Tawaran itu datang pada Jumat petang. Saat butir hujan sedang berjatuhan. Ketika ide tak kunjung singgah dalam benak.
“Berakhir pekanlah di Kuala Sajak,” ungkapnya.
Saya terima ajakan itu. Tanpa perlu berpikir panjang. Arco Transept, pemilik kuala, terkenal ramah, walaupun ia sering tampak gelisah.
Ini bukan kali pertama saya berjumpa dengan sang empunya kuala. Pertemuan pertama kami terjadi beberapa tahun silam. Saat itu, Arco tengah mengelola sebuah kedai di Palembang, kota kelahirannya.
Hampir seluruh ruang kedai dipenuhi dengan kegelisahan dan kegusaran. Pun, menu yang ditawarkan. Pempek yang tak pernah dipedulikan asal-usulnya, kopi-kopi kesepian, dan apel segar dari pohon yang terasingkan.
Arco tengah marah kepada arus modernisasi yang mengguyur Palembang. Kemarahannya bisa dirasakan melalui sajak-sajak yang ia torehkan pada dinding kedai.
Aku tenggelam di hitam manis takdir
Persis menahan getir bibir
Menahan pedas juga deras
Peradaban yang digerus arus.
Dari lengan-lengan sungai dan jembatan
Jala menjaring keringat dari kening
Turis datang melahap lenggang
Sudah kenyang, mereka pulang
Pempek – Arco Transept, 2016
Namun, di antara bongkah rasa marah, masih terselip secercah sikap ramah. Puisi Sungai menyiratkan kerinduan Arco pada peradaban yang lalu. Saat warga masih gemar berkumpul dan berbincang tentang hidup.
Di tubuhku, bulan, jembatan,
Dan kota menghiasi diri,
Sembunyi dari muram.
Padaku,
Mereka berkaca
Sebuah arus hidup dan gelombang.
Sungai – Arco Transept, 2016
Tahun-tahun berlalu, kami tak pernah lagi bertemu. Hingga akhirnya saya menjejakkan kaki di beranda Kuala Sajak. Kegelisahan Arco yang sama menyambut saya dengan ramah. Hanya personanya yang berbeda.
Penyair Telah Lebih Dewasa Bersama Puisinya
Sajak Akhir Pekan yang terpampang pada dinding beranda adalah bukti. Puisi ini masih menggambarkan kegelisahan Arco dalam menghadapi kehidupan modern. Namun, dalam puisi ini tak ada lagi kesan marah.
Mari kita simak bait kedua dari sajak ini.
Aku ingin mendaki tubuhmu yang mahameru. Walaupun selalu ada aroma mantan kekasihmu di puncak itu, di sana aku akan swafoto dengan tongsis agar kita eksis, menjadi petualang untuk konten instagram kekinian.
Akhir Pekan – Arco Transept, 2018
Penggunaan kata swafoto, tongsis, eksis, dan instagram adalah tanda. Arco telah berdamai dengan masa sekarang dan yang akan datang. Ia tidak lagi menolak keberadaan elemen-elemen tersebut. Justru, Arco merangkul dan menjadikan mereka bagian dari sebuah puisi sederhana yang menusuk tepat pada jantung kehidupan zaman sekarang. Pemujaan kepada penerimaan sosial yang berlebihan.
Akhir kata, saya tidak menyesali keputusan saya untuk menghabiskan akhir pekan di Kuala Sajak. Membaca puisi-puisi yang disuguhkan laksana menggauli kemasaman dan kegetiran hidup dengan lebih estetis dan dewasa.
Mungkin itulah yang membedakan puisi atau sajak dengan racauan belaka. Estetika menjadi dewasa!
***
Jakarta, Februari 2019
Catatan Narablog: Artikel ini saya anggit dalam rangka 10 Kali Tantangan Menulis yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.
Ulasan ini menarik sekali Kak Maria karena mengambil perspektif yang berbeda dari ulasan-ulasan lainnya yang menggunakan puisi serupa. Keren!
Terima kasih sudah mampir ya, Kak.
Mbak, terima kasih sudah menuliskan tentang Kuala Sajak. Baru kali ini saya membaca tulisan, yang membuat saya mencari tahu tentang apa yang sedang dituliskan. Dan dari pencarian itu, saya menemukan sesuatu yang cukup seru.
Sepertinya saya akan berakhir pekan ke Kuala Sajak juga. 😊😊
Selamat menikmati akhir pekan di Kuala Sajak, ya.
Maknanya dalam sekali ya Mbak Maria. Meskipun sajaknya sederhana tapi terlihat jelas perbedaan karakter saat menuliskannya.
Iya, Mbak. Kak Arco sungguh bertumbuh dalam puisi-puisinya.
Suka sekali membaca penggalan puisinya. Nyentuh dan sgt dalam maknanya. Pastinya akhir pekan makin syahdu ya ditemani puisi-puisi 🙂
Menikmati mendung ditemani puisi syahdu memang paling oke ini, Kak.
Senang baca tulisan ini. Kayaknya sudah hampir jarang saya baca blogpost yang menulis dengan diksi cantik. Yang ada sih kebanyakan isinya sekarang mengulas produk. Kayak di blog saya. Hehehe…
Hehehehehe. Yuk, mulai bermain dengan aksara kembali.
Aku termasuk orang yang tidak cepat peka pada puisi. Lebih mudah memahami yang gamblang dalam racauan dan narasi deskripsi. Tapi bukan berarti tidak ingin belajar memahami. Isi konten kualasajak sudah kuubek-ubek dan rasanya memang berat untuk awan sepertiku. 😉
Selamat berakhir pekan.
Selamat menikmati akhir pekan, Kak. Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca cerita ini.
Ceritanya bikin aku menikmati mbak. Apalagi puisinya, maknanya dalam banget. Sepertinya menjejak kaki di Kuala Sajak akan memberikan pengalaman yang luar biasa menyenangkan ya.
Iya, Kak. Semoga betah juga untuk bertandang di Kuala Sajak, ya.
Udah lama baca sajak begini. Trasa fresh dan menyejukkan diantara bacaan lainnya. Makasih sudah berbagi Mba
Sama-sama, Mbak Desi. Terima kasih sudah meluangkan waktu membaca kisah ini.
Dulu jaman kuliah aku termasuk produktif juga menulis puisi dan sajak mba. Tapi belum pernah aku publikasikan karena itulah bentuk curahan hati yang sebenarnya. Kalau nulis di blog itu masih curhatan pencitraan hihihi. Sajaknya dalem banget ya mbaaa…
Ayo dipublikasikan puisinya, Mbak.
rangkaian kata puisinya indah sekali mba 😀 jadi ingat sudah lama sekali sepertinya saya tidak berhubungan lagi dengan puisi sejak menikah.
Mari kembali berpuisi, Kak.
Mbak Maria piawai memilih dan mengolah kata, mendedahkan semua agar merasuk ke dalam jiwa pembaca, untuk turut merasakan atau berperan serta.
Sajak Arco bagus dan pilihan diksinya bukan permainan kata, ungkapan rasa yang meruah telah terdedah berkat pergulatannya dengan kata selama sekian lama. Jelas, untuk bisa membuat puisi bagus butuh proses panjang, dari yang semula verbal lalu terbiasa liris metaforis.
Ehm, saya malah sudah lama tak menulis puisi, sebenarnya ingin selalu bisa, apalah daya verbalitas tengah melanda hidup saya atau sayanya lagi malas baca banyak buku puisi karena terlalu sibuk urus blog setiap harinya.
Gak ada, deh, istilah santai dalam hidup saya. Selalu bergerak meski sedang intenetan santai bersama Smartfren. Kadang membuat saya gelisah juga, saya ingin berendam di kolam air panas Cipanas, Garut. Sekadar beroleh jeda dari rutinitas yang kadang memerangkap jiwa.
Hidup kerap menggelisahkan karena kita tak bisa menghindar dari arus modernitas, namun cara terbaik untuk mengatasinya kala penat, ambillah jeda dan lakukan hal yang bisa membuat kita sedikit bahagia dengan apa yang ada.
Terima kasih, Kak. Selamat menulis dan menyebarkan kebaikan dari kota Garut, ya.
Puisinya bagus ya memperlihatkan kegelisahan penyair, dan ada progress juga pada diri penyair saat bisa berdamai dengan kemajuan teknologi, kuala sajak mengajak merenung kembali makna modernisasi
Setuju sama, Mbak. Kuala sajak adalah sanctuary di tengah arus deran modernisasi saat ini.
Maaf mba..saya agak lambat mencerna.. Apa sih Kuala Sajak ini? Sebuah Kafe atau bagaimana?
Ttg puisi sendiri, saya selalu suka membacanya, mengagumi pilihan diksinya meskipun tak selalu mampu menangkap artinya hehe..
Sudah lama saya tak berpuisi..kangen tapi entah kenapa sekarang sulit rasanya melahirkan bahkan sebuah puisi sederhana sekalipun.. hiks..
Kuala Sajak adalah sebuah blog puisi milik penyair Arco Transept, Kak. Terima kasih sudah berkunjung ke situs saya dan Kak Arco, ya.
Aku suka sekali baca puisi yang sarat makna dari Kuala Sajak. Benar sih kalo puisi itu merupakan pengungkapan dari rasa gelisah sang penulis. Dan sudah saatnya ia menerima perubahan yang ada di sekelilingnya
Syukurlah, penulis sudah bisa bedamai dengan perubahan itu sendiri.
Sudah lama enggak buat puisi, jaman kuliah udah nerbitin satu buku puisi tapi penerbit lokal dan untuk kalangan tersendiri hehe. Baca puisi ini kenapa jadi bergairah lagi buat puisi ya mbak.
Ayo kemvali berpuisi, Kak.
Jadi penasaran sama Arco
Memang arus modernisasi sekarang ini telah menggerus hal2 yg sifatny alamiah
Seperti pisau bermata dua
Modernisasi dicaci sekaligus dipuji
Sila berkunjung ke Kuala Sajak, Kak.
Suka dengan puisi sungai, saya jadi membayangkan keindahan jembatan saat malam hari, temaram dengan riak-riak sungai dan orang yang melepas malam di sisiannya 🙂
Syahdu sekaligus teduh ya, Mbak.
Aku sangat menikmati tulisanmu mba.. sampai penasaran dengan setting lokasi yang ada pada tulisan. Kutunggu kisah selanjutnya mba 🙂
Terima kasih, Mbak Nabilla.
Sesuatu hal yang baru terkadang memasng sulit diterima, tapi jika bisa berdamai lama-kelamaan akan bisa menyatu juga. Aku sebenernya gak terlalu mengerti arti yang tersirat di dalam sajak atau puisi mbak, maafkan kalau salah persepsi ya. Tapi aku gagal fokus sama pempek hehehe karena aku suka banget makanan yang satu ini.
Pempek itu makanan yang menurutku nggak akan lekang terbawa arus zaman. Terima kasih sudah mampir ya, Pak.
Aku dulu suka banget bikin puisi. Apalagi pas zaman SMP pas zaman galau huahahahaha. Tapi suka nih sama puisi dg diksi yang cantik di atas.
Terima kasih, Mbak Siti.
Sampai saat ini nulis puisi masih belum jagobagiku, dibanding nulis diksi cerpen hehe… baca ini bikin semangat lagi menciptkan puisi deh.
Semangat ya, Mbak.
Suka banget pemilihan kata-katanya di tulisan ini mba. Meskipun aku harus baca beberapa kali untuk memahami maknanya 🙂
Terima kjasih, Kak Indira
Sampai saat ini aku belum menguasai banyak sih tentang puisi karena diksinya itu sangat menarik menggunakan majas Jadi aku lebih senang membaca atau menulis cerpen tapi puisi ini sangat aku nikmati karena sepertinya ditulis dari hati banget
Sing penting semangat mbaca dan pastinya nulis ya, Mbak.
sounds very interesting..saya tidak piawai dengan kata-kata tapi menikmati Sajak dan puisi yang dibuat orang lain. Selalu ada kenikmatan membaca deretan kata sarat makna
Terima kasih, Kak Indah.
Makna di puisi ini dalam sekali. Saya sendiri tidak begitu bisa merangkai kata untuk membuat sebuah puisi, tetapi suka dengan rangkaian kata di sana.
BTW, postingan yang menyegarkan bagi saya, selama ini banyaknya baca ulasan hihihi #tengokblogsendiri
Setuju sama yang lain. Sajak sederhana namun memukau. Duh, aku udah gak bisa deh nulis sajak. Insting bersajak sudah tumpul. Terima kasih sudah bikin saya kembali pengen nulis sajak. 😀
Ditunggu sajak selanjutnya ya, Mbak.
Aku berasa terlempar ke masa lalu, jaman pas seneng-senengnya nulis puisi
jadi kangen nulis puisi lagi nih Mba Maria, heheheh
Makasih untk puisinya mba Maria, dinikmati sambil minum kopi enak sekali ini
Terima kasih sudah berkunjung ke CeritaMaria dan Kuala Sajak, Mbak.
Suka dengan diksinya. Sudah lama juga saya nggak berkunjung ke blog dengan gaya penulisan seperti ini. Cuma saya masih bingung menangkap Kuala Sajak. Mungkin maksudnya kuala ini semacam kafe ya?
Terima kasih sudah berkunjung ya, Mbak
[…] puisi Akhir Pekan, Arco berhasil menyandingkan kata “tongsis” dan Instagram menjadi sebuah puisi yang kritis nan […]