Tafsir: Kisah Kasih Tragedi Tradisi

17
277
Jika kau sedang jatuh cinta dan tak ingin terkesan alay, ingatlah tentang Baskoro. Seorang putra Jawa yang telah meninggalkan bangsanya semenjak debu Reformasi berderu. Cintanya yang gundah pada wanita keturunan Tionghoa telah membuatnya meninjau kembali kisah diskriminasi etnis tersebut dalam sejarah Indonesia, bahkan Nusantara. Sejarah yang ia tinggalkan seiring perjalanannya menuju kedewasaan.

1

Bunyi alarm itu menyadarkan Baskoro dari tidurnya. Ia mengernyitkan dahi berulang kali sambil memandang ruang kamar. Sunyi. Seperti pusat perbelanjaan yang ia datangi menjelang tengah malam tadi seusai percakapan yang sia-sia dengan seorang kawan.

Hari ini, hari pertama setelah percakapan yang sia-sia itu, ia mengawali hari dengan pikiran yang hampa. Tanpa jerit tangis bayi ataupun celotehan istri. Hanya roh penasaran akan wanita pujaan yang berhembus di dalam benak.

Sekali lagi ia memandang sekitar. Tatapannya terhenti pada jarum panjang jam yang menunjuk pada angka dua. Ia bergegas menyiapkan diri. Ia kancingi kemeja kerjanya dari bawah ke atas. Ia sisir rambutnya yang selalu tampak klimis. Ia letakkan sebuah pena di dalam saku yang terletak di sebelah kiri atas kemeja. Selalu begitu.

Sebelum meninggalkan kamar, Baskoro memandangi diri di hadapan cermin. Daya tarik pria menjelang empat puluh terpantul dari balik kaca keperakan itu. Semacam loyalitas dan harmoni yang dirindukan wanita muda yang gamang ditinggal kekasih semasa kuliah dan ketakutan menghadapi dunia kerja. Dunia baru mereka. Akan tetapi, ia sepertinya tak bisa mengharapkan hal itu dari pujaannya. Wanita usia 20-an itu cenderung merasa bersalah jika memprioritaskan asmara di posisi utama. Dia merasa kalau sudah banyak perjuangan yang dilakukan untuknya agar bisa mendapatkan persamaan derajat urusan edukasi dan karier. Membagi prioritas antara karier dan asmara hanya akan menghancurkan perjuangan itu.

Jam dinding berdentang enam kali. Baskoro bergegas meraih kunci mobil dan dompetnya. Ia ambil bekal yang telah disiapkan Ibu dan berpamitan. Ia harus segera meninggalkan rumah tepat pukul enam pagi agar bisa melintasi bilangan Sudirman sebelum kemacetan menghadang. Tak boleh terlambat sedikit pun. Berdasarkan pengalamannya berkendara dari rumah ke kantor selama hampir empat tahun, terlambat lima menit saja bisa menambah enampuluh menit perjalanan.

Di luar sana, suasana jauh dari sunyi dan hampa. Cenderung bising dan ramai. Baskoro menyambut pagi ditemani berita terpanas hari ini. “Dolar menembus angka 14.000 rupiah!” Terdengar suara histeris penyiar. Dia seolah hendak melompat keluar jika saja tak dihadang oleh kotak besi bernama radio itu. Baskoro menengokkan kepala ke kiri. Ke arah radio tadi. Sinar matahari pagi segera menyengat matanya, menembus hingga bagian belakang kepala dan membangkitkan ingatan lama.

Tujuh belas tahun yang lalu, ia hendak melanjutkan studi ke Amerika Serikat untuk mengambil gelar Insinyur. Pada saat yang sama pula Dolar menembus angka 14.000 rupiah untuk pertama kalinya setelah kurang lebih tiga puluh tahun Dolar berhasil ditekan di bawah lima ribu.

Kenaikan kurs yang tajam itu tak pernah diduga. Biaya kuliah tak lagi terjangkau oleh ibu yang hampir sepuluh tahun menyisihkan penghasilannya. Baskoro tak bisa berharap pada ayah saat itu. Telah sembilan tahun Ayah hilang dari pancaindra. Sel-sel kanker telah memakan habis seluruh tubuhnya. Dengan diam tetapi memusnahkan. Seperti suasana pemerintahan yang menguasai negara tiga puluh tahun terakhir itu.

Ibu menganjurkan Baskoro untuk mengambil jurusan ekonomi. Selain lebih terjangkau, lapangan pekerjaan yang tersedia juga cukup menjanjikan. Logika yang belum tentu benar, tetapi masuk akal. Baskoro mengikuti anjuran ibu. Saat itu, belum genap dua puluh tahun usianya. Baskoro telah kehilangan mimpinya.

Selama hampir dua puluh tahun pula ia menbungkam suara hati. Semua demi masa depan yang pasti, tetapi tak pernah memberikan kepuasan diri. Baskoro tak ingin mengulangi sejarah diri yang kelam lagi. Diambilnya telepon genggam yang berada di sebelah kiri. Ia kirimkan pesan kepada wanita pujaan dan mengajaknya untuk menghabiskan Sabtu malam bersama.

Hari ini, hari pertama setelah percakapan yang sia-sia itu, Baskoro meninggalkan zona aman. Merperjuangkan kemerdekaan suara hati yang telah lama ia bungkam demi memenangkan hati wanita pujaan.

***

2

Apakah bangsa kita sudah siap untuk merdeka? Tujuh belas tahun telah berlalu sejak debu Reformasi menderu. Mengangkat sisi gelap rezim otoriter saat itu. Mendatangkan angin kebebasan bagi setiap warga negara.

Namun, sesuatu yang terlalu dini kadang tak berujung baik. Para wakil rakyat jarang menyuarakan kesejahteraan warga. Mereka sibuk memperjuangkan kepentingan investor belaka. Dan mereka dibayar mahal untuk itu. Untuk membumihanguskan lahan hijau, meningkatkan temperatur udara dan menghambat sirkulasinya di antara gedung menjulang.

Baskoro merasakan sesak di dada. Sudah hampir setengah jam ia berada di posisi yang sama. Tak sedikit pun tanda bahwa kendaraan akan melaju. Jalan tiga lajur itu hanya menyisakan satu jalur bagi kendaraan untuk melintas. Sementara dua lajur lainnya telah berubah fungsi menjadi lahan parkir. Gedung-gedung itu tidak sekedar menghambat arus udara tetapi juga laju kendaraan.

Sesak di dada merambat ke kepala. Ia tak ingin terlambat. Wanita tak suka menunggu. Ia paham benar hal itu. Kehilangan sosok ayah sejak dini melekatkan hubungannya dengan sang ibu, wanita pertama yang ia kasihi. Melalui ibu, ia belajar tentang wanita. Apa yang mereka suka dan apa yang mereka cerca. Baskoro cukup cakap dalam mematuhi rambu tersebut.

Perlahan kendaraan mulai melaju. Ia sampai tepat waktu. Ia memilih tempat di sudut depan restoran. Sambil menunggu, ia menatap bangunan megah dengan sentuhan arsitektur Tionghoa di hadapannya. Bangunan itu diterangi oleh sekumpulan lampion dan umbul-umbul berwarna merah yang memancarkan kilau keemasan. Aksara Tionghoa terukir di bagian depan bangunan tersebut. Pemandangan ibukota yang tak pernah ia temukan sebelumnya.

Ingatannya kembali ke tujuh belas tahun silam. Saat nilai tukar Dolar melambung tinggi. Membawa pergi kabut diskriminasi. Menyisakan pola pikir yang terbuka akan keberagaman etnis, terutama etnis Tionghoa. Diam-diam hati kecilnya berterima kasih kepada peristiwa kelam itu. Tanpa Reformasi, putra Jawa seperti dirinya  tak mungkin bisa menghabiskan malam dengan wanita keturunan Tionghoa pujaannya.

Tatapannya masih berkelindan pada jajaran lampion di hadapannya. Cahaya keemasan membuat sosok wanita yang melintas terlihat semakin gemerlap. Sosok itu berjalan mendekat. Detak jantung Baskoro tertunda. Wanita pujaan telah tiba.

“So sorry, I am late. Sudah lama ya?” ucapnya jernih dengan sedikit logat asing. Logat kaum muda masa kini.

Baskoro menarik nafas dan menahan getaran dalam tubuhnya. “It’s ok.” Ia menjawab.

Mereka mulai bercengkrama. Menghabiskan sisa Sabtu malam bersama. Menikmati hidangan yang disajikan dan menyuguhkan pengetahuan serta berbagi pengalaman. Baskoro lebih banyak menanggapi. Wanita senang menjadi primadona. Pengalamannya selama ini telah membuatnya paham akan hal tersebut.

Dirinya sibuk mengagumi sosok feminim yang telah membuat dirinya berdebar-debar beberapa hari belakangan ini. Bagi Baskoro, wanita ini teramat cantik. Dengan riasan wajah yang minim sekalipun. Ada keindahan yang murni di balik kesederhanaan wajah itu.

Wanita itu mulai memainkan rambutnya yang tergerai hingga di bawah bahu. Merapikan poni. Baskoro mulai berkhayal untuk menutup malam ini dengan mengecup keningnya yang tersembunyi di balik helaian rambut yang mengambai hingga alisnya. Akan tetapi, realita berkehendak lain. Wanita pujaan mulai mengungkapkan pendapatnya tentang perbedaan usia yang terbentang di antara mereka dan perbedaan etnis yang ada. Baskoro bisa memahami yang pertama, tetapi tidak yang kedua. Namun, ia berusaha tenang walau tak paham.

Ia mengantar wanita itu ke mobilnya dan mengucapkan selamat malam. Menyaksikan kendaraan itu menghilang dari indra penglihatan. Meninggalkan gumpalan asap harapan yang perlahan lenyap di balik lampion yang masih berpijar keemasan. Tertiup angin malam yang menghembuskan debu perpisahan.

Baskoro kembali menatap bangunan megah di hadapannya. Bangunan itu mengingatkan ia akan  The Palace Museum, cagar budaya yang telah menjadi simbol kekuasaan bangsa Tionghoa selama beberapa abad,  di Beijing. Bongkahan berwarna abu-abu yang menyerupai istana kaisar itu kini mulai menatapnya dengan angkuh.

Tujuh belas tahun telah berlalu sejak debu Reformasi berderu dan menghempaskan ketamakan rezim otoriter dari tahtanya. Mewariskan kedaulatan negara pada warga yang beragam. Masyarakat yang patuh tetapi rindu akan pengakuan atas identitas etnisnya. Kesempatan yang ada melahirkan euforia yang berlebihan. Mereka menjadi angkuh. Perjuangan menuju kemerdekaan dari sekat-sekat identitas masih harus ditempuh.

Malam ini, malam kedua setelah pembicaraan yang sia-sia itu, Baskoro menyadari hal tersebut. Ia belum paham betul. Namun, ia terlanjur jatuh cinta kepada wanita itu

***

3

Akal sehat melahirkan logika. Jatuh cinta meledakkannya.

Puing-puing rasionalitas masih berserakan dalam benaknya. Baskoro masih belum paham dengan apa yang terjadi semalam. Ini era pasca Reformasi. Keberagaman etnis sudah diakui. Kebebasan beraspirasi sangatlah dijunjung tinggi. Bagaimana mungkin etnis hirarki masih ditanamkan dalam sebuah keluarga? Hubungan antar etnis masih dilarang. Generasi muda di dalamnya hanya bisa menerima tanpa perlawanan.

Hari ini, hari ketiga setelah pembicaraan yang sia-sia itu, adalah hari Minggu. Seperti biasa, Baskoro menghadiri Ekaristi pagi bersama ibu. Yang tidak biasa, ia mendatangi patung Bunda Maria yang berada di sisi kiri altar. Ia menyerahkan kebimbangannya ke dalam genggaman Sang Bunda. Ia mengharap pencerahan.

Bunda yang Maha Pengasih itu mendengarkan doa anak-anakNya. Menghantarkan wahyu dalam bentuk sabda yang disampaikan. Kisah Pembaruan Perjanjian di Sikhem[1] dibacakan. Ayat-ayat itu tengah mengajak umat untuk menyangkal diri dan berkontemplasi terhadap agama masing-masing. Inikah yang mereka imani atau hanya sebatas tradisi.

Puing-puing rationalitas Baskoro tergelitik. Membangkitkan kemudaan dalam dirinya. Jiwa muda yang haus akan kebebasan dan pemberontakan. Ia ingin mengajak wanita pujaannya melawan tradisi yang dianggapnya sudah batil. Namun, ia ingat akan perbedaan usia yang terbentang. Dia dan wanitanya muda pada zaman yang berbeda. Ia muda pada saat kebebasan menuntut perjuangan, sedangkan wanita itu muda pada suatu era dimana kebebasan sudah kebablasan. “Saat ini, masih tersisakah hasrat perjuangan dan pemberontakan pada anak muda zaman sekarang? Hati kecilnya bertanya.

Biasanya ia akan mencemooh. Kaum muda zaman sekarang cenderung manja. Era Reformasi telah menyuguhi mereka arus informasi yang tak terbatas dari pelbagai negara. Sayangnya, ketersediaan itu justru melemahkan nalar mereka. Mereka sekarang menjadi latah terhadap budaya luar. Tak ada lagi rasa bangga terhadap Tanah Air ini. Apalagi keinginan untuk memajukannya. Kebebasan dan keberagaman yang diperjuangkan hanya melahirkan sekularisme yang melunturkan budaya leluhur. Penggunaan Bahasa Indonesia secara murni dianggap sudah ketinggalan zaman. Percakapan sehari-hari harus melibatkan bahasa asing. Seperti yang kerap dilakukan pujaan hati. Akan tetapi, secara bersamaan mereka tidak kuasa melawan tradisi. Ada standar ganda di sini.

Namun, Baskoro sedang jatuh cinta. Cinta itu memaafkan. Seperti cinta Allah kepada umatNya yang rela menebus dosa mereka melalui PutraNya[2]. Ia memahamkan itu dari sabda kedua Ekaristi.  Maka, ia pun mengesampingkan logikanya dan mencoba memahami relung pikiran wanita pujaannya.

Hari ini, hari ketiga setelah pembicaraan yang sia-sia itu, Baskoro sadar ia telah berusia dan zaman telah berubah. Ia pun mulai menyangkal logikanya dan berusaha memahami dunia yang telah lama ia tinggalkan. Dunia kaum muda di mana di dalamnya terdapat sosok yang ia puja.

***

4

Apakah patuh pada tradisi adalah wujud dari pemberontakan itu sendiri? Bisikan hati membangunkan Baskoro dari tidurnya. Saat itu fajar masih terlelap. Akan tetapi, suara hati mengajaknnya bercakap-cakap.

Baskoro mengernyitkan dahi.

Hati (H): Setiap jiwa muda merindukan kemerdekaan dari suatu hal. Mereka akan memberontak kepada sesuatu. Saat kau muda, bangsa ini menuntut kemerdekaan dari pihak otoriter. Sekarang, kemerdekaan sudah kebablasan.  Setiap warga bisa menyuarakan apa saja yang ada di kepala mereka tanpa mempertimbangkan keabsahannya. Apalagi dampaknya pada lingkungan sekitar. Hampir setiap hari unjuk rasa terjadi dimana-mana. Permintaan mereka juga semakin absurd. Bahkan, tak jarang mereka melibatkan kekerasan. Mereka menjadi teroris di negerinya sendiri. Banyak kaum muda zaman sekarang merindukan ketenangan. Mereka memberontaknya dengan diam dan patuh pada aturan pihak penguasa. Pada wanitamu, orang tua dan tradisi yang ditanamkan adalah penguasanya.

Baskoro (B): Bukankah itu berarti sama saja kita kembali ke titik awal? Perjuangan para pahlawan Reformasi menjadi sia-sia.

H: Kau pasti merujuk pada keberagaman etnis yang akhir-akhir ini membuatmu gamang?

Baskoro tersenyum getir.

H: Jika kau telusuri lagi, keberagaman yang diperjuangkan adalah yang formalis. Keberagaman yang mengutamakan bentuk-bentuk material. Misalnya, penempatan etnis minoritas dalam pemerintahan, pembangunan gedung dengan sentuhan etnis tertentu, penggunaan berbagai bahasa dalam suatu institusi formal seperti sekolah. Sebenarnya tak ada perubahan yang spiritual di sana. Cara pandang mereka masih sama. Etnis hirarki masih dipertahankan.

Penjelasan itu masuk akal, pikirnya. Baskoro teringat akan bangunan berwarna abu-abu yang dilihatnya Sabtu malam lalu. Perjuangan para Pahlawan Reformasi itu hanya dimaknai sebatas bongkahan batu. Batu kelabu yang angkuh. Namun, ia tidak hanya berhenti sampai di situ. Baskoro yang sedang jatuh cinta, berusaha memaknai tradisi (yang menurutnya sudah tidak relevan) itu lebih dalam.

Hari ini, hari keempat setelah pembicaraan yang sia-sia itu, kasmaran yang meledak-ledak telah membuat suara hati Baskoro bergejolak. Menggelitik sisa-sisa akal sehat untuk berkolaborasi. Menyingkap sesuatu yang tersembunyi di balik sebuah tradisi.

***

5

Jika kau sedang jatuh cinta dan tak ingin terkesan alay, ingatlah tentang Baskoro. Seorang putra Jawa yang telah meninggalkan bangsanya semenjak debu Reformasi berderu. Cintanya yang gundah pada wanita Tionghoa telah membuatnya meninjau kembali kisah diskriminasi etnis tersebut dalam sejarah Indonesia, bahkan Nusantara. Sejarah yang ia tinggalkan seiring perjalanannya menuju kedewasaan.

Hari ini, hari kelima setelah pembicaraan yang sia-sia itu, Baskoro menyisihkan satu hari cutinya untuk menyingkap misteri dari sebuah tradisi. Cinta itu memang memaafkan dan perlu pengorbanan. Seperti cinta Allah kepada umatNya. Bukankah itu yang ia pahami dari Ekaristi pada hari Minggu lalu?

Pagi itu, cercahan sinar mentari menyambar permukaan gedung-gedung yang menjulang dengan gagah dari dalam tanah ibukota. Keangkuhan sang gedung untuk mempertahankan kedudukannya memecahkan cercahan sinar tersebut. Menghasilkan pijaran cahaya panas yang menyilaukan mata.

Baskoro menyipitkan matanya saat sinar itu mengenai dirinya. Ini kali pertama ia menuju Stasiun Kota menggunakan transportasi umum. Tanpa memerlukan waktu yang lama, ia segera berjalan meninggalkan stasiun dan menuju kawasan Kali Besar, di mana sungai Ciliwung mengalir. Sungai tersebut merupakan jalur emas bagi perdagangan Batavia pada zaman pemerintahan Hindia Belanda. Baskoro ingin memotret tempat bersejarah itu.

Baca juga: Pho(ne)tography

Saat ia menapakkan kaki di tepi jembatan sungai tersebut, pesing dan bau sampah segera menyergap indra penciumannya. Ia menghela nafas panjang. Ia tak percaya bahwa tempat yang memiliki nilai penting dalam sejarah, harus berakhir menjadi gunungan sampah yang tak terawat. Ia ingin mengutuk negeri ini dan janji-janji penguasa negara yang tak pernah terpenuhi. Namun, ia sedang jatuh hati dan penuh kasih. Ia hanya bisa iba dengan pemandangan di hadapannya.

Matanya tertahan pada sebuah bangunan dengan gradasi merah dan sentuhan Eropa Tionghoa. Ia segera mendekati bangunan itu. Sebuah pintunya terbuka. Baskoro melangkah masuk. Sebuah aula seluas tiga buah rumah berlantai tiga menghentikan tatapan matanya. Pada langit-langit aula, tergantung lampion-lampion merah dengan garis keemasan. Seketika, ia teringat akan bangunan abu-abu yang angkuh itu dan hendak beranjak ketika sebuah suara menyapanya.

“Selamat datang di Toko Merah,” ucap seorang satpam yang rupanya telah memperhatikan keberadaannya.

Toko Merah
Toko Merah, salah satu saksi bisu peristiwa pembantaian terhadap etnis Tionghoa pada era kolonial.

Menangkap keheranannya, satpam itu menjelaskan bahwa Toko Merah adalah salah satu situs sejarah di Jakarta. Bangunan yang sudah berusia hampir tiga ratus tahun itu adalah saksi bisu dari pembantaian orang Tionghoa pada zaman pemerintahan kolonial. Peristiwa itu dipicu oleh represi pemerintah dan kemerosotan ekonomi, seperti yang terjadi tepat sebelum Reformasi. Sekitar sepuluh ribu warga keturunan Tionghoa tewas dibunuh pada saat itu. Sungai Ciliwing yang mengalir di depan dipenuhi oleh darah korban yang tewas saat mencoba meninggalkan kota.

Satpam itu menanyakan apakah ini kali pertama Baskoro mengunjungi tempat ini. Baskoro mengiyakannya.

Naik Transjakarta,” ucapnya.

“Lewat Glodok?” Satpam itu kembali bertanya. Baskoro mengangguk.

Satpam itu menambahkan bahwa daerah tersebut adalah tempat pengasingan orang Tionghoa pasca pembantaian besar-besaran itu. “Untuk meninggalkan Pecinan, orang Tionghoa harus melalui proses yang sangat rumit,” ujarnya.

Baca juga: Surat untuk Baskoro

Baskoro terdiam. Ia mengamati bangunan tersebut dan memotret beberapa sudut ruangannya. Perlahan-lahan ia melihat gradasi warna bangunan tersebut luntur dan melebur menjadi satu pada lantai bangunan. Menjelma serupa warna merah darah yang masih segar dan begerak mendekatinya. Baskoro segera mengucapkan terima kasih dan meninggalkan bangunan. Cairan serupa darah itu mengalir mengikutinya dan bermuara di sungai. Baskoro segera meinggalkan tempat itu dan menuju Glodok. Bau tak sedap kembali menyergap indra penciumannya. Ia mempercepat langkah menuju Pecinan.

Lorong itu sempit, pada sisi kiri dan kananya terdapat etalase tempat barang dagangan diletakkan. Buah-buahan segar, aneka kudapan, pakaian anak dan dewasa, perkakas rumah tangga, serta peralatan elektronik tertata di atas rak-rak yang tersedia. Baskoro terus berjalan melintasi lorong tersebut sambil memiringkan badannya ke kiri dan ke kanan. Ia berusaha mencari celah untuk terus melangkah sambil mengamati sisi kiri dan kanan. Aneka dialek Tionghoa tertangkap indra pendengarannya.

Langkahnya terhenti oleh gumpalan asap yang membawa aroma campuran biji cemara, cengkeh, cendana, pinus, dan melati yang berasal dari sebuah kedai. Dari beranda, nampak seorang nenek sedang bersembahyang. Baskoro memperhatikan perempuan yang telah melewati paru baya itu.

 “Semua masakan di sini tidak Halal, Mas,” tutur sang nenek.

“Saya Katolik, Tante.” Baskoro menjawab sambil melangkah masuk. Nenek itu menaikkan sepasang alisnya.

Baskoro memesan makanan dan memotret interior kedai. Matanya mengarah pada foto seorang remaja putri yang terletak di atas meja. Ia teringat wanita pujaannya.

Lani, anak tunggal saya.” Sang Nenek membuka suaranya sambil membawakan makanan. “Ia meninggal waktu kerusuhan tahun 98.”

Segerombolan pemuda datang dengan membawa kayu dan lempengan besi. Mereka memaksa masuk rumahnya pada saat itu. Mereka mengambil barang-barang dan membawa Lani. Suaminya meninggal diamuk masa pada saat kejadian itu berlangsung, sementara jasad Lani baru ditemukan beberapa hari kemudian.

Baskoro termangu mendengar cerita itu. Tujuh belas tahun yang lalu Baskoro meninggalkan negaranya. Ia terlepas dari perjalanan bangsa yang kebanyakan tertutup tirai gelap propaganda yang menyebabkan dirinya kehilangan wajah bangsanya sendiri.

Ia segera menghabiskan hidangan yang tersaji, membayar dan mengucapkan salam kepada sang nenek. Sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat itu, ia menatap kedai tadi dari kejauhan.

Cahaya matahari masih kembali menyilaukan mata saat ia meninggalkan lorong tersebut. Hanya saja dari arah yang berbeda. Ia bergegas melangkahkan kaki kembali ke stasiun. Baskoro terus berjalan sambil mencari celah untuk melangkah di antara desakan arus manusia.

Malam harinya, ia memperhatikan potret yang ia ambil siang tadi. Berusaha mengaitkan dengan kepingan cerita yang ia terima saat membidiknya. Sekarang ia mengerti. Ada tragedi di balik setiap tradisi. Seperti yang pernah ia ketahui sebelumya dari seorang teman, ada seorang Jendral yang mati bunuh diri di balik perayaan Peh Cun. Kini, ia mengerti bahwa di balik etnis hirarki, ada represi dan pembantaian massal yang terjadi. Suasana represif itu sudah berlangsung sejak hampir tiga ratus tahun lalu. Andai saja ia menyadari semua itu sejak awal sebelum dirinya terjebak dalam prasangka dan logikanya sendiri.

Hari ini, hari kelima setelah pembicaraan yang sia-sia itu, sebuah kolaborasi antara cinta dan logika terjadi. Melahirkan pemahaman baru akan sebuah tradisi yang nampaknya tak relevan lagi.

***

6

Lempengan besi itu menghantam tubuhnya hingga tersungkur ke lantai. Ia mencoba kembali berdiri, tetapi sebatang kayu menghantam pipinya. Cairan darah mulai menetes membasahi lantai. Baskoro terbangun dengan ngilu di bagian tulang rusuk dan pening di kepala akibat sinar matahari serta desakan manusia yang mengenainya kemarin. Ia sadar, sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan luka yang dirasakan oleh sang nenek yang ia temui dan seluruh keturunan Tionghoa yang hidup dalam tekanan di negeri ini. Luka itu, luka wanita pujaannya jua, sudah meradang. Debu Reformasi sekalipun tak sanggup menyembuhkannya. Oleh karena itu, etnis hirarki tetap ditanamkan. Baskoro sudah paham.

Bunyi notifikasi telepon genggam menariknya kembali kepada kesadaran. Sebuah pesan singkat dari seorang kawan ia terima. “Selamat hari jadi. Semoga ada balasan dari pujaan hati. #DoaPagi”

“Terima kasih atas doanya. Saya ikhlas saja,” balasnya singkat.

Hari ini, hari keenam setelah pembicaraan yang sia-sia itu, Baskoro merayakan hari jadi. Pada perayaan yang ke tiga puluh tujuh itu, ia merayakannya dengan pemahaman baru. Pemahaman akan tradisi yang menyimpan tragedi. Tragedi yang sering dianggap berlalu seiring debu Reformasi yang berderu. Meninggalkan luka yang menjelma trauma bagi keluarga dan seluruh warga Tionghoa yang tersisa, termasuk wanita yang ia kasihi jua.

Kasihnya kepada wanita itu begitu besar seperti kasih Allah kepada umatNya yang penuh pengorbanan. Hari ini, hari keenam setelah pembicaraan yang sia-sia itu, pemahaman baru akan tradisi dan cinta kasih telah menghantarkan Baskoro pada keikhlasan hati. Memerdekakan wanita pujaan untuk menambatkan hati pada tempat yang tidak sarat tragedi.

Jakarta, Agustus – September 2015

***

[1] Yosua 24: 1-18

[2] Efesus 5: 21-32

 

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

Save

17 COMMENTS

  1. Wow, jujur saya salut membaca cerpen ini hingga selesai. Tidak banyak blogger yang menulis cerpen yang bagus dan hari ini saya sedang membaca salah satu cerpen di blog yang bagus.
    Penulisan dan tata bahasa sangat baik sesuai PUEBI. Semanga, ayo dibuat buku

  2. Benteng menjulang yang kukuh itu bernama tradisi. Kak, ayoo bikin buku. Suka sekali dengan cerita ini. Aku berasa ikut menemani Baskoro ke Toko Merah. Aku terhanyut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here