Widya, Luci dan Kata Hati

10
124

Are you okay?” Widya mengernyitkan dahi. Ia tak mengerti maksud pertanyaan sahabatnya, Luci.

“Wid, are you okay?” Luci mengulangi pertanyaannya.

“Ada apa sih, Ci? Kok lo tiba-tiba nanya begitu? Nanya di sini lagi. Di sebuah saung yang dikelilingi air jernih dan langit biru saat kita akan menyantap ikan bakar.”

Luci menarik napas panjang. Diraihnya sepasang tangan Widya, “Widya Darling… ,” degup jantung Widya berhenti sesaat. Sahabat baiknya yang terkenal sangat ceplas-ceplos itu seketika berbicara dengan nada mendayu.

Tanpa memerhatikan kekikukan Widya, Luci melanjutkan, “Gue nggak tahu yah apakah perkenalan gue dengan karya Agus Noor itu berkah atau kutukan. Tapi sejak pertama kali lo memperkenalkan gue dengan buku Cinta Tak Pernah Sia-sia karangan Mas Agus itu, gue jadi rajin baca. Kalo pakai bahasa lo, buku itu jadi menumbuhkan semangat literasi dalam diri gue.”

Widya makin tidak mengerti arah dari pembicaraan ini. Namun, Luci sepertinya tak peduli dan terus berbicara walau masih dengan nada lembut, “Makanya, pas lo kasih lihat posting-an Mas Agus di IG tentang acara Kata Hati yang Seni Mengukir Kata itu, gue langsung menawarkan diri untuk nemenin lo. Gue memang penasaran sama proses kreatif beliau. Itu kayaknya awal perkenalan kita sama si Kata Hati itu deh, sampai akhirnya kita follow Instagram mereka dan lo ikutan Tujuh Hari Menulis bareng mereka.

Widya memicingkan kedua matanya tanda tak paham, “Kalau begitu seharusnya gue yang nanya dong ke lo, are you okay? Lo yang minta kita ke Waduk Kedung Ombo ini. Sekarang kita sudah di sini, tetapi lo lebih banyak diam dan bengong di sini. Jarang foto dan ohemji! Lo gak selfie sama sekali.” Widya ganti menggenggam pergelangan tangan Luci dan menggoyangkannya perlahan.

Luci menganggukkan kepala, “Memang ada perasaan yang entah apa gue belum paham. Bersalah? Hampa? Pity maybe? Gue sempat baca tentang sejarah waduk ini di Wikipedia. Lebih dari lima ribu keluarga terpaksa kehilangan lahan dan tempat tinggalnya. Walaupun mereka mendapatkan ganti rugi, semua itu hanya sekadar tipu daya pemerintah Orba. Perjanjiannya tiga ribu per meter, tetapi warga cuma dibayar 250 per meter. Mereka yang bertahan untuk memperjuangkan haknya harus mengalami intimidasi dan kekerasan fisik. No wonder lo benci banget dan sering mengkritik Orde Baru di cerpen lo untuk Kata Hati itu.”

“Lo baca tulisan gue?” Widya terbahak-bahak tak percaya dengan pernyataan teman karibnya itu. Mereka memang telah bersahabat akrab selama lima tahun terakhir ini, tetapi Luci yang malas membaca tak pernah sekali pun membaca tulisan Widya. Bahkan saat Widya mengikuti tantangan 30 Hari Bercerita di Instagram, Luci tak pernah membaca tulisan Widya yang tak lebih dari 2.200 karakter termasuk spasi. Like yang Luci kirimkan hanya untuk gambar yang diunggah Widya, jika bukan formalitas belaka. Luci tak pernah membaca caption yang Widya sertakan.

Yes, Darling! Guess what? Penjelasan lo tentang romantika perlawanan Agus Noor kepada rezim Orba membuat gua beranggapan bahwa penulis itu kebanyakan bikin cerita untuk curhat tentang apa yang sebenarnya mereka rasa. Mas Agus nulis cerita-cerita itu sebagai media untuk protes terhadap pemerintah. So are you. Dua cerpen terakhir lo terang-terangan mengecam rezim Soeharto dan gue tau lo sangat mengutuk masa-masa itu. But it also tells me one more thing.

Luci kini kembali menggenggam kedua telapak tangan Widya. Kali ini lebih erat sebelum ia melanjutkan ucapannya, “Tokoh utama perempuan yang ditinggal menikah oleh pasangannya dan kedekatannya dengan kematian. Wid, is that really how you feel towards your divorce and yo…”

“Ya enggak lha, Ci. Namanya juga fiksi. Semuanya fiktif belaka.”

Really? Surat yang lo titip ke gue untuk mantan suami lo sebelum lo pergi ke Rinjani dan surat Alexa untuk Raf di “Meniti Jejak Alexa di Anjani”, lo yakin itu nggak ada hubungannya? Saat lo cerita lo kena hipotermia di Sindoro, lo yakin nggak ada hubungannya dengan cerita Tuam? Mungkas dan Ayu. It’s a twist. Lo bikin Ayu yang seolah-olah mupeng punya anak, sementara Rio Pamungkas, mantan suami lo itu, yang sebenarnya mengharapkan kehadiran anak. For me it is way too obvious, Widya Ayuningtyas.”

Luci segera melepaskan genggamannya pada tangan Widya ketika ia melihat sahabatnya tengah menatap dirinya tajam. Tanpa pikir panjang, Luci segera menghampiri dan merengkuh Widya. Ia berusaha menahan kesedihan sahabatnya agar tak tumpah di tempat umum ini dan menyembunyikan keterkejutannya sendiri.

Luci sebenarnya sudah melihat bekas luka sayat itu di awal percakapan mereka. Ia hanya tak mampu untuk lebih lama lagi mengontrol emosinya hingga pernyataan menghakimi itu harus terlontar dari mulutnya. Ingin rasanya ia memaki diri sendiri.

Mungkin perkenalannya dengan kebiasaan membaca adalah sebuah kutukan. Jika ia tak menyukai membaca, ia tak mungkin bertemu dengan tulisan Widya dan menghabiskan waktu untuk membaca cerita sahabatnya itu. Pengetahuan baru akan sahabatnya yang justru membawa Luci bukan pada empati, tetapi pada penghakiman atas kawan karibnya sendiri.

“Sejak perceraian gue, ada sesuatu yang hilang dalam diri gue. Gue jadi suka nyalahin diri sendiri. Entah sudah berapa what if yang gue coba analisa to see if I could work our marriage out.” Luci masih memeluk Widya erat. Mengelus bahunya.

“Tapi semua itu hanya membuat gue makin sedih, Ci. Gue bahkan pernah mencoba mengalihkan kesedihan gue dengan nulis yang baik-baik di 30 Hari Bercerita, lagi-lagi itu semua cuma menunda kesedihan gue untuk kemudian muncul lagi ke permukaan saat nggak ada tantangan menulis. Akhirnya gue memutuskan untuk jujur menulis apa yang gue rasa, Ci. Tanpa deadline. Gue nulis kapan aja gue mau atau merasa perlu tentang apapun. Tulisan gue yang lo baca itu nggak lebih dari hasil dialog gue dengan diri gue sendiri selama ini, Ci. Instead of denying those feelings, I’ve chosen to acknowledge that they are part of me. Ada masanya gue ingin mengakhiri hidup gue sendiri. Seringkali gue merasa bodoh menerima Rio jadi suami gue tanpa kenal lebih jauh. Semua itu gue jadiin sumbu untuk setiap cerita gue. Tujuan gue cuma satu, Ci. Mengeluarkan semua itu dari benak gue supaya gue punya ruang untuk bisa paham dan berdamai dengan masa lalu gue yang lo tau sendiri. Hanya dengan itu gue bisa move on with my life, Ci.”

Luci menengadahkan kepala. Membiarkan sisa-sisa kepiluan yang ia rasakan untuk Widya menguap oleh teriknya sinar matahari. Seorang pramusaji yang sepertinya sudah dari tadi berdiri dan memerhatikan percakapan mereka, akhirnya memberanikan diri untuk mengantarkan pesanan sepasang teman karib ini.

“Makan dulu yuk, makanan kita sudah dingin sepertinya. Si Mbak sudah berdiri lama di sini,” ucap Luci sambil mengedipkan sebelah mata.

“Asal jangan hati kita yang beku,” ujar Widya yang segera dijawab dengan belalakan mata Luci.

“Terus tantangan menulis Kata Hati itu apa ceritanya?”

“Menulis berdasarkan tema yang diajukan setiap dua hari sekali. Media penulisan bebas selama berbasiskan media online. Gue memilih untuk menulis di blog supaya nggak terbatas jumlah karakter.”

Nice,” jawab Luci singkat sembari menikmati makanannya.

“Yang lebih seru lagi, semua peserta dimasukkan ke dalam satu grup WhatsApp.”

Really?” Luci tampak tertarik dengan metode ini.

“Iya. Peserta bisa saling ngobrol, berbagi cerita dan mempromosikan tulisan di grup itu. Kami bisa saling belajar entah teknik penulisan atau pengalaman hidup dari cerita masing-masing. Secara nggak langsung, it serves like a support system for me in dealing with this bittersweet taste of life. Gue berharap setelah tantangan ini selesai, grupnya nggak bubar.”

Luci dan Widya saling menatap.

“Nggak akan mudah, gue pahan. But, I’ll be fine. Lo sendiri gimana, membaca itu berkah atau kutukan jadinya buat lo? Lo jadi sering merenung gitu sekarang.”

Mereka tertawa bersamaan, “How should I answer this? A blessing I should say. Dengan membaca, gue jadi bisa memaknai setiap perjalanan gue dan nggakseenaknya foto di sana-sini tanpa permisi. Most importantly though, membaca mempertemukan gue dengan tulisan lo. Gue sadar kalau selama ini I wasn’t a good enough friend of yours. Gue selalu menolak kerentanan lo dengan khotbah being positive. Padahal, seperti yang lo bilang, there are always two sides of a coin. Selalu ada kebaikan dan kerentanan dalam diri kita. Don’t favor one over another, acknowledge and make peace with all of them. Those are what make us whole. Maafin gue ya, Wid?”

“Yang sabar sama gue ya, Ci.’

Let’s bear with each other, Wid. You and me.

Luci dan Widya pun kembali menyantap hidangan di hadapan. Mereka sepertinya lupa, sebelum mereka harus mulai bersabar menghadapi diri masing-masing, ada para pramusaji yang sudah kewalahan menghadapi keluhan pelanggan yang tak sabar menunggu giliran untuk mendapat tempat duduk di rumah makan ini dan menuntaskan rasa laparnya. Luci dan Widya telah bercengkerama terlalu lama.

Jakarta, Juni 2018

***

#katahatichallenge #katahatiproduction #harike-7

Catatan Pengarang: Cerpen ini saya gubah dalam rangka Tujuh Hari Menulis “Katahati Writing Challenge” yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

Save

Save

10 COMMENTS

  1. “Instead of denying those feelings, I’ve chosen to acknowledge that they are part of me.”
    Memang seharusnya begitu, lebih baik mengakui dan menerima kondisi yang ada.

  2. Entah ini percakapan nyata yang dituliskan kembali atau fiksi, tapi aku suka deh sama obrolan yang dalam kekgini. Penulis hebat memang paling bisa mengisi ‘nyawa’ dalam tulisannya.

    • Buku yang menghibur dan membuka wawasan sekaligus, Kak. Sangat saya rekomendasikan untuk dibaca mereka yang ingin mengenal perjalanan bangsa kita…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here