Luci dan Cinta yang Tak Pernah Sia-sia

4
87

Astagfirullah!” Widya tercekat ketika Luci menepuk bahunya. Ia segera silangkan tangan di depan dada. Jangan sampai jantung gue ikut copot. Nggak lucu kalau gue harus kehilangan jantung saat tengah membaca buku dengan cover manusia tanpa kepala ini, Widya membatin.

“Lagi baca apa sih sampai serius begitu?” Tanpa memedulikan Widya yang masih terkesiap, Luci segera duduk di hadapannya,  mengambil secangkir kopi pesanan Widya dengan tangan kanannya, dan membalik buku yang sedang Widya baca dengan tangan kirinya.

Cinta Tak Pernah Sia-sia. Wow! Cowok mana lagi nih?”

Widya hanya menghela napas panjang sebelum akhirnya menjawab, “Bisa nggak sih lo sekali-kali serius menanggapi sesuatu?”

“Ini gue serius nanya cowok mana lagi yang bikin lo galau sampai-sampai untuk ketiga kalinya lo baca buku dengan tema percintaan ini?” Luci mendekatkan buku itu ke wajah Widya.

“Ini kumpulan cerpen Agus Noor, cerpenis favorit gue itu, Ci. Dan isinya bukan tentang percintaan seperti yang lo pikirin,” tukas Widya sembari meraih buku itu dari genggaman tangan Luci.

 “Cerita-cerita yang dimuat dalam antologi ini adalah kumpulan cerpen beliau yang pernah terbit di Harian Kompas selama 27 tahun belakangan ini, Ci.”

“Kalau memang sudah pernah terbit di koran, untuk apa lo beli lagi? Bukannya itu sama saja dengan beli barang yang sebenarnya kita sudah punya, ya? Nggak sayang sama duitnya? Mending ditabung buat jalan-jalan,” ujar Luci sambil membuka laptopnya untuk melakukan riset tentang tempat-tempat wisata yang hendak mereka kunjungi pada saat perjalanan ke Solo nanti.

Widya segera menutup layar laptop Luci, sementara sahabat karibnya itu hanya bisa tercenung menyaksikan tindakannya.

“Sebelum lo mulai riset tempat yang Istagram-able, gua kasih tahu apa yang bikin gue suka baca buku ini berulang-ulang.”

Widya melanjutkan, “Membaca kumpulan cerita dalam buku ini bagus untuk memahami perjalanan sejarah Indonesia, Ci.”

“Maksudnya?”

“Ini adalah kumpulan cerpen Agus Noor yang terbit di Harian Kompas dari tahun 1970 hingga 2017 dan disusun sesuai kronologis penerbitan. Pada bagian awal buku ini, romantisme perlawanan terhadap rezim Orde Baru yang kebal terhadap kritik benar-benar kentara. Satir politik digunakan untuk menyentil pemerintah secara lebih halus. Misalnya, pada cerpen “Bapak Presiden yang Terhormat.” Melalui kepolosan tokoh Peang (yang ingin menghadap Bapak Presiden untuk meminta imbalan yang lebih adil atas tanahnya) dan saran-saran Pak RT serta Pak Lurah agar Peang menghentikan niatnya, Mas Agus berusaha menggambarkan kecenderungan pemerintah untuk menghilangkan oknum-oknum yang vokal terhadap mereka. Cerpen “Bouquet” juga menggunakan teknik yang sama untuk mendeskripsikan perlakuan pemerintah kepada siapa pun yang kritis kepadanya. Hanya saja dalam cerpen ini, beliau menceritakannya dari sudut pandang aparat pemerintahan.”

Luci hanya menganggut mendengar penjelasan itu.

“Lalu setelah rezim Orba tumbang, kekerasan yang dulu kerap dilakukan atas nama negara, kini dilakukam atas nama dosa. Tema kekerasan yang dilakukan warga terhadap seorang perempuan yang dianggap telah berzinah, banyak mengisi cerita-ceria Mas Agus pasca Reformasi. Contohnya pada cerpen “Kutukan Kunang-Kunang” dan “Kupu-kupu Seribu Peluru” yang diterbitkan pasca Reformasi 1998.

“Dan tentunya ada juga “Pelancong Kesedihan” yang cocok banget nih buat lo yang suka selfie di mana-mana. Baca, deh. Sementara lo baca, gue nulis dulu. Mumpung ada ide,” Widya segera membuka halaman 129 buku itu dan menyodorkannya kepada Luci.

Luci segera membaca cerpen yang mengangkat sudut pandang penduduk lokal (warga Yogyakarta pasca gempa di tahun 2006) tentang kecenderungan para pengunjung yang gemar mengambil potret kesedihan daerah setempat pasca gempa, tanpa peduli dengan aspek kemanusian di sekitarnya.

“Mungkin para pelancong itu tak tahu lagi bagaimana caranya menikmati hidup yang nyaman tenteram tanpa kecemasan di tempat asal mereka. Karena itulah mereka ramai-ramai ke kota kami: menyaksikan bagaimana perlahan-lahan kota kami menjadi debu. …, lalu  berfoto ramai-ramai di antara reruntuhan puing-puing kota kami.” (Hal 129-130)

Seketika, perasaan bersalah menyergap diri Luci ketika membaca paragraf tersebut. Ia segera membaca lembaran-lembaran lain sebelum akhirnya menutup buku itu dan membuka kembali laptopnya.

“Kok bukunya malah ditutup? Udah selesai baca? Bagaimana menurut lo?”

“Lo sudah selesai nulisnya? Selesaiin saja tulisan lo, nanti kita bahas lagi. Gue mau mulai riset itinerary Solo. Sudah sore.”

“Gue sudah selesai, kok.”

“Bahas itinerary dulu, ya?”

“Ada saran mau ke mana?”

“Waduk Kedung Ombo? Gue jadi penasaran sama tempat itu gara-gara baca kata pengantar pada buku ini.”

Alhamdulillah, doa anak sholeha akhirnya terkabul juga,” jawab Widya sembari terkekeh mendengar ucapan Luci barusan.

Mereka pun akhirnya mulai membahas rencana wisata sejarah dan budaya mereka ke Solo hingga Adzan Magrib berkumandang.

“Gue tinggal Shalat sebentar, ya?”

Luci mengangguk dan membiarkan Widya meninggalkannya untuk beberapa saat. Ia memang perlu waktu sendiri untuk mengolah dan menyikapi segenap rasa bersalahnya yang tak pernah peduli, tetapi kerap mencibir, kekerdilan bangsa ini. Kunjungan ke Waduk Kedung Ombo akan menjadi awal dari perjalanannya untuk lebih mengenal dan memahami tanah kelahirannya itu.

Sepertinya benar kata pepatah bahwa buku adalah jendela dunia dan membaca adalah kuncinya. Membaca beberapa cerpen Agus Noor dalam antologi Cinta Tak Pernah Sia-sia, telah membuka jendela hati dan pikiran Luci akan Tanah Air yang masih belia dan memerlukan banyak bantuan untuk mendewasakan bangsanya. Dan sejak saat itu, kumpulan cerpen yang menjadi favorit sahabatnya sejak pertama kali diterbitkan pada 28 Agustus 2017 lalu, menjadi cinta pertama Luci pada dunia sastra koran. Dan layaknya cinta pertama, buku ini akan terus menghuni tempat yang spesial dalam diri Luci.

 #katahatichallenge #katahatiproduction #harike-1

Jakarta, Mei 2018

***

Catatan Pengarang:

  1. Agus Noor adalah salah satu cerpenis paling produktif Indonesia saat ini. Untuk membaca biografi singkat dan tips menulis yang pernah dibagikan beliau, sila Anda membaca “Tips Menulis Fiksi: Membujuk Rayu Pembaca ala Agus Noor”.
  2. Cerpen ini saya gubah dalam rangka Tujuh Hari Menulis “Katahati Writing Challenge” yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

Save

Save

Save

Save

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here