The Vi(r)gorous Duo

66
234

Bunyi alarm itu mengejutkanmu. Mengesalkanku. Ini hari Sabtu. Tepat dua jam setelah subuh. Tak sadarkah engkau, Kakakku? Kegaduhan itu tak berhenti sampai di situ. Derap langkahmu yang terburu-buru menggetarkan lantai kamarku. Engkau tengah menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.

Sudah berulang kali kukatakan bahwa kau tak perlu repot. Kita bisa membeli sarapan dalam perjalanan ke tempatku berlatih drama musikal “Back to 80s.” Kau tersenyum. Kau menganggap kesungkananku sebagai wujud kasih sayang. Dasar, kau seorang gadis yang lugu. Laksana lambang horoskopmu! Virgo. Padahal, aku hanya tak ingin kegaduhan yang kauciptakan itu mengganggu konsentrasiku.

Aku ingin memanfaatkan Sabtu pagi untuk belajar dengan tenang. Merangkum pelajaran sekolah dan menyiapkan diri untuk materi selanjutnya. Hal ini memudahkanku untuk memperoleh peringkat pertama di kelas. Tiket menuju kebanggaan Papa dan Mama. Aku ini seorang remaja yang masih memerlukan pengakuan sekitarnya hanya untuk bisa sintas.

Namun sepertinya, aku harus segera membungkam kebutuhan remajaku. Di balik wajah lugu itu tersimpan kepala batu. Kepala batumu kini mengantuk waktu belajarku. Ketukan pisau saat kau memotong sayuran dan pekikan minyak sayur saat kau menumis tempe ataupun tahu, mereka sangat bersemangat merobek-robek tiket itu. Meninggalkan aku dan kemarahan yang tengah memuncak tinggi. Setinggi idealismemu tentang kesehatan yang sedang kau paksakan padaku ini. Kau bersih keras untuk menyiapkan bekal. “Penjaja makanan kerap menggunakan minyak jelantah dan monosodium glutamate yang tak baik bagi kesehatan,” jelasmu suatu waktu.

Santapan khas warung yang dimasak di rumah

Idealisme itu menjelma egois. Aku tahu sebenarnya kau sangat ingin tampil dalam drama musikal ini. Namun, kelainan fisikmu tak mampu menyanggupi. Kini, kau melampiaskan mimpimu beserta idealismenya kepadaku. Janganlah kau mungkir.

Diam-diam, aku sering memerhatikan antusiasmu saat kau berjalan ke kamarku di Sabtu pagi. Aku bergegas kembali ke kasur dan membiarkanmu mengira bahwa aku masih tertidur. Kubiarkan  cengkeraman tanganmu begitu kuat — sekuat keinginanmu untuk menyaksikanku menari pada acara ini — membangunkanku.

Hasrat itu juga dapat kurasakan saat aku sedang berlatih. Dari sudut mataku, aku bisa menyaksikanmu berdiri di balik jendela. Kau memerhatikan koreografi secara seksama. Sesekali kutangkap senyummu saat aku mulai menghentakkan kedua kaki dan mengayunkan kedua tangan untuk menciptakan gaya shuffle. Tak jarang, kudapati kau melirik ke arah tangan dan kaki kananmu. “Andai saja tangan dan kakiku tak seperti ini. Ingin sekali aku bergabung dengan klub musikal sepertimu. Itu selalu menjadi impianku sejak kecil,” gumammu suatu waktu.

***

“That’s all they really want….Some fuuun!” kulantunkan lirik itu bersamaan dengan sisa udara dalam paru-paruku yang tak banyak lagi. Itu adalah gumpalan udara yang terakhir sebelum akhirnya aku terantuk kaki sendiri. Aku terjatuh.

Rasa lelah dan malu menyergap. Bercampur dengan rasa kesal yang telah lama aku bungkam. Aku berlari meninggalkan ruang latihan. Sebongkah udara memenuhi paru-paru saat kubuka pintu ruangan. Dadaku semakin sesak. Amarah remajaku meledak. Kuhempaskan pintu. Menggetarkan jendela ruangan dan jendela hatimu.

“Aku nyerah, Kak! Aku sudah latihan berkali-kali, tetapi gerakanku selalu off-beat. Aku mau berhenti saja!”

Kau menepuk bahuku berulang kali. Berusaha memadamkan kobaran emosi yang masih menyala.

“Kakak sajalah yang melakukan pentas ini agar Papa dan Mama semakin bangga padamu. Bukankah kau selalu menginginkan hal ini,” kobaran emosi masih belum padam.

Namun, kau memilih untuk diam. Membungkam kegugupan. Bahkan ketika aku mencemooh kritikan Mama sebagai pola pikir yang sempit dan mulai meragukan keabsahan Papa dan Mama sebagai orang tuaku. Kau bungkam kegugupanmu dengan seuntai senyum. Kau membatu laksana permukaan jalan yang sedang kita lalui.

Kepulangan kita yang lebih awal membuat Papa terkejut dan Mama terperanjat. “Liz terkilir saat latihan,” kau berusaha membelaku. Aku tertegun, sementara Mama memicingkan mata tanda tak percaya.

Aku geram. Kulontarkan puing-puing kekesalan yang masih berserak. Kekesalan atas mimpi yang kaupaksakan kepadaku. Kekesalan atas tuntutan Papa dan Mama agar aku seperti dirimu. Kekesalan atas cibiran Mama yang menuntutku untuk bertubuh tipis dengan dagu setajam keris.

“Papa dan Mama nggak sayang sama aku. Papa nggak pernah bertanya di manakah aku ataupun menawarkan jemputan. Pernahkah Papa dan Mama membantuku melakukan pekerjaan rumah tangga? Sedangkan Papa dan Mama selalu membantu Kakak.”

“Kakakmu memerlukan bantuan itu,” Papa berusaha menjelaskan.

 “Apa aku perlu cacat seperti Kakak untuk mendapatkan perhatian Papa dan Mama?” kulontarkan puing kekesalan terbesarku. Kini hanya tersisa diriku yang kosong dan tetes-tetes air di pelupuk mata.

Aku berlari meninggalkan kalian. Membiarkan tetes air mata membawa pergi sisa kekesalan. Kau menghampiriku. Merangkul bahuku. Kekesalanku menampiknya.

Aku tahu jalan hidupmu tidak mudah. Usiamu belum genap setahun saat kau terjatuh. Saat kau memasuki masa remaja, kau sadar bahwa kau harus melepaskan mimpimu. Kini kau hanya mampu menjalankan aktivitas sehari-sehari sebagai seorang karyawati karena keterbatasan fisik yang tak dapat kauhindari.

Aku paham bagaimana rasanya terperangkap dalam dunia yang tak kau gemari. Percayalah bahwa  aku ahlinya dalam hal ini. Aku bisa merasakan kekecewaanmu saat banyak rekan sejawatmu lalai menjaga kesehatan mereka. Cibiranmu akan keluhan mereka yang mudah lelah telah menjadi soundtrack makan malam keluarga. Kau berang saat mereka mengolok gaya hidup sehatmu. “Kenapa sih suka nyiksa diri?”, “Hidup itu sudah susah, jangan makan pun dibuat susah!” Kau mengulangi perkataan rekanmu dengan nada kesal. Idealismemu terluka. Egomu terusik. Kau terus mengkritik.

Papa dan Mama selalu mendukungmu.

Kalian lupa ada aku di ruang makan itu. Aku, seorang remaja yang masih perlu didengarkan keinginan dan keluh kesahnya. Namun dengan semua “kewajaran” fisikku, aku selalu dituntut untuk bisa sekuat dirimu. Tak ada yang menghiraukan kebutuhan remajaku. Diam-diam, Mama mendaftarkanku pada drama musikal ini. Saat aku mengutarakan kelemahan saluran pernapasanku, Papa dan Mama hanya bisa menghakimi. Aku terlalu gemuk. Itulah balasan yang selalu kuterima.

Apa pun yang tersaji di meja makan, aku selalu merasa terasingkan.

Aku merasa terasing dalam keluargaku sendiri. Rasa sedih bercampur kecewa menjelma rasa kesal yang kerap meledak-ledak. Namun, kau kukuh menemaniku dalam bisu. Meraih kembali bahuku. Rasa hangat menyergap. Kehangatan itu meredakan kegeraman dalam diriku. Kubenamkan diri bersama tumpahan air mata. Entah kapan terakhir kali Papa, apalagi Mama, memelukku seperti ini. Membiarkanku menyatu dengan emosiku. Senang ataupun sendu.

Sambil tetap memelukku, kau bertanya apakah aku sungguh ingin melepaskan semua ini. Pertanyaan itu laksana angin segar yang merengkuh diriku yang lesu. Seseorang akhirnya bertanya tentang keinginanku yang sesungguhnya. Seseorang yang justru telah lama aku benci. Ada perasaan ganjil. Sedikit skeptis, tetapi isak tangis telah menghapus amarah remajaku.

Aku tak akan memungkiri. Seperti dirimu, aku gemar menyaksikan artis-artis bernyanyi dan menari di layar televisi. Seperti yang kerap kusaksikan di saluran Disney. Aku ingin bisa seperti mereka.

Namun sebagai seorang remaja, aku memerlukan penerimaan dari sekitarku. Terutama dari keluarga. Saat aku tak mendapatkannya, aku kecewa dan kesal. Kekesalan yang meledak-ledak itu memecahkan konsentrasi dan mengacaukan keseimbangan.

Kau seolah membaca pikiranku. Kau bertanya apakah aku memahami kisah di balik lagu itu. Aku menggelengkan kepala.

Lagu itu telah dinobatkan sebagai “Anthem of the Feminism”  pada tahun delapan puluhan, jelasmu. Lagu “Girls Just Want To Have Fun” milik Cyndi Lauper kerap dinyanyikan pada era saat kebebasan kaum perempuan mulai diakui. Para perempuan mulai diberikan kebebasan untuk mengembangkan potensi mereka seutuhnya. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya ketika wanita hanya ditempatkan dalam lingkup yang terbatas untuk memenuhi peran domestik rumah tangga.

Baca juga: Tuam dan Anggrek yang Hilang

Aku terkejut. Bukan dengan kemampuanmu menemukan fakta tersebut. Virgo memang terkenal dengan kemampuan yang satu itu. Aku terkejut dengan kenyataan bahwa lagu yang sempat populer di tahun 1980-an itu menyimpan makna yang begitu besar.

Zaman telah berubah. Katamu, aku seharusnya bersyukur dengan peranku dalam musikal itu. Bersyukur karena Papa dan Mama sangat perhatian. Mereka mendaftarkanku pada drama musikal ini mengingat kebiasaanku saat menyaksikan acara di saluran Disney. Bahkan Papa sudah mengambil cuti untuk menyaksikan pementasanku nanti, jelasmu.

Aku bergegas menuju kamar. Menelusuri artikel tentang lagu tersebut yang tersebar online. Mendapati fakta serupa seperti yang engkau kemukakan. Beberapa artikel menyebutkan bahwa Cyndi kerap mengalami kekerasan seksual yang dilakukan oleh ayahnya sendiri. Celakanya pada era itu, kekerasan terhadap kaum perempuan masih disahihkan.

Perasaan bersalah mengadang. Idealismeku tentang romansa keluarga telah membutakanku. Aku tak mampu lagi melihat kasih sayang keluargaku. Dari dukungan Papa dan Mama padaku untuk menggeluti dunia tari, hingga ketekunanmu dan Mama untuk menyediakan makanan bergizi, semua itu tertutup gumpalan egoisme yang mendamba pujapuji.

Aku merasa tersesat di persimpangan jalan hidupku sendiri. Telah lama aku terperangkap dalam egoisme remaja. Kini, aku mendapati diriku terhimpit di antara pola pikir masa lampau dan rencana masa depan. Menyusun setiap kegiatan demi mendapatkan pengakuan atas eksistensi diri belaka. Ini bukan era delapan puluhan.

Aku bahkan terlalu sibuk mengincar peringkat pertama demi sepatah pujian Papa dan Mama. Tak ada lagi waktu untuk bertanya perihal keinginanku yang sesungguhnya. Apakah mimpi kecil yang kerap timbul saat aku menonton saluran Disney masih ada? Apakah aku sungguh ingin melepaskan peranku pada acara drama musikal ini? Aku terus bergelut di antara pertanyaan itu. Kehilangan jejak akan hari dan waktu. Hingga kau mengetuk pintu kamar. Kau ingin memastikan apakah aku masih ingin berlatih besok pagi.

Sudah Jumat malam rupanya. Hampir seminggu aku enggan bertegur sapa denganmu. Limbung di antara perasaan bersalah dan malu. Kau begitu sabar mendampingiku. Bongkahan ego remajaku perlahan luluh.

 “Napasku nggak kuat. Gerakanku masih amburadul,” jawabku ragu.

Kau menyemangati untuk tetap berlatih. Seiring berjalannya waktu, keselarasan itu akan datang dengan sendirinya, katamu. Kualitas dan kuantitas gizi yang baik juga penting untuk menguatkan vitalitas tubuh dan pernafasanmu.

“Jangan sering minta jajan.” Kau cubit pipiku gemas. Sekarang aku paham mengapa kau tak mengizinkanku jajan. Aku mengerti mengapa Mama kerap membatasi jatah makanan.

Aku menganggukkan kepala. Aku akan kembali berlatih besok pagi.

***

Bunyi Alarm itu mengejutkanmu. Menarik kesadaranku. Ini hari Sabtu. Tepat dua jam setelah subuh. Aku segera beranjak. Meninggalkan ego remaja. Kutarik lenganmu yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Dengan cekatan, seluruh tubuhmu turut bergerak. Mengikuti koreografi yang kerap kau lihat. Kau dan aku berdansa bersama.

“I want to be the one to walk in the sun
Oh girls they want to have fun
Oh girls just want to have
That’s all they really want.”

This is what I want. What we want. After all, we both are Virgo. The Vigorous Duo!

Jakarta, September 2018

***

Save

Save

Save

Save

66 COMMENTS

  1. Suka dengan pesan yang tersirat dari cerpen inspiratif nya Kak Maria. Keren banget. atuh kapan kak maria ada waktu berbagi tips menulis inspiratif seperti ini dengan saya? Asli pengen belajar nulis….

  2. Kadang kita terlalu sibuk dengan pikiran kita sendiri padahal belum tentu sepenuhnya benar. Disinilah kita perlu seseorang yang mengerti kita dan bisa membuka mata hati kita.

  3. Saya sangat sepakat dengan “remaja membutuhkan pengakuan, jika tidak ia akan terus mencari pengakuan di tempat yang lain”. Sebagai seorang yang mengalami hal demikian, saya bersyukur karena masih ada keluarga, yang paham akan kelebihan dan keunggulan saya sepenuhnya.

    • Betul, Kak Akbar. Saat support system tersebut tidak hadir dalam lingkungan keluarga dan anak mulai mencari di luar, kemungkinan untuk memasuki pergaulan yang salah semakin besar.

      Semoga segeala sesuatunya dilancarkan buat Kak Akbar dan keluarga, ya.

  4. Remaja emang butuh pengakuan.. aku dulu juga gitu pamerlah maunya.. bukan pamer sih.. y lebih tepatnya butuh pengakuan dan penghargaan

  5. Selalu dibuat terpikat oleh cerpen2 Kak Maria dan kali ini terpikat sama foto makanannya juga. Tema tentang eksistensi demi pujian juga ditampilkan menarik. Cerpen Kak Maria menjadi bukti bahwa berbahasa baku tak berarti membuat karya kaku. Salut dan angkat topi

  6. Masa remaja merupakan masa dimana seluruh semesta ada pada pikiran satu orang, yang masih bingung terhadap cara kerja dunia, yang masih butuh perhatian dan pengakuan tapi tak mau dianggap belum dewasa, aku bersyukur melewati masa-masa itu dengan bekerja keras, meski sekarang hidup tak sesuai cita, namun bersyukur bisa bermanfaat bagi orang lain, terutama keluarga, idealisme vs realitas memang pertempuran yang tak akan berakhir, nice story….

  7. Pesannya dalem kak.
    Cemburu sama kasih sayang orangtua yang terlihat pilih kasih, ini kenyataannya banyak banget yang sering merasa gini. Padahal pada kenyataannya orangtua selalu menyayangi semua anaknya dengan kadar yang sama.

    Cerpennya kak maria mah selalu keren, mau dong kak diajarin 😀😀

    • Hahahahaha… dia salfok ke orek tempe.

      Iya, Kak Den. Fase remaja itu ke-aku-annya tinggi banget sampai susah untuk melihat cara orang lain.

    • Keluarga memang salah satu support system yang hampir nggak pernah nyerah sama kita, Kak.
      Thank you for stopping by, yah.

  8. Aku yang egois ini merasa tercabik-cabik baca ini, kamu menggetarkan seluruh ego di hati kak. Ini terkeren, tersirat, bukan tersurat. Aku nggak pernah bisa bikin yang begini. iri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here