Jodohku Terhalang Penjual Kerupuk

0
62

Jodoh tak akan pergi jauh ke mana, apalagi saat jodohmu bertubuh semampai (semeter limapuluh jika sedang melambai). Sungguh, tak banyak jumlah meter yang bisa Si Ayang tempuh dalam setengah jam menunggu diriku yang terlambat menjemput. Toh Si Ayang ini bukan atlet lari.

Lima, sepuluh, lima belas menit sudah aku tiba di tempat penjemputan, batang hidungnya kunjung kelihatan. Aku mulai celingak-celinguk. Mau telepon atau mengirim pesan via WhatsAapp, tetapi tak ada sinyal. Rasa takut bercampur dengan gugup. Dua jam lagi rombongan kami sudah harus bertolak dari Basecamp Ranu Pani untuk mendaki Gunung Semeru, tetapi sampai sekarang Si Ayang entah di mana. Padahal perjalanan masih sekitar dua jam lebih sedikit.

***

Seperempat, setengah, tiga perempat jam sudah aku menunggu Mas Widi menjemputku. Sepertinya sebentar lagi aku akan menjelma kerupuk. Walaupun angin lembah masih sabar menghapus lelah, beban keril yang kusandang pada bahu telah membuat tubuh dan raut wajahku tampak kuyu. Cahaya matahari terasa lebih menyengat dari biasanya. Sudah berkali-kali aku menelepon Mas, tapi sepertinya handphone Mas susah sinyal. Padahal dua jam lagi, rombongan pendakian dijadwalkan untuk meninggalkan Ranu Pani, meeting point kami.

“Bapak permisi dulu,” penjual kerupuk pun berlalu membawa pergi sedikit rasa cemas dan lelahku. Di seberang jalan tempat aku menunggu, Mas Widi telah menanti. Ingin rasanya aku menumpahkan sisa-sisa kecemasanku. Aku nggak mau sampai batal merayakan ulang tahunku di Pucuk Tertinggi Pulau Jawa ini, tetapi apa gunanya memaki jika hanya semakin menunda perjalanan kami.

***

Aku masih saja menoleh ke kiri dan ke kanan. Kebingungan mencari Si Ayang. Sampai akhirnya deru motor penjual kerupuk mengantar pandanganku pada sosok mungil yang sedari tadi kucari.

“Kamu  nggak apa-apa, Mas?” Si Ayang segera menyambut kedatanganku dengan suara yang lembut. Puji Tuhan dia tak membisu dan berharap Mas Widi berubah menjadi Mama Luren yang bisa meramal isi kepalanya.

“Aku sudah nunggu kamu di depan warung cat hijau itu, Dik. Sesuai WhatsApp-mu semalam,” jawabku yang masih merasa gugup dan bersalah.

Dia tertawa seraya berkata, “Ternyata sedari tadi kamu dan aku terhalang motor kerupuk ya, Mas.”

Aku hanya menatapnya terperangah sebelum akhirnya ikut tertawa sambil menggandeng tangannya menuju motorku. Kupacu motor itu menuju Basecamp Ranu Pani. Rombongan kami tengah menanti kehadiran kami. Aku pun akhirnya bisa memenuhi janjiku untuk merayakan ulang tahunnya di Puncak Mahameru.

***

Kalau sudah jodoh, dua insan manusia memang pasti akan bertemu, walaupun kadang mereka terhalang penjual kerupuk.

Jakarta, Juni 2018

***

#katahatichallenge #katahatiproduction #harike-4

Catatan Pengarang: Cerpen ini saya gubah dalam rangka Tujuh Hari Menulis “Katahati Writing Challenge” yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

Save

Save

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here