Meniti Jejak Alexa di Anjani

13
119

“Masih kuat, Lex?” pertanyaan Berto segera membawa Alexa kembali pada kesadaran.

“Masih kuatkah aku?” batinnya sembari masih termangu.

Udara sekitar sangat tipis dan kering. Alexa menghentikan langkah untuk mengejar napasnya. Perjalanan dari Plawangan Sembalum menuju puncak Anjani sungguh menguras energi. Ia telah berjalan kaki selama tiga jam hanya untuk melewati tanjakan beralaskan batu kerikil dan pasir halus sejauh tiga kilometer. Ia mengangkat wajah untuk menghirup oksigen yang semakin jarang. Di hadapannya kabut subuh membentang bagaikan layar pertunjukan. Adegan Ibu yang tengah mengompres lebam pada tubuhnya seperti ditayangkan dalam adegan terpotong-potong. Alexa tertegun sejenak sebelum memejamkan mata. Saat sepasang mata sipit itu kembali terbuka, ia mendapati tatapan nanar Ibu saat menyaksikan Ayah meninggalkan rumah bersama wanita yang lebih muda

“Masih kuatkah aku?” batinnya lagi sembari terus menatap lembaran kabut yang kini telah membisu. Di baliknya, tersembunyi Puncak Anjani yang akan menjadi tujuan Alexa untuk mengakhiri hidup. Sementara angin yang berhembus kencang mulai mengombang-ambingkan tekadnya. Ia segera berjalan menghampiri sebuah batu dan menyandarkan tubuh. Aneh. Mau mengakhiri hidup saja upayanya harus sesulit itu.

Alexa takut jika rahasianya diketahui. Selama ini ia selalu menampilkan diri sebagai sosok yang mandiri dan tangguh. Sebagian besar harinya ia habiskan untuk bekerja dari pagi hingga tengah malam. Di usia yang kini menginjak tiga puluh, ia telah berhasil mendirikan usahanya sendiri. Waktu luang yang ada, ia gunakan untuk berolahraga dan mendaki puncak-puncak gunung tertinggi. Hidup yang penuh dengan tantangan dan risiko meregang nyawa memang. Namun, itulah yang sebenarnya akhir-akhir ini ia inginkan. Menyudahi hidup yang penuh dengan lika liku seperti jalur Sembalun yang ia lalui saat mendaki Gunung Rinjani.

Pada awal pendakian, para pendaki dihadapkan pada jalan setapak berkelok yang membelah persawahan dan padang rumput yang dikelilingi perbukitan. Sejauh mata memandang hanya ada beberapa ekor sapi yang tak peduli dengan keberadaan pendaki. Seperti Alexa yang tak mengindahkan perasaannya kepada seseorang yang beberapa tahun belakangan telah mengisi hari-harinya. Segenap tenaga ia kerahkan untuk membangun kerajaan kecilnya. Akan tetapi disela-sela kesibukannya, Alexa masih menyempatkan diri untuk meminta tumpangan dari sosok yang telah mencuri perhatiannya. Ia seperti gagal untuk belajar dari masa kanak bahwa kekeringan kasih sayang yang ia rasakan lantaran Ayah yang berpaling dan Ibu yang selalu sibuk, hanya akan membuatnya semakin mendambakan semua itu. Waktu lampau yang kerap ia habiskan untuk membaca buku-buku sejarah di perpustakaan sekolah tak mampu menghilangkan kerinduan dirinya akan kehadiran kedua orang tuanya.

Alexa yang tengah limbung akhirnya harus tersandung batu masa lalu. Rasa takut untuk memulai hubungan asmara telah membuatnya menjauhkan diri dari lelaki yang ia kagumi ini, tetapi ia tak mampu menghentikan pertumbuhan rasa yang telah memenuhi benaknya. Daya konsentrasinya pun menurun. Kerajaan yang tengah susah payah ia bangun akhirnya runtuh seperti para pendaki yang jatuh tersungkur lantaran lengah saat meniti tujuh bukit yang harus dilalui. Persaingan usaha yang semakin ketat luput dari perhatiannya. Saat pendapatan usaha tak sanggup lagi menutupi besarnya pengeluaran lantaran jumlah pelanggan yang semakin berkurang, ia memutuskan untuk mengakhiri semuanya, termasuk hidupnya sendiri.

Maka tepat pada hari jadinya yang ke-33, ia memutuskan untuk mengakhiri hidup di Puncak Anjani. Sepertinya ia sudah tak sanggup lagi memikul beban hidupnya. Ia sudah terlampau lelah dengan masa lalu yang penuh dengan luka dan air mata. Tak tersisa sedikit pun tenaga untuk menghadapi kisah cinta dan cita yang serupa. Dan aku baru mengetahui semua itu setelah membaca suratnya yang tertuju kepadaku.

***

Semoga dirimu dalam keadaan baik saat membaca tulisan ini, Raf.

Aku telah tiada saat surat ini berada dalam genggamanmu. Bukan sekadar menghilang dari kehidupanmu; tetapi seluruh jiwa, raga dan keakuanku telah lesap ke dalam keberadaan alam. Tanah merah basah yang adalah inti dari manusia itu sendiri, tak terkecuali diriku.

Aneh. Aku terkenang dirimu justru saat diriku tengah berada di persimpangan hidup dan maut. Menanti apakah hidup akan berlanjut atau maut bakal menjemput. Mungkin karena kehadiranmu dalam hidupku yang juga telah mengantarku pada suatu persinggahan. Kehadiranmu telah memberiku sedikit jeda dari trauma masa silam, Raf. Walau hanya sesaat.

Semoga dirimu masih ingat secuil kisah yang pernah kuceritakan itu. Papaku pergi meninggalkan Mama demi wanita yang lebih muda. Meninggalkan sang istri untuk bekerja semenjak subuh hingga larut demi menyambung hidup.

Kepergian Papa telah meletakkan dasar-dasar pengetahuanku tentang suami, lelaki yang suatu saat akan kunikahi. Sementara kehidupan Mama setelah perceraiannya adalah ingatan pertamaku tentang dampak pernikahan setelah pasangan berkhianat. Pemikiran-pemikiran itu begitu mapan terpatri dalam benak hingga aku percaya pernikahan identik dengan luka dan air mata. Aku sungguh tak ingin terlibat di dalamnya. Jangankan menikah, untuk jatuh cinta saja aku enggan.

Pemikiran itu mungkin mengendap ketika aku bertemu dengamu. Apalagi saat dirimu dengan sabar memastikan aku telah memasuki rumah sebelum kau beranjak pergi, atau ketika dengan setia kau mendampingi mamamu menghadiri Ekaristi setiap Minggu pagi; aku merasakan ada beban yang tiba-tiba terlepas dari pundakku.

Bahuku yang telah lesu kujatuhkan seketika. Menggertakkan sesuatu dalam diriku. Sesuatu yang telah kukuburkan pada liang terdalam kenangan, tetapi sebenarnya, sangat rentan. Puing-puing rasa rendah diri atas kelainan fisikku itu mulai berserakan di dalam benak. Ingatan akan diriku yang sering menjadi bahan olok-olok semasa SD karena cacat, dan kerap dicampakkan pacar karena kelainan fisik atau perceraian orang tuaku menjejal seluruh relung hati dan pikiran. Semua itu membuat diriku takut, Raf. Trauma masa lalu itu menjelma pucuk belati yang menudingku tak patut dikasihi.

Diriku yang bimbang pun bergerak tak tentu arah. Mendaki puncak-puncak tertinggi di seluruh pedalaman Indonesia. Berharap pengetahuan baru akan budaya dan sejarahnya mampu menggerusmu dari benakku. Sayangnya, upaya itu gagal. Maka akhirnya aku menampik rasa yang mulai tumbuh dalam diriku. Bersikap pongah saat sedang, bersamamu walaupun sebenarnya cara itu tak berjalan terlalu mulus.

Raf, ragaku mungkin telah banyak menjelajahi negeri ini untuk memahami cikal bakalnya. Namun, aku masih tak mampu berdamai dengan sejarah hidupku. Aku masih dikuasai oleh egoku sendiri. Ego yang menjelma trauma akan masa lalu dan rasa takut jika akhirnya gayung tak bersambut. Rasa sayangku kepadamu harus mencicipi pahitnya masa silamku.  Mencibir ucapanmu dan membuatmu merasa tidak nyaman dengan keberadaanku, padahal sering kali akulah yang meminta waktumu.

Puncak dari semua itu adalah percakapan terakhir kita sekitar setahun lalu. 19 May 2016. Ketika dalam perjalanan pulang dirimu sempat bercerita tentang pendakianmu ke Papandayan. Saat itu aku malah mencela pendakian pertamamu dengan membandingkan detail perjalananmu dengan apa yang menurutku lebih baik. Aku bahkan tak sempat untuk bertanya bagaimana perasaanmu tentang perjalanan tersebut.

Yah… Masih ada pergulatan dalam diriku sendiri, Raf. Dan aku tak pernah menyadari hal itu sebelum berjumpa denganmu. Saat aku tersadar, aku justru telah dikalahkan oleh kepongahanku sendiri. Kau tak sudi bertemu denganku lagi.

Namun terlepas dari semua itu, aku bersyukur atas perjalanan kesadaran ini, Raf. Suatu perjalanan yang membuatku berani menyangkal diri; mengakui dan menerima kerentananku sendiri; serta bersikap jujur tentang semua ini. Dan ini, tidak mungkin terjadi seandainya aku tak pernah bertemu denganmu.

Hence, allow me to extend my gratitude towards you, Raf. Thank you for stepping into my life.  And I appreciate you for opening my heart, and expanding my horizon of thought these past three years. Thanks for this marvelous journey. Even though the ending is not what I have always dreamed of, I still would not trade this for anything else.

Please do accept my sincere apology for all the wrongdoing I have done towards you. For those are because I care too much for you that it starts to terrify me.

May God bless you and your life always. I’ll always care for you even from the distance.

Alexa

17 September 2017

***

 “Masih kuat, Raf? Setengah jam lagi sampai puncak,” ujar Berto, salah seorang pemandu kami dalam pendakian Rinjani kali ini.

“Duluan aja. Temenin Icha dan yang lainnya, Ber.”

“Bareng aja, Raf.”

Aku segera memulai kembali langkahku dengan napas yang tinggal satu-satu. Saat kami menapaki Puncak Anjani, kabut tipis tengah beranjak menjauhi kami. Langit yang membiru dan kaldera yang dipenuhi hamparan debu mulai tersingkap. Berto segera melangkah mendekati kawah itu dan menatapnya dengan takzim.

“Tempat apa ini, Ber?”

“Namanya Segara Muncar, Raf. Ingat Alexa, peserta yang halusinasi dan akhirnya meninggal karena terjatuh di sini? Beberapa pendaki yang berada di sekitarnya pada saat kejadian, sempat mendengar Alexa tengah bergumam kalau ia melihat dan ingin menyusul ibunya di seberang kawah.”

Segara Muncar terlihat dari Puncak Gunung Rinjani.
Penduduk setempat percaya ada Ratu Jin yang tinggal di tempat ini.
Sumber: Koleksi Pribadi

Aku hanya mengangguk dalam bisu.

“Kalau ada apa-apa bilang, Raf. Jangan melamun atau diam saja. Saya jadi takut. Kemarin itu, Alexa sering melamun dan diam saja kalau ditanya.”

Berto menepuk bahuku sebelum beranjak. Dan aku merasakan genggaman tanganku pada surat Alexa, yang masih tersimpan dalam saku, menguat. Baru kusadari bahwa ia menulis surat itu sehari setelah pernikahanku dengan Icha.

Jakarta, Mei 2018

***

#katahatichallenge #katahatiproduction #harike-3

Catatan Pengarang:

  1. Terima Kasih kepada rekan-rekan Wisata Gunung yang telah menyertai saya dalam Pendakian Gunung Rinjani pada tanggal 19-24 September 2017 lalu. Karya fiksi gunung lainnya yang terinspirasi dari perjalanan saya bersama Wisata Gunung adalah “PERTIWI” dan bisa Anda nikmati  dengan mengunjungi tautan ini. Selamat menikmati!
  2. Cerpen ini saya gubah dalam rangka Tujuh Hari Menulis “Katahati Writing Challenge” yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

Save

Save

13 COMMENTS

  1. Salut dengan cerpen ini Kak. Kekuatan penokohan Alexa dan Raf terasa sekali. Aku jadi terhanyut membayangkan Alexa yang kehidupannya sedih, merasa diabaikan sedangkan ada seorang Raf yang menyintainya. Ahh even 4 thumbs up are not enough, boleh pinjem jempol orang untuk cerpen ini?

    • Miss Yun, jari kelingking pun jadi. =) Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca kisah Alexa dan Raf, ya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here