CBSA Celoteh Bunda untuk Sang Anak

5
111

Kepada Anakku yang Tak Akan Pernah Kulahirkan,

Maafkan aku jika aku tak pernah merencanakan keberadaanmu selama ini. Bukan maksudku untuk bersikap posesif dan menjadikan Ayahmu milikku seorang. Bukan pula maksudku untuk bersikap egois dan menghabiskan seluruh penghasilanku untuk menjelajahi seluruh penjuru dunia sendirian.

Nak, saat kuketikkan surat ini, entah sudah berapa tali silahturami terputus hanya karena artikel yang tersebar online. Saat kata-kata ini mulai bermunculan di layar laptopku, entah sudah berapa caci maki terlontar ataupun tertera di media sosial hanya karena judul-judul tulisan dalam jejaring digital.

Andai saja aku punya kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan mencegah semua ini, aku akan pergi ke saat-saat terakhir pemerintahan Orde Lama dan tak akan kubiarkan Orde Baru berhasil menduduki kursi kekuasaan. Kau mungkin akan bertanya, mengapa. Ah, bagaimana bisa kau bertanya jika dilahirkan saja kau tak pernah. Tapi sebaiknya kita tak perlu merisau tentang hal itu. Aku akan tetap menjelaskannya kepadamu.

Nak, pemerintahan Orde Baru terjadi tentu setelah kekuasaan Orde Lama tumbang. Kau tahu bagaimana mereka memperoleh kekuasaannya? Secara paksa, Nak. Dan menurutmu, apa yang bangsa ini dapatkan pada masa pemerintahan Orde Baru tersebut? Sebuah pemerintahan diktator, Nak. Selama 32 tahun berada di bawah rezim tersebut, nalar kiritis dimusuhi dan kebebasan pers dibungkam. Media hanya diperbolehkan menyuguhkan berita yang berpihak kepada pemerintah. Jika ada oknum yang keras kepala dan terus menyampaikan kritik, biasanya dalam hitungan hari mereka telah dinyatakan hilang entah di mana (atau ke mana?). Jujur aku tengah bingung memilih kata-kata yang tepat.

Kau tahu, pada saat aku berada pada usia sekolah, rezim diktator tersebut masih berkuasa. Sistem pendidikan kami dinamakan CBSA. Cara Belajar Siswa Aktif. Namun pada kenyataannya, CBSA tak lebih dari sekadar Catat Buku Sampai Abis. Lalu sebagai seorang siswa, kami hanya perlu menghafal semua informasi yang telah kami catat untuk menjawab soal-soal dalam ulangan. Itu saja. Kami tak pernah dididik untuk paham dan menganalisa informasi yang kami terima. Apalagi mempertanyakan kesahannya.

Aku tak heran jika saat ini, 20 tahun setelah Orde Baru turun dari kursi kekuasaan, bangsa ini tengah menuai apa yang telah ditanam selama rezim itu berkuasa. Ratusan juta jiwa yang telah bosan membaca dan menghafal, tanpa kemampuan menganalisa yang mencukupi. Kalaupun mereka menbaca, mereka tak pernah mempertanyakan mengapa sebuah kalimat/topik menjadi bagian dari sebuah artikel. Apakah ada relevansinya? Jika kalimat/topik tersebut dihilangkan, apakah artikel tersebut masih bermakna sama atau berbeda? Banyak dari mereka membaca demi mencari kata kunci untuk menebar rasa benci dan mencari pembenaran atas pandangan mereka. Pembenaran, Nak. Bukan kebenaran. Permusuhan pun pada akhirnya menjadi tak terhindarkan.

Baca juga: Surat Untuk Baskoro

Aku hanya tak ingin kau tiba di Bumi Pertiwi saat hubungan antar manusia semakin meruncing dan peradabannya kian tumpul. Aku akan merasa bersalah sekali jika membawamu pada dunia yang riuh ini dan merawatmu dengan kecemasan hatiku sendiri.

Pantaskah aku menorehkan Bunda di akhir surat ini?

Jakarta, Juni 2018

***

#katahatichallenge #katahatiproduction #harike-5

Catatan Pengarang: Cerpen ini saya gubah dalam rangka Tujuh Hari Menulis “Katahati Writing Challenge” yang diadakan oleh Kata Hati Kita Production.

Save

Save

Save

5 COMMENTS

  1. Metode pengajaran di sekolah zaman dulu memang hanya searah saja yaitu dari guru ke murid. Jarang sekali ada murid berani mengkritisi atau”adu argumen” dengan gurunya.

    • Betul sekali, Mas Ris. Jika kita berani mengajak diskusisaja, kita disangka tengah menantang atau bersikap kurang ajar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here