” ujar Mas Bamby.

Terkait kritik dan pujian, Daeng juga menambahkan bahwa penulis harus berterima kasih jika ada yang mengkritik karyanya. “Itu artinya masih ada yang ingin membuat kita menjadi lebih baik. Orang yang hanya memuji biasanya tidak peduli.” Daeng memperingatkan.

Namun, terlepas dari ragam pengalaman dan kiat andalan, ada tiga hal yang konsisten dilakukan Kang Maman, Daeng, dan Mas Bamby untuk terus mengasah keterampilan mereka, yakni:

  1. Banyak Membaca
  2. Terus berlatih menulis
  3. Bergabung dengan komunitas yang membantu mengasah daya kreativitas kita

Demikianlah pemaparan proses kreatif dari ketiga penulis kawakan yang menjadi narasumber dalam acara Temu Akrab Katahati Writing Challenge yang diadakan pada tanggal 6 Juli 2018 lalu di Goeboek Coffee Jakarta.

Akhir kata, seperti yang diungkapkan pembawa acara kami, Syah Rian, di penghujung acara, “Jika kata tak mampu bersuara, biar hati yang bicara (dan menuliskan ceritanya).”

Semoga tips yang dibagikan bisa berguna bagi siapa pun yang membaca ulasan ini.

Jakarta, Juli 2018

***

Tentang Narasumber:

Maman Suherman

Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan pada 10 November 1965, ia pernah menempuh beragam pendidikan. Namun, ia hanya lulus dari Jurusan Kriminologi FISIP-UI. Novelnya yang berjudul Re:, pun terinspirasi dari karya skripsinya.

Setelah berpindah-pindah profesi dari reporter hingga direktur produksi, Kang Maman kini tengah mengabdikan dirinya pada dunia tulis menulis. Karya-karyanya antara lain: Matahati (2012), Bokis 1: Kisah Gelap Dunia Seleb (2012), dan Bokis 2: Potret Para Pesohor (2013), Re: (2014), Notulen Cakeppp (2014), Virus Akal Bulus (2014), Notulen Cakeppp 2 (2015), dan 99 Mutiara Hijabers (2015), dan peRempuan (2016).

Sumber: Goodreads.com dan Wikipedia.org.

Khrisna Pabichara

Lahir di Borongtammatea – sebuah kampung di Jeneponto, Sulawesi Selatan – pada 10 November 1975, Penyair yang kerap diundang sebagai pembicara dan pembaca puisi ini memulai karier kepengarangannya di dunia buku-buku seputar neurologi.

Kumpulan cerpen debutnya, Mengawini Ibu, terbit pada 2010. Novel debutnya, Sepatu Dahlan, terbit pada 2012. Sedangkan kumpulan puisi pertamanya, Pohon Duka Tumbuh di Matamu, terbit pada 2014. Novelnya “yang masih hangat” adalah Natisha (2016) dan Cinta yang Diacuhkan (2017).

Penyuka FC Barcelona ini sekarang bekerja sebagai penyunting lepas dan aktif dalam kegiatan literasi, terutama di Pustaka Ballak Kana Jeneponto.

Sumber: Tentang Pengarang, Jenderal Kambing.

Bamby Cahyadi

Bamby Cahyadi adalah nama pena dan panggilan akrab dari pemilik nama asli Bambang Cahyadi. Pria kelahiran Manado, 5 Maret 1970 ini sehari hari bekerja sebagai operation manager di perusahaan F&B di Jakarta. Keseriusannya menulis cerpen berawal sejak tahun 2007. Bamby memulai menulis cerpen di dunia maya dan blog pribadi. Saat ini ia menulis berbagai tema cerita pendek di Koran Tempo, Suara Pembaruan, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Post, dan masih banyak lagi. Ia juga menulis esai di koran Media Indonesia, Pikiran Rakyat Majalah Pramuka, dan tabloid Eksponen, serta aktif mengelola Komunitas Sastra Jakarta (Kosakata) bersama teman-temannya

Sumber: Tentang Penulis, Kisah Muram Di Restoran Cepat Saji.

Save

Save

Exit mobile version